Politik sering kali menyajikan drama yang menguji kesetiaan, ketangguhan, dan mentalitas seorang petarung. Kisah inilah yang melekat erat pada sosok Dillah Hikmah Sari, S.T., Bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) yang dilantik pada 20 Februari 2025 lalu. Perjalanan politiknya menuju kursi nomor satu di Bumi Sepucuk Nipah Serumpun Nibung adalah sebuah teladan tentang bagaimana sebuah penolakan justru bertransformasi menjadi gerbang kemenangan yang bersejarah.
Selama dua dekade, Dillah Hikmah Sari adalah simbol loyalitas di bawah naungan Partai Amanat Nasional (PAN). Namun, ketika takdir kepemimpinan memanggil, ia harus berjalan di luar jalur partai yang membesarkannya demi menjemput mandat langsung dari hati rakyat.
Merajut Loyalitas Sejak Usia Muda
Darah politik Dillah sejatinya mengalir dari sang ayah, H. Abdullah Hich, bupati pertama sekaligus bapak pendiri Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Namun, Dillah enggan berpangku tangan pada nama besar sang ayah. Sejak awal tahun 2004, ia memilih merintis jalannya sendiri dari bawah dengan bergabung di Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN).
Selama 20 tahun berikutnya, Dillah Hikmah Sari mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membesarkan partai. Dedikasinya tidak main-main. Ia tercatat pernah menduduki kursi pimpinan parlemen sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi periode 2009–2014 dalam usia yang sangat muda, 28 tahun.
Dari level daerah hingga provinsi, posisi strategis kepengurusan pernah ia puncaki, termasuk menjabat sebagai Ketua BM PAN Tanjabtim selama satu dekade (2005–2015) hingga Wakil Ketua DPD PAN Tanjabtim. Bagi publik Tanjabtim, nama Dillah adalah bagian tak terpisahkan dari identitas warna partai tersebut.
Kerikil Tajam dan Ujian Kesetiaan Terberat
Sebagai kader tulen, jalan Dillah Hikmah Sari tidak selalu mulus. Pada Pilkada 2015, ia pernah maju bertarung namun harus menerima kekalahan. Alih-alih berbalik arah atau hengkang ke parpol lain seperti tren politisi modern, Dillah memilih tetap bertahan, setia mengawal dan memenangkan agenda-agenda politik partainya di tahun-tahun berikutnya.
Namun, ujian kesetiaan paling sejati menghadang di Pilkada Serentak 2024. Menatap kontestasi tersebut dengan modal elektabilitas akar rumput yang sangat tinggi, Dillah justru harus menerima kenyataan pahit. Partai yang telah ia bela dan besarkan selama 20 tahun memilih untuk memberikan rekomendasi final kepada kandidat lain.
"Dua dekade loyalitasnya seolah diuji dalam semalam. Namun, alih-alih meratap atau tenggelam dalam kekecewaan, Dillah memilih tegak berdiri. Baginya, panggilan mengabdi kepada tanah kelahiran tidak boleh terhenti hanya karena selembar kertas rekomendasi."
Menjemput Takdir Lewat Koalisi Rakyat
Melihat gelombang dukungan masyarakat yang enggan surut, Dillah mengambil langkah berani yang kelak mengubah peta politik Jambi selamanya. Ia maju menggandeng Muslimin Tanja, seorang analis politik nasional yang merupakan Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia. Tanpa restu partai penguasa, mereka bergerak membangun koalisi alternatif bersama parpol lain yang searah dengan napas rakyat.
Duet Dillah-Muslimin bergerak lincah dari desa ke desa, menyapa petani, nelayan, dan emak-emak di seluruh penjuru Tanjabtim. Narasi perjuangan seorang srikandi yang mandiri ini memicu gelombang simpati yang masif.
Hasilnya adalah sebuah plot twist politik paling epik dalam sejarah Jambi. Berdasarkan hasil rekapitulasi KPU, pasangan Dillah-Muslimin Tanja menang mutlak dengan meraup 81.585 suara atau setara 58,63% suara sah.
Kemenangan ini terasa kian sempurna karena diraih secara bersih tanpa ada satu pun gugatan perselisihan yang masuk ke Mahkamah Konstitusi (MK). Untuk pertama kalinya sejak Kabupaten Tanjabtim berdiri, dominasi mutlak PAN runtuh di tangan mantan kader terbaiknya sendiri.
Mengukir Sejarah Baru
Kini, setelah melalui badai ujian politik yang luar biasa, Dillah Hikmah Sari telah resmi mengemban amanah sebagai bupati perempuan pertama di Tanjung Jabung Timur.
Kisah perjuangan Dillah mengirimkan pesan kuat bagi dunia politik tanah air: bahwa struktur partai bisa menentukan siapa yang tertera di kertas suara, tetapi pada akhirnya, rakyatlah yang memegang pena untuk menuliskan siapa pemimpin masa depan mereka. Dillah telah menjemput takdir kepemimpinannya, bukan lewat jalur karpet merah, melainkan lewat jalur peluh perjuangan bersama rakyat. (*)
*) Source : Nasrul Koto Psu
Editor : S. Anwar