Salah satu pesantren tertua di Jawa Timur adalah Pesantren Cangaan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pesantren Cangaan mempunyai sejarah panjang perkembangan Islam di Tanah Air.
Dalam sejarahnya, pesantren Cangaan ini tidak lepas dari sosok Mbah Lowo Ijo panggilan dari Syekh Jalaluddin sang pendiri pesantren. Bahkan makamnya hingga saat ini masih terus menjadi kunjungan para peziarah dari berbagai daerah. Pesantren Cangaan sendiri adalah lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri semenjak abad ke 28.
Baca juga: Salah Satu Peran Istri Prajurit TNI, Jadi Panutan di Lingkungan Kedinasan
Riwayat Mbah Lowo Ijo memang masih minim data. Beberapa sumber tradisi menyebutkan bahwa Mbah Lowo Ijo lahir sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-17 Masehi, namun tidak ada catatan tertulis yang menentukan tanggal lahirnya secara pasti. Perkiraan ini berasal dari kisah-kisah lokal mengenai era kehidupan beliau dan hubungan sejarah dengan tokoh ulama lain pada periode tersebut.
Dari sumber tradisional, Mbah Lowo Ijo dikenal memiliki nama asli Syekh Jalaluddin atau Syekh Abdul Qodir. Ulama ini berasal dari lingkungan para ulama yang aktif menyebarkan Islam di pesisir utara Jawa.
Sebutan “Lowo Ijo” sendiri muncul karena sebuah kisah lokal yang menggambarkan bagaimana beliau beribadah dengan cara yang unik yaitu bergelantungan pada dedaunan atau ranting pohon.
Aktivitas dakwahnya kemudian membawanya ke Bangil, Pasuruan. Kemudian sekitar tahun 1710 Masehi, Mbah Lowo Ijo mendirikan Pondok Pesantren Cangaan. Pesantren ini kemudian menjadi pesantren besar yang meluluskan banyak ulama masyhur seperti Kiai Kholil Bangkalan.
Ulama ini kemudian menjadi guru dari tokoh-tokoh penting lainnya dalam tradisi pesantren Indonesia. Pesantren Cangaan adalah salah satu pesantren berpengaruh di Nusantara. Pondok ini menjadi pusat pendidikan tradisional Islam dengan fokus pada kajian kitab-kitab klasik (kitab kuning).
Baca juga: 5.350 Peserta Keluarga Besar TNI Ikuti Literasi Digital
Berdasarkan tradisi lokal yang dihimpun dari catatan sejarah pesantren dan masyarakat, Mbah Lowo Ijo wafat sekitar abad ke-17 Masehi sebelum atau berdekatan dengan masa awal beroperasinya Pesantren. Makam Mbah Lowo Ijo kini berada di Lingkungan Diwet, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil.
Hingga kini makam tersebut menjadi tujuan ziarah masyarakat yang ingin mengenang jasanya. Peziarah akan ramai datang terutama pada malam Jumat dan bulan Ramadan.
Berhubung keterbatasan dokumentasi tertulis dari masa hidupnya, tidak ada daftar buku atau karya tulis yang secara definitif dapat dikaitkan langsung dengan Mbah Lowo Ijo baik dalam bentuk manuskrip maupun yang lainnya. Namun, warisannya terutama terlihat dalam tradisi pengajaran pesantren yang Mbah Lowo Ijo dirikan yaitu fokus pada kajian fundamental Islam seperti tauhid, fikih, tasawuf, dan talim kitab kuning. Hal ini juga masih berlangsung hingga sekarang.
Beberapa naskah klasik yang dipelajari di pesantren ini, termasuk teks-teks tentang ilmu tauhid dan adab, dipandang oleh para santri sebagai bagian dari upaya menjaga metoda keilmuan yang diwariskan oleh para pendiri seperti Mbah Lowo Ijo. Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak hanya diajarkan dari buku, tetapi terutama melalui sanad (rantai guru-murid) yang menghubungkan santri dengan para ulama terdahulu.
Baca juga: Panduan Penyampaian Laporan Tahunan Bagi Wajib Pajak Badan Melalui SABH
Jejak Mbah Lowo Ijo memperlihatkan bagaimana seorang figur sejarah dapat memiliki pengaruh besar walaupun akurasi tanggal-tanggalnya tetap menjadi tantangan bagi penelitian historiografi formal.
Mbah Lowo Ijo adalah sosok yang hidup pada masa ketika tradisi lisan lebih banyak digunakan daripada catatan tulisan, namun karya nyata beliau terus berlanggeng melalui pesantren yang tetap berjaya di tengah modernisasi. Jejaknya memang sunyi, tetapi pesantren yang ia dirikan terus bersuara hingga hari ini. (*)
*) Penulis : Nurul Huda Yang Berjudul "Jejak Sunyi Mbah Lowo Ijo Pendiri Pesantren Cangaan”
Editor : S. Anwar