R Didi Kartasasmita, Perwira KNIL yang Dicap Pengkhianat oleh Belanda

Reporter : Redaksi
R Didi Kartasasmita

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tidak semua perwira pribumi lulusan militer Belanda memilih berdiri di belakang Republik. Sebagian tetap setia kepada Belanda dan bergabung dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang berusaha mengembalikan kekuasaan kolonial di Indonesia. 

Namun di tengah situasi yang penuh ketidakpastian itu, seorang perwira KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) bernama Raden Didi Kartasasmita mengambil jalan yang berbeda.

Baca juga: Kronik Mongondow dan Minahasa

R Didi Kartasasmita memilih Republik. Keputusan tersebut menjadikan R Didi Kartasasmita sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Tentara Nasional Indonesia, sekaligus membuatnya dicap sebagai "pengkhianat" oleh Belanda dan sebagian bekas rekan-rekannya di KNIL.

Dari Breda ke Republik Indonesia

R Didi Kartasasmita merupakan lulusan Koninklijke Militaire Academie (KMA) Breda, akademi militer paling bergengsi di Belanda. Sebelum kemerdekaan Indonesia, ia berdinas sebagai perwira KNIL dengan pangkat Letnan Satu.

Sesaat setelah mendengar kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Didi tidak ragu menentukan sikap. Ia segera menemui Menteri Penerangan sekaligus Menteri Pertahanan ad interim, Amir Sjarifuddin, dan menawarkan diri untuk mengabdi kepada Republik Indonesia yang baru berdiri.

Bagi R Didi Kartasasmita, pilihan itu sederhana. Ia adalah orang Indonesia dan merasa terpanggil untuk membantu bangsanya mempertahankan kemerdekaan.

Tawaran tersebut disambut hangat oleh Amir Sjarifuddin. Pemerintah Republik yang masih muda sangat membutuhkan tenaga perwira profesional, terutama mereka yang memiliki pendidikan militer modern seperti para lulusan KNIL.

Menghimpun Perwira KNIL untuk Republik

Atas permintaan pemerintah, R Didi Kartasasmita kemudian berkeliling Pulau Jawa untuk mengajak para mantan perwira KNIL bergabung dengan Republik Indonesia.

Usahanya membuahkan hasil. Bersama sekitar 20 mantan perwira KNIL, termasuk Mayor Oerip Soemohardjo, ia menandatangani sebuah maklumat yang menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia.

Maklumat tersebut kemudian disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) selama sepuluh hari berturut-turut mulai 11 Oktober 1945.

Langkah ini memiliki arti penting karena menunjukkan bahwa tidak semua perwira didikan Belanda berpihak kepada Belanda. Banyak di antara mereka justru memilih membela kemerdekaan Indonesia.

Menjadi Panglima Jawa Barat

Pada 15 Oktober 1945, Pemerintah Republik memberikan pangkat Mayor Jenderal kepada Didi Kartasasmita.

Ia kemudian ditugaskan membentuk dan memimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawa Barat, menjadikannya salah satu panglima militer paling berpengaruh pada masa awal revolusi.

Di tengah kekacauan pasca-kemerdekaan, Didi berupaya membangun kekuatan militer yang mampu mempertahankan wilayah Jawa Barat dari ancaman Sekutu dan Belanda.

Namun keberpihakannya kepada Republik membuat banyak bekas anggota KNIL marah. Mereka menganggap R Didi Kartasasmita telah melanggar sumpah setia kepada Ratu Belanda.

Bahkan Panglima KNIL, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor, yang pernah menjadi instrukturnya di Breda, menyebut Didi sebagai seorang "pengkhianat".

Membela Republik di Medan Revolusi

R Didi Kartasasmita membuktikan kesetiaannya kepada Indonesia bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga tindakan.

Ketika konflik bersenjata meletus antara Republik Indonesia dan pasukan Inggris di Bandung, ia tetap memimpin pasukannya mempertahankan wilayah Jawa Barat.

Walaupun tidak setuju dengan keputusan pemerintah pusat yang memerintahkan pengunduran pasukan dari Bandung pada Maret 1946, Didi tetap mematuhi perintah tersebut sebagai bentuk disiplin militer.

Baca juga: Sejarah Berdirinya Negara Depok

Namun justru setelah menunjukkan kesetiaannya, karier militernya mulai mengalami kemunduran.

Tersingkir oleh Politik dan Persaingan Internal

Ketika Komandemen Jawa Barat dibubarkan dan diganti menjadi Divisi I Siliwangi, jabatan panglima tidak diberikan kepada Didi.

Pemerintah memilih Kolonel A.H. Nasution yang saat itu jauh lebih muda darinya.

Keputusan ini menimbulkan kekecewaan mendalam bagi R Didi Kartasasmita. Ia merasa para perwira senior lulusan Breda seperti dirinya dan Kolonel Hidajat Martaatmadja disisihkan karena dianggap kurang revolusioner dibanding kelompok perwira muda.

Menurut R Didi Kartasasmita pemerintah pusat lebih menyukai para perwira muda yang memiliki kedekatan politik dengan kelompok revolusioner.

Kekecewaan itu semakin bertambah ketika Nasution kemudian diangkat menjadi Kepala Staf TNI menggantikan para perwira yang lebih senior.

Bagi R Didi Kartasasmita hal tersebut bertentangan dengan tradisi dan etika militer yang berlaku saat itu.

Memilih Mengundurkan Diri

Merasa tidak lagi memiliki tempat dalam struktur militer Republik, Didi akhirnya mengajukan pengunduran diri dari TNI.

Presiden Soekarno sebenarnya tidak menghendaki kepergian Didi. Beberapa kali upaya dilakukan untuk membujuknya tetap bertugas. Bahkan Kolonel T.B. Simatupang pernah diutus secara khusus untuk mengajak Didi kembali aktif.

Namun keputusan Didi sudah bulat.

Baca juga: Herman Johannes, Otak di Balik Hancurnya Jembatan Militer Belanda

Menurutnya, ketika dahulu R Didi Kartasasmita membantu membangun tentara Republik, semua itu dilakukan semata-mata sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa, bukan demi jabatan ataupun pangkat.

Ditangkap Belanda, Tetapi Tetap Menolak KNIL

Setelah meninggalkan TNI, Didi sempat ditangkap oleh tentara Belanda di sekitar Purwokerto. Beberapa bulan kemudian, R Didi Kartasasmita dibebaskan atas jaminan langsung dari Panglima KNIL, Jenderal Spoor.

Meski telah keluar dari TNI, R Didi Kartasasmita tetap menolak bergabung kembali dengan KNIL. Ia juga menolak tawaran menjadi Komandan Batalyon Pertahanan Negara Pasundan yang didukung Belanda.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa dirinya tetap berpihak kepada Indonesia.

Sebagai konsekuensinya, KNIL kemudian secara resmi memecat Didi Kartasasmita dengan status tidak hormat karena dianggap mendukung Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1945.

Tokoh yang Terlupakan

Nama R R Didi Kartasasmita mungkin tidak sepopuler Nasution, Oerip Soemohardjo, atau Soedirman. Namun perannya dalam sejarah tidak bisa diabaikan.

R Didi Kartasasmita adalah salah satu perwira profesional pertama yang secara terbuka mengajak para eks anggota KNIL berdiri di belakang Republik Indonesia.

Ia dicap pengkhianat oleh Belanda karena memilih Indonesia. Di sisi lain, ia juga mengalami kekecewaan di dalam tubuh militer Republik yang pernah ia bantu bangun.

Kisah hidup Didi Kartasasmita menunjukkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya diwarnai oleh pertempuran di medan perang, tetapi juga oleh pergulatan kesetiaan, idealisme, dan pengorbanan pribadi yang sering kali terlupakan oleh generasi berikutnya. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru