Tragedi Gubernur Soerjo di Hutan Ngawi

Reporter : Arif yulianto
Gubernur Soerjo

Nama Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo (9 Juli 1898 – 10 November 1948) abadi dalam lembaran emas revolusi Indonesia. Sebagai Gubernur Jawa Timur pertama, ia adalah sosok pemberani di balik pertempuran epik 10 November 1945. Lewat suaranya yang menggelegar di radio, ia membakar nyali Arek-Arek Suroboyo untuk melawan kesombongan imperium Inggris. Namun sayang, akhir hidup sang pahlawan nasional ini harus berujung tragis di tangan laskar pro-komunis.

Lahir di Magetan dari keluarga pamong praja terpandang—putra dari Wedana Punung Pacitan dan keponakan Bupati Madiun—Soerjo adalah pemuda yang sejak kecil akrab dengan urusan rakyat. Garis hidupnya sebagai birokrat ulung kian matang setelah ia lulus dari OSVIA (Sekolah Pendidikan Kepamongprajaan) dan menempuh pendidikan kepolisian di Sukabumi serta akademi pemerintahan di Batavia. 

Baca juga: Jakarta Bhayangkara Presisi Juara International Police Volleyball Tournament 2025

Kariernya merentang panjang mulai dari pamong praja di Ngawi, Bupati Magetan, hingga ditunjuk menjadi Gubernur Jawa Timur di masa-masa paling genting Republik.

Melawan Ultimatum Inggris: Darah Penghabisan di Surabaya

Pada akhir Oktober 1945, Surabaya menjadi tungku api yang siap meledak. Gubernur Soerjo sebenarnya sempat membuat perjanjian gencatan senjata dengan komandan pasukan Inggris, Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby. Namun, bentrokan tetap pecah hingga menewaskan Mallaby.

Kematian sang jenderal menyulut kemarahan besar Inggris. Penggantinya, Jenderal Robert Mansergh, mengeluarkan ultimatum ekstrem: rakyat Surabaya harus menyerahkan semua senjata paling lambat 9 November 1945, atau kota mereka akan dihancurkan dari darat, laut, dan udara.

Menghadapi ancaman tersebut, Presiden Soekarno menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pemerintah Jawa Timur. Dengan keberanian baja, Gubernur Soerjo berpidato melalui RRI Surabaya:

Suara Perlawanan

"Tentara Inggris memberi ultimatum kepada kita... Lebih baik hancur lebur daripada tidak merdeka. Kedaulatan negara kita harus dipertahankan! Arek-Arek Suroboyo akan melawan ultimatum Inggris sampai darah penghabisan!"

Pidato legendaris itu memicu pertempuran terbesar dalam sejarah revolusi Indonesia yang dimulai pada 10 November 1945. Selama tiga minggu, Surabaya berubah menjadi palagan yang membara. Gubernur Soerjo menjadi salah satu tokoh terakhir yang meninggalkan kota mati tersebut untuk mendirikan pemerintahan darurat di Mojokerto.

Tragedi Berdarah: Dicegat dan Dibantai Gerombolan PKI

Setelah tidak lagi menjabat sebagai gubernur dan beralih tugas menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di Yogyakarta, takdir menjemput Soerjo dengan cara yang memilukan.

Pada awal November 1948, Soerjo berangkat dari Yogyakarta menuju Madiun untuk menghadiri peringatan 40 hari wafatnya sang adik, RM Sarjoeno (Wedana Sepanjang), yang ironisnya juga menjadi korban pembantaian pemberontakan PKI Madiun.

Nasib nahas menimpa rombongan ini saat melintas di kawasan Walikukun, Widodaren, Ngawi. Mobil yang ditumpangi Gubernur Soerjo bersama dua perwira polisi, Kolonel Polisi Duryat dan Mayor Polisi Suroko, dicegat oleh sisa-sisa gerombolan pasukan pro-PKI yang tengah mundur.

Ketiganya dipaksa turun dari mobil di bawah todongan senjata, digelandang ke dalam hutan, dan dieksekusi secara keji. Jasad Gubernur Soerjo dan dua polisi setianya baru ditemukan empat hari kemudian tergeletak di Kali Kakah, Ngawi.

Warisan Abadi Sang Pemimpin

Gubernur Soerjo dimakamkan di Makam Sasono Mulyo, Magetan. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, sebuah monumen megah didirikan di Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, yang diresmikan oleh Pangdam VII/Brawijaya Mayjen TNI Witarmin pada 28 Oktober 1975.

Gubernur Soerjo gugur tepat pada hari peringatan peristiwa yang dibidaninya sendiri—10 November. Gubernur Soerjo meninggalkan warisan keteladanan tertinggi: sebuah ketegasan yang tak goyah oleh ancaman bom penjajah, dan kesetiaan pada negara yang dibawa hingga ke liang lahat. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru