Hampir di setiap kota besar di Indonesia, kita pasti sering melewati jalan protokol yang dinamai Jalan Basuki Rahmat. Namun, tak banyak yang tahu bahwa sosok di balik nama jalan tersebut adalah seorang jenderal yang memegang salah satu lembar sejarah paling rahasia dan paling krusial di Republik ini.
Beliau adalah Jenderal TNI (Anumerta) Basuki Rahmat, perwira tinggi asal Tuban, Jawa Timur, yang menjadi saksi mata sekaligus pembawa fisik surat sakti bernama Supersemar (Surat Perintah 11 Maret). Surat inilah yang kelak mengubah total peta politik Indonesia dan menjadi jembatan beralihnya kekuasaan dari Bung Karno ke Pak Soeharto.
Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia
Mari kita bongkar kembali kisah menegangkan dari sang jenderal negosiator ulung ini!
1. Anak Yatim Piatu yang Ditempa Militer PETA
Lahir pada 4 November 1921 di Senori, Tuban, masa kecil Basuki Rahmat tidaklah mudah. Ayahnya adalah seorang Wedono (Asisten Residen), namun nasib malang menimpanya. Ibunya meninggal saat ia berusia 4 tahun, dan sang ayah menyusul wafat ketika Basuki baru berumur 11 tahun.
Akibat menjadi yatim piatu, pendidikannya sempat terhenti. Beruntung, ia diasuh oleh pamannya hingga berhasil menamatkan sekolah di SMA Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1942.
Jiwa kesatrianya bangkit ketika Jepang menduduki Indonesia. Ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA), di mana ia langsung dipercaya menjadi Komandan Kompi. Pasca-kemerdekaan, ia mendedikasikan hidupnya di korps militer Jawa Timur, hingga puncaknya menjadi Panglima Kodam V/Brawijaya pada tahun 1962.
2. Penyelamat Istana: Jinakkan Pasukan G30S Tanpa Setetes Darah
Ketegangan politik memuncak pada akhir September 1965. Sebagai Pangdam Brawijaya, Basuki Rahmat mencium pergerakan mencurigakan dari PKI di areanya. Tepat pada malam 30 September, ia terbang ke Jakarta untuk melapor langsung pada Panglima Angkatan Darat, Jenderal Ahmad Yani. Siapa sangka, itu adalah malam terakhir ia melihat sang panglima hidup-hidup.
Keesokan paginya, 1 Oktober 1965, Jakarta mencekam. Saat berkeliling kota dengan mobilnya, Jenderal Basuki Rahmat terkejut melihat anak buahnya sendiri dari Jawa Timur, yaitu Batalyon 530, justru sedang mengepung Istana Negara tanpa identitas yang jelas. Mereka ternyata telah diperalat oleh kelompok G30S.
Baca juga: Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani
Di markas Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto langsung memerintahkan Basuki Rahmat untuk maju menghadapi pasukannya sendiri. Dengan nyali besar dan wibawanya yang dihormati, Basuki masuk ke garis depan dan bernegosiasi. Siasat cerdasnya berhasil! Tanpa perlu meletuskan satu pun tembakan, Batalyon 530 tunduk dan menyerahkan diri ke Kostrad sore harinya. Istana pun berhasil diselamatkan dari pertumpahan darah.
3. Detik-Detik Penyerahan Surat Sakti Supersemar
Puncak peran sejarah Basuki Rahmat terjadi pada 11 Maret 1966. Bersama dua jenderal lainnya, yakni Jenderal M. Jusuf dan Jenderal Amirmachmud, ia diutus menemui Presiden Soekarno yang sedang mengamankan diri di Istana Bogor setelah situasi Jakarta dinilai tidak kondusif.
Di Istana Bogor, terjadi diskusi beralur tegang mengenai stabilitas negara yang terus merosot. Hingga akhirnya, Bung Karno setuju untuk menandatangani sebuah surat perintah darurat.
Sebagai jenderal yang paling senior di antara ketiga utusan tersebut, Basuki Rahmat diberikan kehormatan dan tanggung jawab besar: ia ditunjuk memegang fisik dokumen Supersemar tersebut. Malam itu juga, dengan mengendarai mobil, ketiga jenderal meluncur kembali ke Jakarta. Basuki Rahmat menyerahkan langsung surat perintah itu ke tangan Soeharto di Markas Kostrad—sebuah momen de facto yang memulai babak baru era Orde Baru.
Baca juga: Alasan Harmoko Berbalik Arah dan Tikam Soeharto di Tahun 1998
Akhir Hayat Sang Jenderal Penjaga Stabilitas
Setelah peristiwa bersejarah itu, Jenderal Basuki Rahmat dipercaya mengemban amanah sebagai Menteri Dalam Negeri ke-16. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat fokus pada penataan administrasi daerah yang sempat kacau pasca-krisis nasional.
Namun, pengabdiannya harus terhenti lebih cepat. Pada 9 Januari 1969, Jenderal Basuki Rahmat mengembus napas terakhirnya secara mendadak akibat serangan jantung ketika masih aktif menjabat sebagai menteri.
Pemerintah RI kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional atas jasa besarnya menyelamatkan negara di masa-masa paling kritis. Jasadnya dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Namanya kini abadi di jalan-jalan utama se-Nusantara, mengingatkan kita pada sosok prajurit sejati yang memegang rahasia transisi kekuasaan terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia. (*)
Editor : Bambang Harianto