Gus Maksum itu tidak sekadar Pendekar. Sejak kecil, Beliau sudah menjalani riyadloh yang tak masuk akal.
Sejak usia 14 tahun, saat remaja lain sibuk bermain, Gus Maksum sudah menempuh jalan riyadloh, latihan batin yang berat. Beliau memilih ngrowot, tidak makan makanan tertentu demi melatih diri menundukkan nafsu dan mendekat pada Allah.
Tak berhenti di situ, Gus Maksum juga menjalani amalan yang lebih ekstrem : hanya makan kunyit dan nasi ketan. Tubuhnya ditempa oleh lapar, tapi jiwanya dipenuhi kekuatan yang luar biasa. Semua dijalani dengan sabar dan istiqamah.
Wiridan menjadi napas hidupnya. Semua wirid yang diijazahkan gurunya tak pernah ditinggalkan.
Kadang Gus Maksum bisa wiridan sampai dua hari penuh tanpa henti. Bukan karena pamer ibadah, tapi karena cintanya kepada Allah dan gurunya. Berkat ketekunan dalam wirid dan riyadloh, Gus Maksum mencapai tingkat kesempurnaan dalam silat dan kanuragan.
Gerakannya bukan sekadar bela diri, tapi buah dari kekuatan batin dan kejernihan hati. Beliau bukan pendekar biasa, beliau pendekar sejati. Namun di balik ketangguhannya, Gus Maksum selalu menunduk. Setiap langkahnya penuh tawakal.
Gus Maksum sering berkata, "Segala kekuatan hanyalah milik Allah, manusia tak punya daya tanpa izin-Nya." Inilah rahasia sejati keberaniannya.
Ketika melaksanakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, Gus Maksum tak pernah gentar. Tapi yang membuatnya hebat bukan keberaniannya melawan manusia, melainkan keberaniannya untuk selalu menyerahkan hasil kepada Allah. (*)
Editor : S. Anwar