Nama Asli Agama di Bali Sebelum Bernama Hindu

avatar Samsul Arifin
  • URL berhasil dicopy
Hindu Bali
Hindu Bali
grosir-buah-surabaya

​Buku sejarah di sekolah sering kali langsung melabeli Bali dengan agama Hindu sejak berabad-abad lalu. Padahal, secara administratif, nama "Hindu" itu baru dipakai secara resmi pada dekade 1950-an pasca-kemerdekaan.

​Sebelum itu, jika kita kembali ke era Bali Mula (kuno), masyarakat setempat menyebut keyakinan mereka sebagai Agama Tirta (Agama Air Suci) atau Agama Dharma. ​Hal ini bahkan dibuktikan dalam catatan kuno seperti Prasasti Penempahan, yang usianya jauh lebih tua sebelum pengaruh Majapahit masuk ke Bali.

​Kenapa disebut Agama Tirta ?

Menurut Sejarawan dan Pengamat Budaya, I Gede Arya Danu Palguna, disebut Agama Tirta karena dalam setiap struktur ritual dan kegiatannya selalu menggunakan air (Tirta) sebagai elemen paling vital—karena air dipandang sebagai poros sumber kehidupan (mulai dari kelahiran, melukat, hingga kematian/ngaben).

​Tapi kenapa harus pakai nama "Hindu"? Apa sih Hindu itu ? 

​Nah, di sini banyak orang yang belum tahu. Biar kita sama-sama paham. 

Kata "Hindu" itu aslinya bukan nama agama, melainkan sebuah istilah geografis. ​Ceritanya, orang-orang Persia kuno dulu menggunakan kata itu untuk menyebut orang-orang yang tinggal di seberang Sungai Sindhu (Sungai Indus di perbatasan India). Karena lidah orang Persia sulit menyebut huruf "S", kata Sindhu berubah pelafalannya menjadi Hindu.

​Jadi, arti asli kata Hindu itu sebenarnya cuma : "Orang yang tinggal di Lembah Sungai Sindhu." Baru pada abad ke-19, penjajah Inggris meresmikan istilah itu sebagai nama agama formal dalam sensus mereka.

​Lalu, kenapa tokoh Bali memilih nama itu tahun 1950-an? Ini dia taktik diplomasi yang sangat jenius.

Pasca-kemerdekaan, Kementerian Agama menetapkan syarat ketat bagi agama resmi: harus monoteis (Satu Tuhan), punya Nabi, dan Kitab Suci tertulis. Karena praktiknya sangat lokal, Agama Tirta saat itu terancam dicap "belum beragama" alias sekadar aliran kepercayaan. Dampaknya ? Hak sipil warga Bali terancam secara hukum negara.

​Melihat ancaman itu, para tokoh Bali tidak tinggal diam. Karena melihat adanya kesamaan akar teologi, mantra, dan sastra kuno dengan Kitab Suci Weda yang berasal dari wilayah India (wilayah Hindu tersebut), mereka secara cerdas merangkul nama "Hindu" dan menegaskan konsep Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

​Tujuannya? Biar Pemerintah pusat tahu kalau keyakinan masyarakat Bali itu bagian dari peradaban spiritual besar dunia, sehingga hak administratif dan hukum masyarakat Bali aman pada tahun 1958, tanpa harus membuang atau mengubah tradisi asli leluhur.

​Sebuah bukti nyata bahwa leluhur kita tidak hanya tinggi secara spiritual, tetapi juga sangat cerdas, pragmatis, dan adaptif dalam membaca peta politik demi melindungi masa depan anak cucunya.

​Sebuah fakta sejarah yang luar biasa, bukan? Bagaimana pendapatmu tentang strategi jenius para leluhur Bali ini?