Lahir di Desa Kuncen, Padangan, Kabupaten Bojonegoro, pada tahun 1850 Masehi, KH Zainuddin adalah putra dari pasangan KH Mu'min dan Nyai Romlah. Terlahir dari keluarga alim, nasab KH Zainuddin dari jalur ibundanya bersambung hingga ke ulama besar Syekh Syihabuddin Padangan.
Rihlah keilmuannya ditempuh dengan penuh tirakat. Semasa muda, KH Zainuddin berguru kepada maha-guru ulama Jawa, Syekh Sholeh Darat, lalu nyantri di Pondok Pesantren Langitan.
Baca juga: Pendiri Yayasan Panca Wahana Tuding Pemilihan Rektor UNUBA Cacat Hukum
Kecerdasan dan kemuliaan akhlaknya membuat pengasuh Pesantren Langitan, Kabupaten Tuban, mengambilnya sebagai menantu, yang kemudian memberikan amanah besar kepada beliau untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di Pondok Pesantren Mojosari, Loceret, Kabupaten Nganjuk.
Di bawah asuhan Kiai Zainuddin, Pesantren Mojosari mencapai era keemasannya. KH Zainuddin adalah sosok "Syaikhusyaikh" (gurunya para guru) yang mencetak kiai-kiai besar yang kemudian menjadi pendiri Nahdlatul Ulama (NU), seperti K.H. Ahmad Djazuli Utsman (Ploso), KH Marzuqi Dahlan, hingga KH Abdul Madjid Ma'roef. Tingkat kealimannya yang luar biasa membuat beliau sangat dihormati dan disegani oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
Baca juga: Pelantikan Pengurus Nahdlatul Ulama Burneh Bangkalan
Meskipun merupakan ulama papan atas seangkatan dengan Syekh Kholil Bangkalan, sosok Kiai Zainuddin sangat jarang terekspos. Beliau adalah penganut tasawuf tingkat tinggi yang sengaja menyembunyikan kewaliannya (jalur khowas) di balik ketatnya laku syariat agar masyarakat awam tidak tersesat.
Hidupnya sangat bersahaja di kaki Gunung Wilis; KH Zainuddin tak segan mencangkul sendiri di sawah dan mengurus hewan peliharaannya. Dalam mendidik kedisiplinan, KH Zainuddin punya kebiasaan unik dan penuh kasih sayang, yakni berkeliling menyapa nama santrinya satu per satu dan membangunkan mereka yang masih terlelap menggunakan serbet basah.
Baca juga: Surat Terbuka untuk Gus Ulil dari Social Movement Institute
Sang "ulama tersembunyi" nan kharismatik ini berpulang ke hadirat Allah SWT pada tahun 1954 di usia lebih dari satu abad (104 tahun). Makam KH Zainuddin di kompleks Pesantren Mojosari, Loceret, Kabupaten Nganjuk, terus mengalirkan barokah dan tak pernah sepi diziarahi umat hingga detik ini. Lahumul fatihah...
*) Source : Pecinta Ulama Nusantara
Editor : Bambang Harianto