Di ruang praktik, saya sering bertemu pasien dengan keluhan yang tampaknya tidak saling berhubungan. Ada yang datang karena mudah lelah, ada yang mengeluh jantung sering berdebar di siang hari, ada yang merasa cepat lupa, sulit fokus, bahkan merasa “badannya nggak enak” tapi sulit menjelaskan di mana letak masalahnya. Setelah dievaluasi ke sana ke mari, jawabannya sering kali sederhana dan agak mengejutkan: kualitas tidurnya memburuk.
Ini menarik, karena banyak orang merasa dirinya “baik-baik saja” selama masih bisa memejamkan mata di malam hari. Padahal tidur bukan sekadar soal mematikan lampu dan rebahan. Tidur adalah proses biologis aktif yang menentukan bagaimana tubuh memperbaiki diri, mengatur hormon, dan menenangkan sistem saraf. Kalau proses ini terganggu, keluhannya bisa muncul ke mana-mana.
Baca juga: GERD Bisa Menyebabkan Kematian? Ini Duduk Perkaranya
Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menyamakan tidur cukup dengan tidur berkualitas. Secara umum, kebutuhan tidur orang dewasa berkisar antara 6 sampai 9 jam per malam. Kalau durasinya kurang dari itu, berdasarkan data yang ada, risiko gangguan kesehatan memang meningkat—mulai dari gangguan konsentrasi, emosi yang lebih labil, sampai risiko penyakit jantung dan metabolik. Tapi durasi saja tidak cukup.
Banyak pasien saya tidur 7–8 jam, tapi bangun dengan badan seperti belum diisi baterai. Di sinilah kita bicara kualitas. Tidur bisa rusak karena sering terbangun, karena napas tersumbat saat tidur, atau karena tubuh sebenarnya tidak pernah masuk ke fase tidur yang benar-benar restoratif.
Gangguan napas saat tidur—yang sering ditandai dengan mendengkur keras, napas berhenti sesaat, atau terbangun dengan rasa tersedak—bukan sekadar “tidur nggak nyenyak”. Secara umum, kondisi ini membuat tubuh berulang kali kekurangan oksigen dan memicu stres internal. Akibatnya, tekanan darah bisa sulit turun di malam hari, jantung tetap bekerja keras, dan pagi hari terasa seperti baru pulang lembur.
Ada juga masalah yang lebih halus tapi sering diremehkan: seseorang terlihat tidur, tapi otaknya tidak benar-benar “masuk tidur”. Tidur normal punya beberapa fase, dari yang ringan sampai fase tidur dalam yang paling memulihkan. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, tubuh perlu mencapai fase tidur dalam tersebut secara cukup.
Masalahnya, banyak kebiasaan modern justru menghambat proses ini. Bermain gawai sebelum tidur, merokok, atau mengonsumsi kopi dan teh beberapa jam sebelum tidur membuat sistem saraf tetap siaga. Secara kasat mata orangnya tertidur, tapi di dalam tubuh, mode “siap tempur” masih menyala.
Dalam kondisi ideal, saat tidur nyenyak, denyut jantung bisa turun hingga sekitar 50–60 kali per menit. Ini tanda tubuh benar-benar beristirahat. Pada orang dengan kualitas tidur buruk, denyut jantung sering tetap tinggi sepanjang malam, seolah-olah tubuh lupa bahwa ini waktunya istirahat.
Baca juga: Berhenti Merokok, Ikhtiar Kecil yang Bisa Menyelamatkan Kepala Keluarga
Di Indonesia, saya sering melihat pola ini pada pekerja yang jam kerjanya panjang, orang tua yang multitasking tanpa jeda, atau mereka yang terbiasa “menyelesaikan hari” dengan rokok dan kopi. Tidurnya ada, tapi istirahatnya tidak pernah benar-benar terjadi.
Saya pernah menemui pasien yang sudah berobat ke mana-mana karena keluhan berdebar dan cepat capek. Obat jantungnya sudah dicoba, hasil pemeriksaan relatif baik. Setelah digali lebih dalam, ternyata tidurnya sering terputus karena mendengkur berat. Setelah masalah tidurnya ditangani, keluhannya jauh berkurang tanpa perlu menambah obat.
Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri. Kita sering sibuk mencari solusi rumit, padahal fondasinya—tidur—belum beres. Kita ingin jantung sehat, pikiran jernih, dan emosi stabil, tapi memberi tubuh waktu istirahat ala kadarnya.
Tidur bukan kemewahan, dan bukan tanda kemalasan. Ia adalah kebutuhan biologis yang menentukan kualitas hidup jangka panjang. Mengabaikannya sama seperti berharap mobil tetap awet tanpa pernah servis, asal masih bisa jalan.
Baca juga: Tidak Semua Penyempitan Jantung Harus Dipasang Ring
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menawar-nawar waktu tidur, dan mulai menghormatinya. Bukan hanya berapa jam kita tidur, tapi bagaimana kita tidur.
Semoga kita semua diberi kesadaran untuk menjaga amanah tubuh ini dengan lebih bijak. Mari mulai dari hal yang paling dasar: tidur yang cukup dan berkualitas. Jika tulisan ini terasa relevan, silakan dibagikan—siapa tahu ada orang terdekat kita yang sebenarnya lelah, tapi belum sadar kenapa. (*)
*) Penulis : Dr Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP (Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah)
Editor : Bambang Harianto