Kisah Sukses Rizky Arief Dwi Prakoso Mendirikan Parfum HMNS

Reporter : Redaksi
Rizky Arief Dwi Prakoso

28 dari 30 orang menyarankan Rizky Arief Dwi Prakoso ambil tawaran bekerja di PT Freeport Indonesia. Rizky Arief Dwi Prakoso menolak dan memilih jual parfum dengan modal Rp 15 juta dari kamar kosnya.

Tiga tahun kemudian, HMNS mencetak omzet Rp 100 miliar. Ini pola pikir di balik keputusan yang hampir semua orang anggap salah.

Sarjana Geologi yang Tidak Mau Jadi Geologis

Rizky Arief Dwi Prakoso lahir pada 2 Oktober 1994 di Jakarta dan merupakan lulusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejak kuliah, ia mulai menyadari bahwa industri pertambangan tidak sesuai dengan minatnya. 

Melihat senior-seniornya mengalami kesulitan di dunia kerja, Rizky Arief Dwi Prakoso memutuskan untuk mencari jalur karier yang berbeda. Dia tidak menunggu sampai lulus baru sadar. Dia membaca sinyal itu lebih awal dari teman-temannya.

Alih-alih memilih karier yang sejalan dengan pendidikannya di geologi, Rizky Arief Dwi Prakoso justru memilih magang sebagai copywriter di brand sepatu lokal, Brodo. Sarjana teknik yang memilih jadi copywriter. Di mata banyak orang, itu keputusan yang tidak masuk akal.

Keputusan yang 28 dari 30 Orang Anggap Salah

Pada Januari 2017, Rizky Arief Dwi Prakoso diangkat sebagai Management Trainee dan Content Marketing Brodo. Namun pada saat yang sama, Rizky Arief Dwi Prakoso mendapat tawaran bekerja di PT Freeport Indonesia untuk posisi geolog, lowongan yang ia lamar sejak lama. Dua tawaran di waktu yang sama. Satu aman, prestisius, dan sesuai gelar. Satunya penuh ketidakpastian.

Sebelum memutuskan, Rizky Arief Dwi Prakoso berkonsultasi dengan 30 orang : keluarga dan teman-teman dekatnya. Dari 30 orang tersebut, 28 orang menyarankan Rizky mengambil tawaran Freeport. Hanya dua orang yang merestuinya melanjutkan karier di Brodo. Dia memilih Brodo. Dan dua orang itulah yang kini jadi COO dan Chief of Product HMNS.

Dari Brodo ke HMNS : Keputusan Berikutnya yang Tidak Lebih Mudah

Setelah Brodo, Rizky diangkat jadi CEO NAH Project, brand sepatu lokal yang pernah dipakai Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di atas kertas, posisi itu sudah lebih dari cukup. Namun setelah lebih dari setahun menjabat sebagai CEO, Rizky Arief Dwi Prakoso memutuskan untuk keluar dan membangun bisnisnya sendiri.

Rizky Arief Dwi Prakoso menyadari bahwa dia membutuhkan parfum berkualitas tinggi yang aromanya tahan lama. Sąat berkeliling Jakarta mencari parfum yang pas, ia menemukan satu merek impor yang aromanya dia suka. Harganya Rp 4,5 juta satu botol. 

Dari masalah pribadi itu lahir pertanyaan yang mengubah segalanya kenapa tidak ada parfum berkualitas tinggi dengan harga yang masuk akal?

Apa yang Rizky Lihat yang Orang Lain Tidak Lihat

Rizky Arief Dwi Prakoso tidak membangun brand parfum. Dia membangun narasi. Tanpa menggandeng influencer, dia menerapkan strategi pre-order Platform jualan yang ia pilih adalah Twitter hingga Facebook.

Berbeda dengan pebisnis lain yang sedang tren menjual di Instagram, Rizky Arief Dwi Prakoso memilih platform itu karena basis marketing-nya adalah cerita. Dia menjual narasi kisah bagaimana parfum Alpha lahir dari tangan seorang parfumer yang telah melakukan riset bertahun-tahun.

Di saat semua brand berlomba di Instagram dengan visual yang sempurna, Rizky Arief Dwi Prakoso masuk lewat pintu yang tidak ada yang jaga storytelling di Twitter. Dalam membangun HMNS, Rizky selalu menjadikan storytelling sebagai kekuatan utama. Setiap produk parfum HMNS dikemas dengan cerita sehingga konsumen merasa memiliki pengalaman emosional yang dekat dengan produk.

Pola Pikir: Validasi Dulu, Produksi Kemudian

Kebanyakan founder membangun produk dulu baru cari pasar. Rizky Arief Dwi Prakoso membalik urutan itu.

Komitmen untuk produksi setelah melihat respons market adalah salah satu strategi HMNS untuk menghindari risiko flush out.

Para founder HMNS sepakat menjalankan bisnis dengan skema bootstrapping, mengandalkan modal dari internal perusahaan itu sendiri. Modal Rp15 juta. Pre-order dulu. Kalau ada yang beli, baru produksi. Kalau tidak ada yang tertarik, tidak ada yang rugi besar.

Sederhana. Tapi justru itu yang membuat HMNS tidak pernah terjebak pada keputusan yang merugikan di awal perjalanannya.

Hasilnya, omzet perusahaan tumbuh sekitar 1.000 persen hanya setahun setelah perusahaan itu lahir, yakni pada tahun 2020. Pada tahun 2021, HMNS mencetak pertumbuhan omzet 100 hingga 200 persen. Dalam waktu 3 tahun, HMNS berhasil meraup omzet hingga Rp 100 miliar.

Saat ini HMNS mampu memproduksi sekitar 120 ribu botol parfum per tahun dan menjual hingga 10 ribu botol per bulan. Dari modal Rp15 juta dan pre-order di Twitter yang tidak ada yang percaya, ke 120 ribu botol per tahun dan Rp100 miliar dalam tiga tahun.

Insightnya?

Rizky Arief Dwi Prakoso tidak berhasil karena dia lebih berbakat dari orang Kain di industri parfum. Dia bahkan bukan parfumer. Dia berhasil karena dia punya dua kebiasaan yang konsisten sejak awal: membaca sinyal pasar lebih awal dari orang lain, dan memvalidasi sebelum produksi.

Satu hal yang bisa kamu terapkan hari ini: Sebelum investasi besar pada produk atau layanan baru, tanya dirimu sendiri, sudah ada yang mau bayar untuk ini? Kalau belum, itu bukan masalah produk. Itu sinyal untuk validasi dulu sebelum lanjut. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru