Dunia seni dan budaya Nusantara, khususnya ranah Minangkabau, memiliki satu nama besar yang dedikasinya menembus batas usia dan zaman. Beliau adalah Inyiak Upiak Palatiang, seorang perempuan perkasa yang dipandang sebagai maestro sekaligus penjaga gerbang tradisi lama Minangkabau yang telah mendunia.
Lahir di Dusun Kubu Gadang, Nagari IV Koto, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat pada awal abad ke-20, Inyiak Upiak Palatiang berpulang pada 9 Mei 2010 dalam usia yang sangat sepuh, yakni sekitar 110 tahun. Sepanjang satu abad perjalanannya di dunia, ia menghidupkan kembali ruh tradisi Minang melalui gerakan silat, pertunjukan randai, dan untaian dendang saluang.
Baca juga: Asal Mula Wakapolsek Pakel Dianiaya Pesilat
Sang Pandeka Perempuan Penguasa Silek Gunuang
Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia beladiri tradisional, Inyiak Upiak Palatiang tegak berdiri sebagai seorang pandeka (pendekar) perempuan yang sangat disegani. Ia merupakan pewaris sekaligus ahli dari Silek Gunuang (Silat Gunung), salah satu aliran silat paling sakral dan menjadi hulu (akar) dari berbagai macam aliran silat yang kemudian berkembang di Minangkabau.
Kelihaiannya bertumpu pada tiga jurus dasar Silek Gunuang yang mematikan namun penuh estetika:
Tangkok (Tangkap): Kemampuan mengunci pergerakan lawan secara presisi.
Piuah (Pelintir): Teknik mematahkan serangan melalui puntiran tak terduga.
Gelek (Mengelak): Kelincahan tubuh dalam menghindari serangan dengan memanfaatkan ruang sempit.
Baca juga: Polres Tulungagung Menyelenggarakan Rakor Perguruan Pencak Silat
Luar biasanya, bahkan ketika usianya telah melewati angka seratus tahun, kondisi fisik Inyiak Upiak Palatiang tetap prima. Ia masih mampu memperagakan gerakan-gerakan silat dengan sangat gesit, lincah, dan penuh tenaga, membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum.
Pujangga Alami Pencipta Ratusan Syair Dendang
Selain tangguh di gelanggang silat, Inyiak Upiak Palatiang adalah seorang seniman berjiwa lembut dengan imajinasi yang luar biasa kaya. Beliau sangat mahir merajut pantun untuk pertunjukan teater tradisional randai dan mencipta syair-syair dendang yang mendayu-dayu, selaras dengan tiupan instrumen musik bambu saluang.
Ratusan karya sastra lisan telah lahir dari pemikirannya yang murni. Beberapa karya legendarisnya yang sering dilantunkan oleh para pendendang tradisional antara lain Singgalang Kubu di Ateh, Singgalang Gunuang Gabalo Itiak, Singgalang Ratok Sabu, Singgalang Layah, Singgalang Kariang, Singgalang Alai, Indang Batipuah, hingga Parambahan Batusangka. Lewat bait-bait syair inilah, ia menyampaikan petuah, filosofi hidup, dan kritik sosial khas masyarakat Minang.
Baca juga: Pendekar Silat Asal Desa Banjaran Diduga Keroyok Pemuda Hingga Tewas
Warisan yang Terus Mengalir ke Anak Cucu
Sebagai seorang guru besar tradisi, Inyiak Upiak Palatiang tidak ingin ilmunya terkubur bersama waktu. Ia melahirkan murid-murid hebat, salah satunya adalah Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto (Mak Katik), budayawan dan seniman besar Minangkabau yang hingga kini aktif mengajar serta melestarikan adat kebudayaan di tingkat nasional dan internasional.
Semangat pelestarian ini juga mengalir deras di dalam darah keluarganya. Dari pernikahannya, ia dikaruniai anak-anak seperti Mawardi (Gaek Mulia), Upiak Lamsinar (Lantinan), dan Zulfachri (Uncu). Warisan budaya tersebut kini estafetnya diteruskan oleh cucunya, Fardizal dan Fahmizal, serta cicitnya, Ari Pardi, yang dikenal sangat aktif dalam berbagai kegiatan seni budaya sebagai generasi penerus semangat sang legenda.
Inyiak Upiak Palatiang adalah bukti nyata dari filosofi “Alam Takambang Jadi Guru”. Meski sosoknya kini telah tiada, nama dan karyanya akan selalu abadi, berhembus bersama angin malam di sela-sela petikan saluang dan hentakan kaki para pesilat di tanah Minang. (*)
Editor : Bambang Harianto