Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) sebagai hasil jerih payah perjuangan Bangsa Indonesia yang melawan penjajahan. Banyak pejuang Indonesia gugur sebelum proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.
Salah satu tokoh yang dalam perjalanan detik-detik proklamasi sangat berjasa yakni Laksamana Tadashi Maeda. Siapa Tadashi Maeda?
Baca juga: Semarak Upacara Nata Jagat Nusantara, Satukan Budaya dan Semangat Kebangsaan
Tadashi Maeda (1898–1977) adalah perwira Angkatan Laut Jepang yang pada tahun 1945 menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut Jepang untuk wilayah Hindia Belanda. Yang menarik, meskipun dia adalah bagian dari pemerintahan pendudukan Jepang, Maeda memberikan tempat bagi para tokoh Indonesia untuk menyusun naskah Proklamasi.
Pada malam 16 Agustus 1945, setelah Soekarno-Hatta kembali dari Rengasdengklok, mereka datang ke rumah Maeda di Jalan Imam Bonjol nomor 1, Jakarta. Maeda memberikan jaminan keamanan dan membiarkan rumahnya digunakan untuk pertemuan.
Di tempat inilah, Soekarno merumuskan naskah Proklamasi bersama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo. Sayuti Melik kemudian mengetik naskah tersebut. Beberapa tokoh lainnya turut menyaksikan prosesnya. Yang menarik, Maeda sendiri tidak ikut merumuskan isi Proklamasi. Ia menyediakan tempat dan memastikan pertemuan tersebut berlangsung tanpa gangguan dari pihak Jepang lainnya.
Kenapa seorang perwira Jepang membantu? Maeda dikenal memiliki hubungan yang cukup baik dengan sejumlah tokoh nasionalis Indonesia dan memahami bahwa situasi Jepang sudah sangat terdesak setelah kekalahan dalam Perang Dunia II.
Di rumah Laksamana Maeda inilah kisah pengetikan naskah Proklamasi dimulai. Malam 16 Agustus 1945, setelah Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo kembali dari Rengasdengklok, mereka berkumpul di rumah Laksamana Tadashi Maeda, Jalan Imam Bonjol nomor 1, Jakarta.
Di sana, Soekarno menulis konsep awal Proklamasi dengan tangan. Setelah konsep disepakati, naskah tersebut kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik. Sayuti Melik menggunakan mesin tik untuk membuat salinan yang lebih rapi.
Dalam prosesnya, ia melakukan beberapa perubahan redaksional yang kemudian menjadi bagian dari naskah Proklamasi yang kita kenal. Beberapa perubahan yang terkenal: “tempoh" menjaei “tempo” “wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi "atas nama bangsa Indonesia”.
Bagian tanggal juga ditulis menjadi: Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05. Angka “05” merujuk pada tahun Jepang 2605, yang dalam kalender Masehi adalah 1945.
Setelah selesai diketik, naskah tersebut kemudian ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia. Naskah yang diketik Sayuti Melik bukanlah naskah pertama. Ada dua bentuk penting : Naskah Klad, yakni konsep tulisan tangan Soekarno.
Naskah Otentik, yakni naskah hasil ketikan Sayuti Melik yang kemudian ditandatangani Soekarno-Hatta. Dan ada satu detail yang membuat kisah ini semakin menarik : mesin tik yang digunakan bukan milik Sayuti Melik.
Baca juga: Sanggar Cipta Alam Gelar Upacara Nata Jagat Nusantara di Sendang Sreto
Menurut catatan sejarah yang sering dikutip, mesin tik tersebut digunakan di rumah Maeda dan diperoleh dari kantor perwakilan Angkatan Laut Jepang karena mesin tik berhuruf Latin tidak mudah ditemukan di Jakarta saat itu. Jadi, dalam hitungan jam pada malam itu, Soekarno menulis, para tokoh menyepakati, Sayuti Melik mengetik, Soekarno-Hatta menandatangani. Beberapa jam kemudian Proklamasi dibacakan.
Sebuah dokumen yang diketik dalam satu malam kemudian menjadi salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Indonesia.
Perdebatan di Rengasdengklok
Sehari sebelum proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa oleh para pemuda ke Rengasdengklok, Karawang. Para pemuda ingin agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa menunggu keputusan Jepang.
Di tengah perdebatan, waktu terus berjalan. Sore harinya, setelah kesepakatan tercapai, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Malam itu, di rumah Laksamana Tadashi Maeda, teks Proklamasi mulai dirumuskan. Hanya beberapa jam lagi, sebuah bangsa akan mengumumkan kemerdekaannya.
Jepang Menyerah
Baca juga: Kabinet Bayangan Gelar Upacara Rakyat di Pati
Kaisar Hirohito untuk pertama kalinya berbicara kepada rakyat Jepang melalui radio. Ia mengumumkan bahwa Jepang menerima ketentuan Sekutu dan mengakhiri perang. Pengumuman itu disiarkan pada siang hari pada 15 Agustus 1945 dan menjadi tanda berakhirnya perang bagi Jepang.
Namun bagi Indonesia, berita ini memiliki arti yang jauh lebih besar. Jepang yang sebelumnya menguasai Indonesia kini kehilangan kekuasaan dan berada dalam posisi menyerah. Kondisi ini menciptakan kekosongan kekuasaan yang kemudian menjadi momentum bagi para pemimpin dan pemuda Indonesia untuk mempercepat kemerdekaan.
Pada malam harinya, terjadi perdebatan sengit antara golongan muda dan Soekarno-Hatta. Para pemuda mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa menunggu keputusan Jepang maupun Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Besoknya, Soekarno dan Hatta akan dibawa ke Rengasdengklok. Dan dua hari kemudia Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Pada 14 Agustus 1945, Jepang bersedia mengakhiri Perang Dunia II setelah menerima Deklarasi Potsdam. Setelah Hiroshima, Nagasaki, dan serangan Uni Soviet, Jepang akhirnya berada di titik terakhir perang. Namun kabar penyerahan ini belum diumumkan kepada rakyat.
Besoknya, 15 Agustus, Kaisar Hirohito akan berbicara melalui radio dan mengumumkan berakhirnya perang. Di Indonesia, kabar kekalahan Jepang justru membuka jalan menuju peristiwa yang akan mengubah sejarah. Dua hari kemudian, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. (*)
Editor : Bambang Harianto