Abu Bakar bukan berasal dari keluarga berada. la bahkan putus sekolah saat kelas 5 Sekolah Dasar setelah ayahnya meninggal dunia. Demi menghidupi ibu dan lima saudaranya, Abu merantau ke Jakarta dan bekerja mulai dari kuli bangunan hingga buruh kasar.
Di usia 17 tahun, hidupnya berubah saat mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran di Kemang, Jakarta Selatan. Dari dapur restoran itulah perjalanan bisnis Abuba Steak dimulai.
Dari Tukang Cuci Piring Belajar Bisnis Restoran
Awalnya Abu hanya mencuci piring. Namun beberapa bulan kemudian, ia dipercaya masuk ke dapur untuk memasak. Saat restoran tempatnya bekerja bangkrut, Abu tidak menyerah. la terus berpindah-pindah kerja demi belajar dunia kuliner.
la sempat bekerja di Hotel Sahid, Hotel Kemang, hingga restoran Ponderosa (Amigos). Belasan tahun di dapur membuatnya belajar banyak tentang masakan lokal hingga Western food. Dari situ, kemampuan memasaknya mulai terbentuk.
Belajar Steak Dari Chef Asal Texas
Tahun 1987, Abu bekerja sebagai juru masak di perusahaan pengeboran minyak lepas pantai di Natuna. Di sana, ia bertemu chef asal Texas, Amerika Serikat, yang mengajarinya membuat burger dan steak. Dari pengalaman itu, Abu melihat satu peluang : Steak tidak harus mahal dan berukuran besar seperti di restoran Barat.
Ia membayangkan steak yang lebih sederhana, lebih kecil, dan bisa dijual untuk pasar Indonesia. Ide itu kemudian menjadi fondasi lahirnya Abuba Steak.
Saat Orang Jual Pecel Lele, Ia Nekat Jual Steak
Setelah kontraknya di perusahaan minyak selesai, Abu kembali ke Jakarta dalam kondisi menganggur. Saat itu, bisnis kuliner kaki lima didominasi pecel lele dan lalapan. Masalahnya, Abu tidak bisa memasak itu. Yang ia kuasai hanya steak.
Dengan modal nekat, ia membuka warung tenda kecil di Kemang, tapi menjual steak. Keputusan yang saat itu dianggap tidak lazim.
“Dulu, yang banyak dijual pecel lele dan lalapan. Tapi, saya tidak bisa membuatnya. Saya bisanya membuat steak," kata Abu Bakar, Founder Abuba Steak.
Modal Rp3 Juta Lahirkan Abuba Steak
Modal awal Abu hanya sekitar Rp 3 juta. Sebagian dari tabungan pribadi, sebagian lagi hasil pinjaman. Warung pertamanya berdiri di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, tepat di depan restoran Payon. Nama "Abuba" sendiri berasal dari singkatan namanya : Abu Bakar.
Tak disangka, warung steak kaki lima itu langsung mendapat respons positif. Pelanggan terus berdatangan hingga akhirnya Abuba harus pindah ke tempat yang lebih besar.
Generasi Kedua Membawa Abuba Naik Kelas
Pada tahun 2010, Abu menyerahkan bisnis kepada putranya, Ali Ariansyah. Di tangan generasi kedua, Abuba mulai bertransformasi dengan memperbaiki sistem manajemen, memperkuat branding, memperluas cabang, memodernisasi desain outlet, merekrut tim profesional, dan memperkuat strategi pemasaran.
Dari warung tenda sederhana, Abuba berkembang menjadi jaringan steak dengan puluhan outlet dan berbagai lini bisnis dari Abubaso, Abuba Catering, Abuba Corner hingga Cafe. (*)
Editor : S. Anwar