Kisah Tragis Muhammad Syifa Sultan Banten ke 10

Reporter : Redaksi
Muhammad Syifa Sultan Banten ke 10

Sultan Muhammad Syi'fa Zainul Arifin adalah Sultan Banten ke-10. Ia naik tahta setelah menggantikan ayahnya yaitu Sultan Abu'l Mahasin Muhammad Zainul Abidin.

Masa Kepemimpinan Sultan Zainul Arifin sangat dipengaruhi permaisurinya, Ratu Syarifah Fatimah, janda seorang Letnan Melayu di Batavia. Sultan Zainul Arifin menunjuk Pangeran Gusti, putranya yang tertua, menjadi Putra Mahkota. Tetapi karena Ratu Fatimah tidak menyetujuinya, maka diangkatlah Pangeran Syarif Abdullah, menantu Ratu Fatimah dari suaminya yang pertama, menjadi Putra Mahkota.

Baca juga: Kisah Tragis Sultan Banten Terakhir, Dari Penguasa Menjadi Pengemis

Dan karena desakan Ratu Fatimah pula, Pangeran Gusti disuruh pergi ke Batavia. Atas perintah Ratu Fatimah, di tengah perjalanan ia ditangkap tentara kompeni dan diasingkan ke Sailan (1747).

Atas persetujuan kompeni, Pangeran Syarif Abdullah dinobatkan menjadi Putra Mahkota. Untuk jasa-jasa kompeni ini, Ratu Fatimah menghadiahkan sebidang tanah di daerah Cisadane dan hak separuh penghasilan tambang emas di Tulang Bawang, Lampung, kepada kompeni. 

Rakyat dipaksa menanami sebagian tanahnya dengan tebu atau kopi yang hasilnya harus dijual kepada raja, yang kemudian menjualnya kembali kepada kompeni. Dalam praktek penjualan kembali ini, harga jual yang diperoleh rakyat jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga jual raja kepada kompeni.

Karena fitnah istrinya pula, akhirnya Sultan Zainul Arifin ditangkap kompeni, dituduh gila, dan diasingkan ke Ambon sampai wafatnya

Sebagai penggantinya, diangkatlah Pangeran Syarif Abdullah dengan gelar Sultan Syarifuddin Ratu Wakil menjadi Sultan Banten, tahun 1750. Tapi sebenarnya, Ratu Fatimahlah yang memegang kuasa pemerintahan.

Dalam beberapa penulisan sejarah Kesultanan Banten, Sultan Syarifuddin Ratu Wakil biasa ditulis sebagai Sultan Banten ke-11. Sedangkan bagi Keluarga Besar Kesultanan Banten tidak mengakui beliau sebagai Sultan Banten yang sah, sehingga hal ini menimbulkan perbedaan dalam penulisan pengurutan para Sultan Banten.

Kecurangan yang dilakukan Ratu Fatimah ini bagi rakyat dan sebagian petinggi negeri merupakan suatu penghianatan besar, sehingga rakyat pun mengadakan perlawanan bersenjata. Dipimpin oleh Ki Tapa dan Tubagus Buang.

Dalam penyerangan ini pasukan perlawanan dibagi dua, sebagian langsung menyerang kota Surosowan dan sebagian lagi mencegat bantuan pasukan kompeni dari Batavia. Tubagus Buang dengan pasukan yang besar menyerbu dari arah barat, yang memaksa pasukan Ratu Fatimah hanya mampu bertahan di benteng saja. Sedangkan pasukan Ki Tapa yang mencegat pasukan kompeni dari Batavia, melalui pertempuran hebat, mereka dapat menghancurkan pasukan kompeni.

Untuk menenangkan rakyat Banten, gubernur jendral kompeni yang baru, Jacob Mossel, segera memerintahkan wakilnya di Banten untuk segera menangkap Ratu Syarifah Fatimah dan Sultan Syarifuddin. 

Ratu Fatimah selanjutnya diasingkan ke Saparua dan Sultan Syarifuddin ke Banda. 

Belanda mengangkat Pangeran Adisantika, adik Sultan Zainul Arifin, menjadi Sultan Banten dengan Gelar Sultan Muhammad Was'y Zainul Alimin dan mengembalikan Pangeran Gusti dari tempat pengasingannya dan mengembalikan posisinya kembali sebagai putra mahkota.

Akan tetapi dengan pengangkatan itu,  Sultan Zainul Alimin harus menandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya semakin memperkuat dan mempertegas kekuasaan VOC atas Banten.

Perjanjian itu sangat merugikan Banten, sehingga Rakyat kembali mengadakan hubungan dengan Ki Tapa di Sajira,

Ratu Bagus Buang sering mengadakan serangan mendadak di sekitar ibukota Surosowan. Akhirnya kompeni melakukan serangan besar-besaran dan pasukan perlawanan ini dapat dipukul mundur, hingga mereka hanya dapat bertahan di daerah pengunungan di Pandeglang.

Para pangeran dan pembesar keraton melakukan pengacauan di dalam kota. Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mengakibatkan Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’zainul ‘Alamin menyerahkan kekuasaannya kepada Pangeran Gusti. (*)

*) Source : laskar Padjajaran

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru