Boediardjo, Perwira Udara yang Sukses Jadi Menteri Penerangan

Reporter : Ach. Maret S.
Boediardjo

Dalam lembaran sejarah modern Indonesia, posisi Menteri Penerangan selalu diisi oleh tokoh-tokoh dengan kemampuan komunikasi publik di atas rata-rata. Namun, jika kita menengok ke masa-masa awal transisi pemerintahan Orde Baru, ada satu nama perwira militer yang rekam jejaknya sangat luar biasa.

Beliau adalah Boediardjo, seorang perwira tinggi TNI Angkatan Udara yang tidak hanya andal dalam urusan taktis militer, tetapi juga sukses menjelma menjadi diplomat ulung di Asia dan Eropa, hingga didaulat menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia periode 1968–1973.

Baca juga: Brio Putih Tabrak Pohon Dekat Pintu Masuk Selatan Markas Kopasgat Lanud Iswahyudi

Mari kita bedah kisah perjalanan hidup sang perwira multi-talenta yang jarang tersorot media ini!

1. Berawal dari Menara Komunikasi Angkatan Udara

Lahir pada 16 November 1921, Boediardjo muda memilih jalur militer sebagai bentuk pengabdiannya kepada bangsa. Ia meniti karier sebagai perwira di lingkungan TNI Angkatan Udara (TNI AU).

Di dunia militer, ia sangat akrab dengan teknologi komunikasi udara dan sistem radar. Keahlian taktis dalam mengelola alur informasi di internal militer inilah yang secara tidak langsung membentuk insting tajamnya dalam dunia komunikasi publik berskala makro. Kedisiplinan khas prajurit udara berpadu apik dengan kecerdasannya dalam membaca situasi global.

2. Dipercaya Menjadi Diplomat Ulung di Kamboja dan Spanyol

Sebelum dipanggil pulang ke tanah air untuk mengurus birokrasi, reputasi Boediardjo sudah lebih dulu diakui di kancah internasional. Pemerintah Indonesia mempercayainya untuk mengemban misi diplomatik tingkat tinggi sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes) di dua negara yang memiliki karakteristik politik sangat berbeda:

Duta Besar RI untuk Kamboja: Di sini, ia bertugas menjaga ritme hubungan bilateral dan kestabilan politik Indonesia di kawasan Asia Tenggara yang saat itu tengah dinamis.

Baca juga: Daftar 32 Perwira Tinggi TNI yang Naik Pangkat

Duta Besar RI untuk Spanyol: Boediardjo dikirim ke Eropa untuk membuka jembatan diplomasi baru serta memperkuat posisi ekonomi dan kebudayaan Indonesia di mata dunia Barat.

Pengalaman internasional ini menjadikannya salah satu perwira yang memiliki wawasan geopolitik sangat luas di zamannya.

3. Naik Takhta Menggantikan Tokoh Pers Legendaris, B.M. Diah

Puncak karier birokrasi Boediardjo terjadi pada tahun 1968. Saat itu, Presiden Soeharto yang sedang menyusun Kabinet Pembangunan I membutuhkan sosok kuat untuk menata ulang arus informasi negara pasca-krisis politik 1965.

Boediardjo pun ditunjuk sebagai Menteri Penerangan menggantikan tokoh pers legendaris Indonesia, B.M. Diah (sosok yang menyelamatkan draf asli teks Proklamasi yang ditulis tangan oleh Bung Karno).

Baca juga: Marsda Halim Perdanakusuma, Pejuang Kelahiran Kabupaten Sampang

Menjadi penerus B.M. Diah tentu bukan perkara mudah. Namun, selama lima tahun menjabat (1968–1973), Boediardjo sukses menakhodai Departemen Penerangan dengan gaya kepemimpinan yang tegas namun komunikatif. Ia menjadi arsitek utama dalam mendiseminasikan program-program pembangunan nasional ke seluruh pelosok Nusantara.

Kehidupan Pribadi dan Warisan Sang Perwira

Di balik seragam dinasnya yang gagah, Boediardjo adalah seorang kepala keluarga yang sangat hangat. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai empat orang anak yang meneruskan legasi namanya, yaitu Dandung Bardo Kahono, Ennie Angkawati Boediardjo, Grombyang Setyaning Boediardjo, dan Iwan Wiwoho.

Sang purnawirawan Angkatan Udara ini mengembus napas terakhirnya pada 15 Maret 1997 di usia 75 tahun. Kisah hidup Boediardjo adalah bukti nyata bahwa seorang prajurit sejati tidak hanya siap bertempur di medan perang, tetapi juga siap mengabdi lewat jalur pena diplomasi dan komunikasi publik demi kejayaan ibu pertiwi. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru