Enam Karomah Rabiah Al Adawiyah Sungguh Mencengangkan

Reporter : Redaksi
Rabiah Al Adawiyah

Kaum Sufi, banyak kisah yang mengejutkan. Sekaligus, hal itu memang sangat di luar nalar kaum awam atau orang kebanyakan. Untuk itu, kisah-kisah di bawah ini merupakan karomah atau hal-hal yang istimewa dari kaum sufi, sebagaimana terjadi pada Rabi'ah al-Adawiyah yang terkenal itu. 

Rabi’ah al-Adawiyah adalah sedikit dari ulama sufi perempuan yang sangat disegani dalam sejarah peradaban Islam. 

Rabi’ah menyembah Allah dengan dasar cinta (hubb), bukan karena takut atau harap (roja’ dan khauf) sebagaimana kebanyakan orang. Karena saking cintanya kepada Allah, Rabi’ah pernah berujar bahwa ia tidak mendambakan surga dan tidak takut kalau dimasukkan neraka. 

Ajaran cinta (mahabbah) 

Selain Jalaluddin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi yang mengusung mazhab cinta. 

Cintanya kepada Allah begitu dalam dan kuat, sehingga ia tidak mampu mencintai yang lainnya karena cintanya hanya untuk Allah. 

Rabi’ah dikenal sebagai hamba yang sangat patuh dan taat kepada Allah. Bahkan, setiap hembusan nafasnya selalu diiringi dengan dzikir kepada Allah. 

Dalam urusan beribadah kepada Allah, ia adalah orang sangat istiqomah. Ketaatan yang begitu tinggi kepada Allah membuatnya dikenal sebagai waliyullah (wali Allah). 

Memang, ada ungkapan bahwa hanya wali Allah yang mengetahui wali Allah lainnya (la ya’riful wali illa wali). Tapi sebagaimana yang dikemukana oleh Syekh Zarruq, setidaknya ada tiga sifat yang dimiliki seorang wali : mengutamakan Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang tegug pada syariat Nabi Muhammad SAW dengan benar. 

Jika merujuk pada indikator ini, maka Rabi’ah adalah memang seorang waliyullah.

Selain ketiga tanda tersebut, seorang waliyullah ‘biasanya’ memiliki karomah (sesuatu yang berbeda dari sewajarnya). Dalam hal ini, Rabi’ah juga memiliki cerita dan kisah yang menggambarkan karomahnya. 

Berikut adalah sejumlah karomah yang dimiliki oleh Rabi’ah alAdawiyah.

Pertama, ketika Rabi’ah sedang jalan-jalan di sebuah pegunungan, ada banyak binatang buas yang mendekatinya. Anehnya, binatang-binatang tersebut tidak menyerang Rabi’ah dan sangat jinak kepadanya. 

Mereka bermain bersama. Tibatiba, Hasan al-Basri muncul dan mendekati Rabi’ah. Seketika binatang-binatang buas tersebut menampakkan wajah buasnya dan pergi meninggalkan Hasan al-Basri. 

Kedua, suatu hari Rabi’ah melakukan perjalanan haji ke baitullah Mekkah dengan menaiki unta. Di tengah jalan, unta yang dinaiki tersebut mati. Langsung saja, Rabi’ah berdoa kepada Allah. 

Tidak lama setelah itu, untanya hidup kembali. Rabi’ah pun melanjutkan perjalanan hingga sampai ke baitullah dan pulang dengan menaiki unta yang sama, unta yang pernah mati itu.

Ketiga, suatu malam ada dua orang teman Rabi’ah yang datang ke rumahnya. Mereka hendak melakukan diskusi bersama dengan Rabi’ah. Na’asnya, rumah Rabi’ah tidak memiliki lampu penerang. Lalu Rabi’ah meniup ujung jari-jarinya hingga kemudian mengeluarkan cahaya yang terang dan menerangi seluruh rumahnya sepanjang malam. Dengan demikian, mereka bisa berdiskusi hingga pagi hari. 

Keempat, pada suatu malam rumah Rabi’ah didatangi oleh tamu yang tidak diundang. Tamu tersebut hendak mencuri pakaian Rabi’ah. Ketika sudah mengangkut semua baju Rabi’ah dan hendak kabur, pencuri tersebut bingung karena tidak menemukan pintu keluar. Namun, ketika sang pencuri meletakkan barang curiannya tersebut, ia menemukan ada pintu keluar. 

Sang pencuri mengulang perbuatannya itu –mengambil dan meletakkan barang Rab’iah- sebanyak tujuh kali. 

Hingga akhirnya, sang pencuri mendengar ada hatif (suara tanpa rupa) yang mengatakan; Wahai manusia, jangan engkau persulit dirimu sendiri. Perempuan ini telah mempercayakan dirinya kepada Kami selama bertahun-tahun. Setan pun tidak berani mendekatinya. Mendengan suara itu, pencuri tersebut lari terbirit-birit tanpa membawa secuil barang pun dari rumah Rabi’ah. 

Kelima, suatu hari Hasan al-Basri mengajak Rabi’ah alAdawiyah untuk salat di atas air. Rabi’ah merespons 

Rabi'ah al-Adawiyah adalah salah satu sosok paling menarik dalam sejarah tasawuf, khususnya dalam tradisi Islam. Dia dikenal bukan hanya sebagai seorang wanita sufi yang taat, tetapi juga karena karomah (keistimewaan) yang dimilikinya, yang sering kali membuat orang terperangah. 

Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang lima karomah yang dikenal dari Rabi'ah al-Adawiyah.

Pertama, saat Rabi'ah berjalan di pegunungan, ia dikelilingi oleh binatang buas yang tidak menyerangnya, malah tampak jinak dan bermain dengannya. Namun, ketika Hasan al-Basri muncul, binatang-binatang tersebut menunjukkan kebuasan mereka dan pergi. 

Kedua, Rabi'ah pernah melaksanakan haji ke Mekkah dengan menggunakan unta. Pertengahan perjalanan, unta yang ia tunggangi mati. Dalam situasi sulit itu, ia berdoa kepada Allah, dan keajaiban terjadi ketika unta tersebut hidup kembali, membawanya melanjutkan perjalanan ke baitullah. 

Ketiga, saat dua temannya berkunjung, rumah Rabi'ah kekurangan penerangan. Ia meniup ujung jari-jarinya, dan seketika rumahnya dipenuhi cahaya, memudahkan mereka untuk berdiskusi hingga pagi. 

Keempat, suatu malam, ada pencuri yang berusaha mengambil pakaian Rabi'ah. Meskipun semua pakaian sudah diangkut, ia tidak bisa menemukan jalan keluar. Setelah mengalami kebingungan beberapa kali, ia mendengar suara yang memperingatkannya dan akhirnya melarikan diri tanpa membawa barang apapun. 

Kelima, dalam sebuah pertemuan dengan Hasan al-Basri, mereka melakukan salat di atas air, menandakan kedalaman spiritual dan keistimewaan yang dimiliki Rabi'ah.

Rabi'ah al-Adawiyah adalah contoh nyata dari cinta yang tulus kepada Allah. Ia mempraktikkan ajaran cinta yang dalam dan menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kisah-kisah karomahnya menunjukkan betapa besar iman dan kepatuhannya kepada Allah, yang menginspirasikan banyak orang hingga saat ini. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru