Strategi Pupuk India Membawa Impor Melonjak 50 Persen
Lanskap pupuk India sedang mengalami perubahan dramatis — dan angka-angkanya tidak mungkin diabaikan.
Antara April dan Januari tahun fiskal 2026, impor pupuk melonjak hingga 50 persen, mencapai 20,9 juta ton. Lonjakan tajam ini terjadi bahkan ketika produksi domestik unsur hara utama seperti urea dan DAP (Diammonium Phosphate) mengalami penurunan.
Produksi Domestik Tertekan
Meskipun terjadi peningkatan marginal dalam total produksi pupuk menjadi 43,75 juta ton, produksi dua unsur hara penting menurun :
Produksi urea turun 2,7% menjadi 25,1 juta ton
Produksi DAP menurun 1,6% menjadi 3,3 juta ton
Sementara itu, Pemerintah terus mempromosikan pupuk varian nano untuk mengurangi konsumsi massal — namun tren permintaan menunjukkan cerita yang berbeda.
Impor Melonjak di Semua Sektor
India — konsumen pupuk terbesar kedua di dunia — telah secara dramatis meningkatkan ketergantungannya pada impor pada tahun fiskal ini.
Berikut angka-angkanya :
Impor urea melonjak 83% menjadi 8,9 juta ton.
Impor DAP naik hampir 40% menjadi 6 juta ton.
Pengiriman NPK (Nitrogen, Fosfor, Kalium) meroket 103% menjadi 3,48 juta ton.
Total impor diproyeksikan melebihi 21 juta ton pada tahun fiskal 2026, dibandingkan dengan 16 juta ton pada tahun fiskal 2025.
Permintaan Tetap Kuat
Meskipun ada upaya kebijakan untuk merasionalisasi penggunaan :
Lebih dari 63 juta ton pupuk bersubsidi didistribusikan kepada petani pada April–Januari tahun fiskal 2026.
Penjualan urea naik 1,9% hingga melampaui 35 juta ton, didorong oleh permintaan yang kuat baik pada musim tanam kharif maupun rabi.
Data menunjukkan bahwa permintaan pertanian tetap tangguh — bahkan ketika manufaktur domestik kesulitan untuk mengimbangi.
Kemandirian versus Ketergantungan Impor
Menurut Kementerian Pupuk India, hampir 73% kebutuhan nutrisi tanah India dipenuhi melalui produksi domestik pada tahun 2025. Total produksi pupuk (urea, DAP, NPK, SSP) meningkat menjadi 52,46 juta ton, naik dari 50,95 juta ton pada tahun 2024.
Namun, kesenjangan yang semakin lebar antara konsumsi dan produksi di segmen-segmen penting menandakan tantangan struktural.
Gambaran yang Lebih Luas
India berada di persimpangan jalan :
Bisakah pupuk nano secara signifikan mengurangi ketergantungan pada pupuk massal?
Akankah perluasan kapasitas domestik mampu memenuhi permintaan?
Atau akankah ketergantungan impor semakin meningkat di tengah volatilitas pasokan global ?
Satu hal yang jelas — pupuk bukan lagi sekadar input pertanian. Kini, pupuk merupakan pengungkit strategis dalam narasi ketahanan pangan dan neraca perdagangan India. (*)
Editor : Redaksi