1 Juni 1945 Sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Soekarno berpidato soal dasar negara. Di tengah pidato itu, dia menyebut satu nama : Nitisemito.
Nitisemito dijuluki "Raja Kretek" dari Kudus. Salah satu orang terkaya Indonesia saat itu. Orang yang membangun imperium rokok kretek dari nol, tanpa modal, tanpa koneksi, tanpa pendidikan formal.
Baca juga: Kesan Ivan Cahyadi tetang Rantai Bisnis HM Sampoerna
60 tahun kemudian industri yang dia bangun dijual ke perusahaan Amerika seharga Rp 48 triliun.
Nitisemito lahir tahun 1863 di Desa Janggalan, Kabupaten Kudus. Nama kecilnya Roesdi. Anak seorang lurah.
Sebelum jadi pengusaha, Nitisemito pernah jadi buruh jahit. Pedagang kerbau. Penjual minyak kelapa. Kusir dokar. Gagal. Gagal. Gagal. Lalu coba lagi.
Sekitar tahun 1906–1910, Nitisemito mulai bikin rokok kretek. Mereknya Tjap Bal Tiga. Dan dari situ, semuanya tampak beda. Naik drastis.
Di puncak kejayaannya antara tahun 1922–1940 :
Pabriknya mempekerjakan 10.000 sampai 15.000 orang. Produksi jutaan batang per hari. Dia mempromosikan produknya lewat radio, bioskop, bahkan menyewa pesawat Fokker untuk nyebar selebaran iklan dari udara.
Tahun 1920-an. Belum ada TV. Belum ada internet. Tapi Nitisemito sudah paham marketing seperti orang abad 21. Ini bukan cerita dari buku teks. Ini sejarah nyata yang kebanyakan orang Indonesia gak tahu.
Lalu ada Liem Seeng Tee. Imigran dari Fujian yg datang ke Indonesia tahun 1898. Dia buka warung kecil di Jalan Cantian Pojok, Surabaya. Jualan sembako dan tembakau bareng istrinya, Siem Tjiang Nio.
Baca juga: 10 Juta Rokok PT HM Sampoerna Dimusnahkan Bea Cukai Yogyakarta
Tahun 1913, dia mulai bikin rokok kretek sendiri. Perusahaannya: Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Tahun 1930-an, nama itu berubah menjadi yang kita kenal hari ini: Sampoerna.
Dari warung kecil, jadi raksasa industri. Sekarang kita ke bagian yang menyakitkan.
14 Maret 2005, Philip Morris International mengumumkan akuisisi HM Sampoerna. 40% saham dari keluarga. Lalu tender offer sisanya. Total: US$ 5,2 miliar. Sekitar Rp 48 triliun. Harga Rp 10.600 per lembar. Setelah proses selesai, Philip Morris kuasai 97-98% saham.
4 tahun kemudian, 2009, BAT akuisisi Bentoel. 85% saham. US$ 494 juta. Dua warisan kretek terbesar Indonesia. Dua-duanya sekarang milik asing.
Ironinya, Nitisemito membangun dari tangan kosong di era kolonial. Liem Seeng Tee membangun dari warung kecil sebelum Indonesia merdeka.
Baca juga: Keluarga Sampoerna Hindari Kutukan Generasi Keempat
Soekarno menyebut Nitisemito dalam pidato kemerdekaan. Tapi 60 tahun setelah kemerdekaan, industri yg mereka bangun dikuasai perusahaan dari negara yag bahkan tidak pernah punya budaya kretek.
Indonesia merdeka secara politik. Tapi secara ekonomi, warisan budaya kita berpindah tangan ke siapa yang bayar lebih mahal.
Putera Sampoerna punya alasan rasional : regulasi makin ketat, butuh jaringan global, mau diversifikasi. Dan Philip Morris membawa modal dan teknologi. Ribuan pekerja masih bekerja.
Kretek itu Indonesia. Dan sekarang Indonesia cuma jadi pasarnya, bukan pemiliknya. (*)
Editor : S. Anwar