GERD Bisa Menyebabkan Kematian? Ini Duduk Perkaranya
Beberapa hari terakhir, linimasa ramai. Ada kabar seorang selebgram meninggal dunia dan disebut-sebut penyebabnya adalah GERD. Seketika, banyak orang yang sebelumnya santai dengan “maag naik” mendadak panik. Saya pun membuat video untuk meluruskan hal ini—silakan ditonton dan dibagikan kalau dirasa bermanfaat—karena isu seperti ini tidak boleh dibiarkan berkembang setengah matang. Takutnya bukan makin sehat, tapi makin salah paham.
Kesalahpahaman pertama yang perlu kita luruskan: GERD itu penyakit umum, dan pada sebagian besar orang tidak mematikan. GERD adalah kondisi ketika asam lambung sering naik ke kerongkongan, menyebabkan nyeri ulu hati, dada panas, rasa asam di mulut, atau dada terasa tidak nyaman. Banyak orang hidup puluhan tahun dengan GERD dan baik-baik saja, asal tahu cara mengelolanya.
Mengapa sekarang GERD terasa “semakin sering terdengar”? Salah satu jawabannya sederhana: obesitas meningkat. Secara umum, lemak di perut meningkatkan tekanan di rongga perut sehingga asam lambung lebih mudah naik. Ditambah pola hidup modern—makan besar malam hari, kopi berlebihan, begadang, stres—GERD jadi tamu rutin di banyak rumah tangga Indonesia.
Ada beberapa hal yang memperburuk GERD. Makan berlebihan, terutama berlemak dan pedas; langsung berbaring setelah makan; merokok; konsumsi alkohol; serta stres yang tidak dikelola. Semua ini membuat katup antara lambung dan kerongkongan “malas bekerja”. Jika dibiarkan terus-menerus, keluhan bisa makin sering dan mengganggu kualitas hidup.
Lalu, apakah GERD bisa berujung kematian? Bisa, tapi sangat jarang. Biasanya bukan karena “asam lambung biasa”, melainkan karena komplikasi tertentu. Misalnya aspirasi berat (asam masuk ke paru), perdarahan hebat akibat luka di kerongkongan, atau gangguan irama jantung yang dipicu kondisi ekstrem. Ini bukan kejadian sehari-hari, dan hampir selalu ada faktor pemberat yang menyertai.
Ada beberapa kondisi yang sering disebut sebagai “bahaya GERD” dan perlu diwaspadai: muntah darah atau BAB hitam, nyeri dada hebat yang tidak membaik, sulit menelan, penurunan berat badan tanpa sebab, dan sesak berat. Jika ini muncul, jangan menunda—perlu evaluasi medis segera.
Namun ada satu poin yang sering luput dan justru paling berbahaya: gejala GERD bisa mirip dengan penyakit jantung. Nyeri dada, rasa terbakar, mual, keringat dingin—semuanya bisa tumpang tindih. Pada orang dengan faktor risiko seperti usia di atas 40 tahun, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, perokok, atau riwayat keluarga penyakit jantung, keluhan “seperti GERD” tidak boleh langsung diasumsikan GERD.
Sebagai dokter jantung, saya sering menemui pasien yang datang terlambat karena mengira “cuma asam lambung”. Padahal yang terjadi adalah serangan jantung. Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan: nyeri dada bukan keluhan sepele, terutama bila disertai sesak, keringat dingin, atau nyeri menjalar ke lengan dan rahang.
Penanganan GERD sendiri sebenarnya sederhana jika dilakukan konsisten. Atur pola makan, porsi kecil tapi sering, hindari makan 2–3 jam sebelum tidur, turunkan berat badan bila berlebih, berhenti merokok, kelola stres, dan minum obat sesuai anjuran dokter bila perlu. Banyak kasus membaik hanya dengan perubahan gaya hidup.
Pelajaran penting dari kehebohan ini bukanlah “GERD mematikan”, melainkan jangan meremehkan gejala dan jangan salah menilai penyebabnya. Kita perlu tenang, tapi juga waspada. Panik tidak menyembuhkan, meremehkan juga berbahaya.
Jadi, kalau Anda punya keluhan mirip GERD, kelola dengan benar. Tapi kalau ada faktor risiko jantung atau gejalanya tidak biasa, jangan ragu periksa. Kesehatan bukan soal menebak-nebak dari media sosial, tapi soal memahami tubuh sendiri dan mencari pertolongan tepat waktu. (*)
*) Penulis : Dr Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP (Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah)
Editor : Bambang Harianto