Sejarah Berdirinya Negara Depok

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Sejarah berdirinya Negara Depok
Sejarah berdirinya Negara Depok
grosir-buah-surabaya

Banyak orang belum mengetahui bahwa Kota Depok dahulunya merupakan sebuah "negara di dalam negara" yang berdiri di bawah perlindungan pemerintah kolonial Belanda. Wilayah unik ini memiliki presiden, jajaran pejabat pemerintahan sendiri, serta warga negara yang kelak populer dengan sebutan "Belanda Depok". 

Nama "Depok" sendiri diyakini merupakan sebuah singkatan bahasa Belanda, yaitu De Eerste Protestants Onderdaan Kerk yang berarti "Gereja Protestan Rakyat Pertama". Nama ini dipilih karena pendiri wilayah tersebut adalah seorang penganut Protestan yang sangat religius.

​Sosok sentral di balik berdirinya Depok adalah Cornelis Chastelein. Lahir di Amsterdam pada 10 Agustus 1657, Chastelein merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Anthony Chastelein, adalah seorang kaum Protestan (Hugenot) asal Prancis yang mengungsi ke Belanda demi menghindari persekusi religius. 

Di Belanda, Anthony bekerja untuk VOC dan menikah dengan Maria Cruinder, putri Walikota Dordtrecht. Mengikuti jejak sang ayah, Chastelein muda memutuskan berlayar ke Hindia Belanda (Oost Indie) pada awal tahun 1674 dan memulai kariernya di Batavia sebagai pemegang buku (Boekhouder).

​Karier Chastelein di VOC berjalan cukup gemilang. Sembari membangun keluarga bersama istrinya, Catharina Van Vaalberg, ia berhasil naik jabatan menjadi kepala pembelian (Grootwinkelier) pada tahun 1682, hingga kemudian diangkat menjadi saudagar kelas dua (Twede Opperkoopman) di Benteng Batavia pada tahun 1691. Namun, pergantian kepemimpinan VOC dari Yohanes Champhuys ke Willem Van Outhoren mengubah segalanya. 

Chastelein merasa tidak sejalan dengan arah baru VOC yang mulai mengesampingkan misi perdagangan dan agama demi praktik penjajahan yang serakah. Ia pun memilih mengundurkan diri dan beralih menjadi seorang wirausahawan.

​Pada 18 Mei 1696, Chastelein membeli lahan tak berpenghuni seluas sekitar 1.244 hektar di daerah Depok dari Lucas Meur, seorang residen Cirebon. Di tanah luas inilah ia mulai membangun sebuah perkampungan Kristen Protestan. Untuk mengolah lahan pertanian tersebut, Chastelein mendatangkan 150 budak yang berasal dari berbagai daerah seperti Jawa, Bali, dan Sulawesi. Tidak hanya dipekerjakan, para budak ini juga dibekali pendidikan agama Protestan, hingga akhirnya sebanyak 120 budak memutuskan untuk memeluk agama tersebut.

​Sebagai bagian dari proses kristenisasi, Chastelein kemudian menganugerahkan 12 nama marga kepada para budaknya, yaitu Jonathans, Samuel, Laurens, Leander, Bacas, Joseph, Loen, Tholense, Isakh, Jacob, Zadokh, dan Soedira. Keturunan dari 12 marga inilah yang berkembang pesat menjadi warga asli Depok. Meskipun memiliki fisik dan kulit sawo matang khas Indonesia, mereka fasih berbahasa Belanda, menganut agama Kristen, dan mengadopsi gaya hidup kebarat-baratan, sehingga masyarakat luas menjuluki mereka sebagai "Belanda Depok".

​Seiring berjalannya waktu, Depok berkembang menjadi wilayah yang sangat teratur. Chastelein menyusun sistem pemerintahan mandiri dengan mengangkat polisi hingga petugas penarik pajak, di mana ia sendiri bertindak sebagai pemimpin tertingginya. 

Walaupun sistem ini sudah berjalan, pemerintah kolonial Belanda baru resmi mengakui kedaulatan wilayah ini sebagai daerah otonom (negara di dalam negara) pada tahun 1871—jauh setelah Chastelein wafat pada 28 Juni 1714. Pemerintahan mandiri yang bebas dari campur tangan pihak luar ini dikenal secara resmi dengan nama Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. (*)

*) Source : Sejarah Cirebon