Bagaimana cara menjaga kedamaian di sebuah negara yang memiliki ribuan perbedaan? Jawabannya ada pada sebuah prinsip legendaris: "Setuju dalam Perbedaan."
Kalimat visioner yang menjadi penopang kerukunan umat beragama di Indonesia ini lahir dari pemikiran genius Prof. Dr. K.H. Abdul Mukti Ali. Beliau adalah mantan Menteri Agama sekaligus arsitek toleransi yang berhasil menjembatani tradisi pesantren dengan ketatnya dunia akademis Barat.
Baca juga: Pendiri Yayasan Panca Wahana Tuding Pemilihan Rektor UNUBA Cacat Hukum
Ditempa di Jalur Sanad Pesantren Tradisional
Lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah pada 23 Agustus 1923, Mukti Ali tumbuh di tengah keluarga saudagar tembakau. Meskipun namanya saat kecil adalah Soedjono, nama indah "Abdul Mukti Ali" ia dapatkan sebagai pemberian langsung dari ulama besar, K.H. Hamid Pasuruan.
Sebelum melanglang buana ke luar negeri, Mukti Ali adalah seorang santri tulen. Mohammad Sadli menempa diri di Pondok Pesantren Termas, Pacitan, di bawah asuhan K.H. Dimyati. Di pesantren tradisional berbasis Nahdlatul Ulama (NU) inilah otak geniusnya diasah dengan melahap kitab-kitab klasik tingkat tinggi. Di Termas pula ia bersahabat akrab dengan K.H. Ali Ma'sum (Rais Aam PBNU 1981-1984) dan bersama-sama merintis berdirinya sebuah madrasah modern di dalam lingkungan pesantren.
Mendobrak Batas hingga ke Kampus Top Kanada
Latar belakang santri tidak membuat pemikiran Mukti Ali menjadi kaku. Usai menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta dan aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), langkah kakinya melesat ke panggung internasional.
Pada tahun 1950, Mohammad Sadli berangkat ke Pakistan dan diterima di Universitas Karachi untuk mendalami Sejarah Islam. Ketajaman analisisnya memikat dunia akademik internasional hingga pada Agustus 1955, Mukti Ali mencetak sejarah dengan mendarat di Montreal, Kanada. Ia berhasil menembus Universitas McGill, salah satu kampus riset terbaik di dunia, untuk mengambil spesialisasi Ilmu Perbandingan Agama (Comparative Religion). Langkah berani ini menjadikannya salah satu santri generasi pertama Indonesia yang sukses menaklukkan dunia akademis Barat.
Baca juga: Pelantikan Pengurus Nahdlatul Ulama Burneh Bangkalan
Menteri Agama sang Arsitek Toleransi
Sepulangnya ke tanah air dengan metodologi ilmiah yang matang, Presiden Soeharto mempercayakan jabatan Menteri Agama Republik Indonesia dalam Kabinet Pembangunan II kepada Mukti Ali.
Di kursi menteri inilah, ilmu perbandingan agama yang ia pelajari di Kanada berpadu harmonis dengan kearifan lokal pesantren. Ia mencetuskan formula kerukunan dengan pendekatan dialogis yang inklusif melalui prinsip "Setuju dalam Perbedaan" (Agree in Disagreement).
Menurutnya, umat beragama tidak perlu mengorbankan atau meleburkan akidah keyakinannya untuk bisa hidup berdampingan. Yang dibutuhkan hanyalah kelapangan dada untuk menghormati keyakinan orang lain. Di bawah kepemimpinannya, wajah kajian Islam di Indonesia berubah menjadi lebih kritis, dinamis, dan damai.
Baca juga: Surat Terbuka untuk Gus Ulil dari Social Movement Institute
Warisan yang Abadi
Prof. Dr. K.H. Abdul Mukti Ali mengembusen napas terakhirnya pada 5 Mei 2004 di usia 80 tahun. Ia berpulang dengan meninggalkan cetak biru kebebasan berpikir yang tak ternilai harganya bagi bangsa ini.
Kisah hidupnya menjadi bukti abadi bahwa menjadi modern dan berwawasan global tidak harus kehilangan jati diri santri. Melalui prinsip "Setuju dalam Perbedaan," Kiai Mukti Ali mengajarkan bahwa keberagaman adalah sebuah anugerah yang harus dirawat dengan ilmu dan kebijaksanaan. (*)
Editor : Bambang Harianto