Mengenal Manu, Manusia Pertama Tradisi Hindu

Reporter : Redaksi
Manu

Namanya menjadi asal-usul kata Manusia, Human, dan Manusya.

Masa Hindu-Buddha di Indonesia berlangsung hingga kurang lebih 12 abad, ditandai dengan berdirinya Kutai hingga puncak pengaruhnya di Majapahit.

Baca juga: Nama Asli Agama di Bali Sebelum Bernama Hindu

Dengan total seribu dua ratus tahun "menghiasi" Nusantara, tentunya ada banyak pengaruh Hindu-Buddha yang tertinggal. Salah satunya, kata "manusia" yang berasal dari bahasa Sansakerta "Manushya" berarti keturunan Manu.

Sekarang pertanyaannya, siapa Manu?

Manu dalam tradisi Hindu adalah leluhur manusia di setiap "manvantara" (satuan waktu kehidupan versi Hindu). Kira-kira 1 Manvantara itu berkisar sekitar 300 juta tahun. Alam semesta akan dihancurkan (menurut tradisi Hindu) dalam 1 Kalpa (1 Kalpa berisi 14 Manvantara).

Dalam setiap Manvantara, akan ada satu "manu" yang diturunkan untuk jadi leluhur manusia. Berarti, dalam satu Kalpa, ada 14 "manu" yang diturunkan.

Manu yang paling pertama diberi nama Swayambu Manu. Brahma membagi tubuhnya menjadi dua bagian, 1 bagian menjadi Manu, dan sebagian lagi menjadi seorang perempuan bernama Satarupa. Pasangan ini yang menurunkan apa disebut manava atau manushya.

Tidak hanya Indonesia yang meminjam kata "manu", tapi coba lihat jejak yang dibandingkan para ahli linguistik ini:

Sanskerta: тапи

Avestan: manuš

Gothic: manna

Old English: mann

English: man

Sebagian ahli bahasa mengaitkan kata "Man" (Inggris) dan "Mann" (Jerman) dengan akar kata yang sama seperti "Manu". Sebab, Sanskerta dan bahasa-bahasa Eropa ini sama-sama "keturunan" dari rumpun bahasa Proto-Indo-Eropa purba. Artinya, bukan kebetulan banyak bahasa dunia punya bunyi mirip untuk kata "manusia

Baca juga: Balamon Cham, Suku Hindu di Vietnam

Manu berada dalam kosmologi India yang mengenal siklus zaman, manvantara, kehancuran, dan penciptaan kembali. Tapi, dalam kisah Manu ke-7, ADA BANJIR BANDANG dan KAPAL BESAR!

Dalam Śatapatha Brāhmaņa, seekor ikan kecil datang kepada Manu. Ikan itu meminta perlindungan. Sebagai gantinya, ia memperingatkan akan datang banjir yang akan menghancurkan makhluk-makhluk hidup.

Manu kemudian memelihara ikan itu sampai besar. Dan ikan tersebut menyuruhnya membuat sebuah kapal.

Manu naik ke kapal. Ikan tersebut kemudian menarik kapal menuju gunung di utara. Air perlahan surut.

Setidaknya, demikianlah kisah dalam salah satu versi India kuno tentang banjir Manu.

Kisah ini dipredikasi “sezaman” dengan kisah "Banjir Noah", tapi dua-dua kisah "banjir bandang" ini masih "cukup muda" bila dibandingkan dengan kisah banjir Athrasis (Mesopotamia) apalagi kisah banjir Ziusudra (Sumeria) yang mungkin lebih tua ribuan tahun.

Saat naik kapal, Manu disebut juga ditemani 7 orang bijaksana (Saptarishi) yang ikut naik ke kapal dan selamat bersamanya saat banjir bandang. Tujuh orang ini juga yang dipercaya menyebarkan cerita tentang leluhur mereka (Manu) yang selamat dari banjir bandang dengan membuat kapal besar.

Apakah kisah ini ada kaitan dengan kisah "banjir besar" lainnya? Tentunya tidak bisa dijawab dengan sederhana.

Manu juga diberi tugas oleh Dewa untuk mengamati dunia, lalu menyusun aturan hidup untuk umat manusia berikutnya. Aturan ini diberi nama Manu Smriti, yang menjadi "konstitusi" - pertama bagi manusia dalam tradisi Hindu.

Berbeda dengan Veda yang "buatan Dewa", Manu Smriti adalah buatan "Manu".

Uniknya, Manusmriti di India sekarang mengalami penolakan karena menuliskan hierarki perkastaan manusia yang sedang akan dihapuskan. Karena itu, ada yang mengusulkan menurunkan patung Manu yang ada di depan pengadilan tertinggi di Rajastan, India.

Jadi, kalau di tradisi agama Abrahamik ada Adam... Di tradisi agama Hindu ada MANU.

Dua nama, tapi punya satu premis : asal-usul umat manusia. (*)

*) Source : Pojok seni

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru