Marie Muhammad, Penjaga Integritas di Tengah Badai Orde Baru

Reporter : Redaksi
Mar'ie Muhammad

Dalam sejarah birokrasi Indonesia, sosok Mar'ie Muhammad menempati ruang istimewa sebagai standar emas bagi integritas. Dikenal publik dengan julukan "Mr. Clean", pria kelahiran Surabaya, 3 April 1939 ini adalah antitesis dari budaya korupsi dan gratifikasi yang sempat mengakar kuat di lingkungan keuangan negara pada masanya.

Marie Muhammad bukan sekadar pejabat yang duduk di balik meja. Mar'ie adalah seorang teknokrat yang memegang teguh nilai moral, menjauhkan diri dari sorotan sensasional, hingga ia sendiri yang menyematkan julukan "Mr. Cuek" karena keengganannya melayani hiruk-pikuk pemberitaan jurnalis.

Baca juga: Widjojo Nitisastro, Angkat Senjata di Surabaya hingga Otak Ekonomi Orde Baru

Akar Ampel dan Pendidikan "Al-Irsyad"

Jauh sebelum menapaki tangga kekuasaan di Jakarta, masa kecil Mar'ie dihabiskan di kawasan Ampel, Surabaya, tepatnya di Jalan Sasak, Kalimas Madya. Lingkungan yang kental dengan budaya Arab dan suasana religius yang kuat dari paham pembaruan Islam di Al-Irsyad Al-Islamiyyah menjadi fondasi pembentuk karakternya.

Di tengah kecamuk Revolusi Kemerdekaan, saat Indonesia berjuang mempertahankan kedaulatan dari upaya Belanda kembali berkuasa, Mar'ie kecil menempa diri dengan disiplin tinggi di Perguruan Al-Irsyad. Pendidikan inilah yang mengasah kecerdasan intelektual sekaligus menanamkan benih keberanian untuk menjadi "republiken sejati" di masa depan.

Perjalanan Menuju Puncak: Dari Pengawasan hingga "Mr. Clean"

Lulusan Magister Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini merintis kariernya dari bawah di Departemen Keuangan. Rekam jejaknya adalah bukti dedikasi panjang:

1969–1972: Mengabdi di Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara.

1972–1988: Mengabdi di Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN, hingga mencapai posisi Direktur.

1988–1993: Menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak.

Baca juga: Haryono Suyono Konseptor Posyandu

Puncak pengabdiannya terjadi pada tahun 1993. Ketika Presiden Soeharto menyusun Kabinet Pembangunan VI, nama Mar'ie muncul sebagai kejutan besar. Marie Muhammad ditunjuk menjadi Menteri Keuangan, menggantikan ekonom senior J.B. Sumarlin. Penunjukkannya saat itu benar-benar di luar prediksi bursa calon menteri, namun terbukti menjadi langkah tepat untuk membenahi "kebocoran" di sektor keuangan.

Sebagai Menteri Keuangan, ia menabuh genderang perang melawan gratifikasi. Ia tak segan menindak siapa pun yang mencoba "bermain" di Departemen Keuangan. Integritas inilah yang membuatnya disegani sekaligus ditakuti oleh mereka yang tidak bersih.

Pengabdian Tanpa Henti bagi Kemanusiaan

Setelah purnatugas dari jabatan menteri pada tahun 1998, Mar'ie tidak lantas memilih hidup tenang. Ia justru mengalihkan fokus pengabdiannya ke ranah kemanusiaan dan transparansi publik:

Palang Merah Indonesia (PMI) : Menjabat Ketua Umum (1999–2009), memimpin organisasi kemanusiaan ini di masa-masa sulit pasca-reformasi.

Baca juga: Profesor Saleh Afiff Jadi Mafia Berkeley di Era Orde Baru

Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) : Menjadi Ketua Oversight Committee (OC) (2001–2004).

Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) : Menjadi motor penggerak gerakan transparansi publik.

Warisan Integritas Sang Mr. Clean

Pada Minggu dini hari, 11 Desember 2016, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mar'ie Muhammad berpulang di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jakarta, pada usia 77 tahun.

Marie Muhammad pergi dengan meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada kekayaan material: sebuah cetak biru mengenai bagaimana seorang birokrat seharusnya bertindak. "Mr. Clean" telah membuktikan bahwa di tengah sistem yang korup, seorang pria dengan sarung dan kesederhanaan tetap bisa menjaga martabat bangsa. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru