Keluarga Sampoerna Hindari Kutukan Generasi Keempat

Reporter : Redaksi
Keluarga Sampoerna

Menurut riset Family Business Institute, 96% bisnis keluarga diyakini tumbang di generasi keempat. Namun, cara cerdik keluarga Sampoerna berhasil menghindari kutukan tersebut. Caranya bagaimana?

Keluarga Sampoerna Resmi Tinggalkan BEI

Baca juga: Kesan Ivan Cahyadi tetang Rantai Bisnis HM Sampoerna

Pasca melepas 65,72% kepemilikan sahamnya di PT Sampoerna Agro TBK (SGRO), artinya berakhir sudah jejak keluarga Sampoerna di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah 3 dekade. Sebelumnya, keluarga Sampoerna juga sudah melepas kepemilikan di PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP).

Artinya, kini bisnis keluarga Sampoerna hanya tersisa di sektor keuangan, properti, pengolahan kayu, dan telekomunikasi.

Sisa Jejak Bisnis Keluarga Sampoerna

Sektor Keuangan : Bank Sampoerna, Sahabat Waris Sampoerna (KSP Sahabat Mitra Sejati).

Sektor Properti : Sampoerna Strategic.

Sektor pengolahan kayu : Sampoerna Kayoe.

Sektor Telekomunikasi : net1 Indonesia "Ceria" 

Langkah Cerdik Keluarga Sampoerna

Aksi pelepasan saham dari keluarga Sampoerna ini biasanya dilatarbelakangi adanya potensi besar di lini bisnis lain. Seperti yang pernah terjadi saat mereka menjual PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP) ke Philip Morris di tahun 2005 dan kemudian mengakusisi beberapa perusahaan berikut :

PT Selapan Jaya diakuisisi pada Januari 2007 dan kemudian berganti nama menjadi PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO).

Bank Dipo dari Pahalamas Sejahtera diakuisisi pada tahun 2011 dan berganti nama menjadi Bank Sahabat Sampoerna.

PT Mandala Selular Indonesia diakuisisi pada tahun 2005 dan kemudian berubah nama menjadi PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI).

Grup Sampoerna juga pernah memiliki 10 persen saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Menelusuri Perjalanan Keluarga Sampoerna

Baca juga: 10 Juta Rokok PT HM Sampoerna Dimusnahkan Bea Cukai Yogyakarta

Cikal bakal kerajaan bisnis keluarga Sampoerna ini dimulai oleh Liem Seeng Tee yang berasal dari keluarga miskin di Provinsi Fujian, Tiongkok, dan merantau ke Surabaya saat berusia 5 tahun bersama ayahnya. Namun, karena Ayahnya meninggal dunia, Liem pun diadopsi oleh keluarga Hokkien sederhana di Surabaya dan berganti nama menjadi Sampoerna.

Dan di tahun 1913, Sampoerna mulai menjual rokok hasil racikannya yang bernama Dji Sam Soe di warung kelontongnya.

Dimulai Kembali oleh Generasi Kedua

Bisnis keluarga ini awalnya dilanjutkan oleh anak pertama, Liem Swie Hwa alias Adi Sampoerna, tapi dirinya sudah memiliki bisnis lain dan lebih mapan. Aga Sampoerna kemudian mengambil alih kendali PT HM Sampoerna dan membangkitkan kembali perusahaannya dengan manajemen yang lebih baik.

Aga juga memindahkan pabrik Sampoerna ke Malang dan merintis kembali dari nol.

Semakin Melejit di Generasi Ketiga

Pada tahun 1977, Putera Sampoerna (generasi ketiga), masuk ke dalam bisnis dan melakukan modernisasi distribusi serta kinerja perusahaan. Ada banyak pencapaian penting di tangan Putera Sampoerna, seperti terciptanya rokok mild yang menegaskan posisi Sampoerna sebagai pemimpin pasar.

Selain itu, di masa Putera Sampoerna, Sampoerna berhasil Initial Public Offering (IPO) dan semakin rajin melakukan ekspansi dari pabrik rokok di Malaysia, air minum Oasis, sampai terjun di pendidikan kejuruan.

Baca juga: Bea Cukai Tanjung Perak Kunjungi PT HM Sampoerna, Tbk

Makin Besar Lagi di Generasi Keempat

Selanjutnya, di tangan Michael Sampoerna, citra dan kualitas produk Dji Sam Soe, A Mild, serta Sampoerna Hijau meningkat drastis yang diikuti peningkatan pangsa pasar dari 18% menjadi 25%.

Di masa Michael Sampoerna juga, berlangsung kejadian penting ketika keluarga Sampoerna menjual seluruh saham PT HM Sampoerna Tbk (40%) ke Philip Morris International. Dengan hasil penjualan ini, keluarga Sampoerna menjadi holding investasi melalui Sampoerna Strategic Group yang mendiversifikasi bisnisnya ke sektor agribisnis, finansial, properti, telekomunikasi, dan kayu.

Mematahkan Mitos Generasi Keempat

Ada pepatah tradisional China berbunyi fu bu guo san dai, yang berarti kekayaan sebuah keluarga tidak melampaui tiga generasi

Generasi pertama sebagai pendiri. Generasi kedua mengembangkan, generasi ketiga menikmati keuntungan, dan generasi keempat membangkrutkan. Tapi Sampoerna menolak kutukan ini, bahkan terus menjadi raksasa hingga generasi keempat. (*)

*) Source : CEO Insigth

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru