Di balik kepemimpinan Presiden ke-2 Republik Indonesia (RI), Soeharto, yang bertahan selama lebih dari tiga dekade, ada sosok perempuan kuat yang setia mendampingi di setiap langkahnya. Beliau adalah Raden Ayu Siti Hartinah, atau yang lebih dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai Ibu Tien Soeharto.
Lebih dari sekadar Ibu Negara, Ibu Tien adalah pilar keluarga Cendana, penggerak berbagai proyek kebudayaan nasional, dan sosok kemanusiaan yang warisannya masih bisa kita nikmati hingga hari ini.
Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia
Garis Keturunan Ningrat dan Cerita Unik Nama 'Tien'
Lahir di Desa Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah pada 23 Agustus 1923, Siti Hartinah merupakan anak kedua dari pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Melalui garis keturunan ibunya, ia merupakan canggah dari Mangkunegara III.
Nama panggilan "Tien" ternyata memiliki asal-usul yang unik. Sejak kecil, karena memiliki kulit yang bersih dan paras yang menawan, orang-orang di sekitarnya sering memujinya dengan sebutan "titiene" (dalam bahasa Jawa berarti "anak yang cantik/rapi"). Lambat laun, ucapan tersebut disingkat menjadi "Tien" dan menjadi nama baptis kasih sayang yang melekat sepanjang hayatnya.
Perjodohan yang Mengubah Lini Masa Sejarah
Kisah cinta Soeharto dan Ibu Tien adalah salah satu romansa paling legendaris di panggung sejarah Indonesia. Hubungan mereka dimulai lewat jalur perjodohan yang diinisiasi oleh ibu angkat Soeharto, Ibu Prawirowihardjo.
Pada awalnya, Soeharto yang kala itu merupakan seorang perwira militer muda sempat merasa ragu dan minder karena perbedaan status sosial, mengingat Siti Hartinah berasal dari keluarga bangsawan (ningrat) Mangkunegaran. Namun, gayung bersambut, keluarga Siti Hartinah menerima pinangan tersebut tanpa memandang kasta.
Mereka resmi menikah pada 26 Desember 1947 di Surakarta tengah situasi perang kemerdekaan yang berkecamuk. Pernikahan ini dikaruniai enam orang anak: Tutut, Sigit, Bambang, Titiek, Tommy, dan Mamiek. Selama hampir 50 tahun pernikahan, Ibu Tien menjadi penasihat spiritual dan emosional paling tepercaya bagi Soeharto.
Baca juga: Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani
Warisan Karya Monumental untuk Bangsa
Sebagai Ibu Negara, Ibu Tien dikenal memiliki visi yang kuat untuk memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia ke mata dunia. Beberapa warisan monumental yang lahir dari ide dan dedikasinya antara lain:
Taman Mini Indonesia Indah (TMII): Terinspirasi dari kunjungannya ke Disneyland di Amerika Serikat, Ibu Tien menggagas sebuah kawasan yang merangkum seluruh kebudayaan, rumah adat, dan keberagaman suku di Indonesia dalam satu tempat. Meski sempat menuai protes saat pembangunannya di awal 1970-an, TMII kini menjelma menjadi pusat pelestarian budaya bangsa terbesar di Indonesia.
Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita: Didorong oleh rasa kemanusiaan dan kepeduliannya yang tinggi terhadap kesehatan ibu dan anak, Ibu Tien mempelopori pembangunan rumah sakit spesialis modern ini di Jakarta.
Taman Buah Mekarsari: Pusat pelestarian keanekaragaman hayati buah-buahan tropis terbesar di dunia yang digagas untuk menyelamatkan plasma nutfah asli Indonesia.
Baca juga: Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Kunci Pembawa Surat Supersemar
Sisi Humanis dan Akhir Hayat Sang Ibu Bangsa
Di balik anggunnya kebaya dan sanggul klasik yang menjadi ciri khasnya, Ibu Tien adalah sosok ibu yang hangat dan protektif terhadap anak-anaknya. Ia dikenal pandai memasak dan selalu memastikan keharmonisan di dalam rumah tangga Cendana di tengah kesibukan mengurus negara.
Ibu Tien Soeharto wafat pada tanggal 28 April 1996 akibat serangan jantung usai menghadiri acara keluarga. Kepergiannya membawa duka mendalam bagi Presiden Soeharto dan seluruh rakyat Indonesia. Beliau kemudian dimakamkan di Astana Giribangun, Karanganyar, kompleks pemakaman keluarga yang anggun di lereng Gunung Lawu.
Atas segala dedikasi, perjuangan, dan pengabdiannya yang tanpa pamrih kepada bangsa, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ibu Tien Soeharto pada tahun 1996, sesaat setelah beliau berpulang. (*)
Editor : Bambang Harianto