Nama Dr. Warsito P Taruno mungkin terdengar bersahaja, namun inovasinya telah mengguncang dunia sains internasional. Anak desa asal Karanganyar, Solo, yang masa kecilnya dihabiskan di pematang sawah ini sukses menciptakan teknologi pemindai empat dimensi (4D) pertama di dunia yang bahkan memikat lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA (National Aeronautics and Space Administration).
Lompatan Besar dari Ruko Dua Lantai
Langkah besar Warsito dimulai ketika ia melepas kuliahnya di Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada demi beasiswa penuh ke Jepang pada tahun 1986. Di Negeri Sakura, ia menuntaskan pendidikan dari S-1 hingga meraih gelar Ph. D di Shizuoka University pada tahun 1997. Ketertarikannya pada teknologi tomografi—sains melihat menembus objek—membawa dirinya hijrah ke Amerika Serikat untuk meneliti di Ohio State University.
Sekembalinya ke tanah air, Warsito mendirikan CTECH Labs di sebuah ruko sederhana di Tangerang, Provinsi Banten. Di ruko yang lantai satunya merupakan sebuah warnet inilah, lahir teknologi revolusioner bernama Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT).
Meskipun sempat terpukul akibat data riset bertahun-tahun lenyap karena komputernya tersambar petir, Warsito bangkit dan merampungkan prototipe ECVT pada 2004. Berbeda dengan CT Scan atau MRI yang hanya menghasilkan gambar diam, ECVT mampu memindai objek bergerak secara real-time dari luar tanpa menyentuh objeknya.
Tak butuh waktu lama, paten internasionalnya di Amerika Serikat langsung menjadi incaran raksasa minyak dunia seperti Exxon Mobil, Shell, hingga NASA.
Harapan Baru Terapi Kanker
Tidak hanya untuk industri, Warsito Taruno juga membawa teknologi ECVT ke ranah medis. Ia menciptakan helm pemindai aktivitas otak serta alat terapi kanker berbasis gelombang listrik statis.
Kedahsyatan alat ini terbukti saat ia menguji cobanya pada kakak kandungnya yang mengidap kanker payudara stadium IV, serta seorang pemuda yang lumpuh akibat kanker otak kecil. Keduanya dinyatakan bersih dari sel kanker setelah beberapa bulan terapi. Kini, alat tersebut telah digunakan oleh pasien di berbagai negara, meski dunia kedokteran masih menyikapinya dengan hati-hati sembari menunggu uji klinis yang lebih mendalam.
Berkat dedikasinya, peraih Achmad Bakrie Award 2009 ini dinobatkan sebagai salah satu "Tokoh yang Mengubah Indonesia" oleh Majalah Tempo. Melalui organisasi Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI) yang ia pimpin, Warsito Taruno kini aktif menularkan semangat risetnya ke puluhan kampus di seluruh penjuru negeri. (*)
Editor : Bambang Harianto