Beredar Foto Palsu Penangkapan Pangeran Diponegoro
PATRAPADI (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro) mengingatkan masyarakat agar berhat-hati terhadap beredarnya foto palsu penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Tentara Kerajaan Belanda. Foto palsu tersebut beredar luas di berbagai platform media sosial.
Romo RM Suryo Putro, sesepuh PATRAPADI (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro) membuat pernyataan resmi Patrapadi tentang beredar dan viralnya suatu gambar yang diklaim sebagai foto penangkapan Sang Pangeran Diponegoro. Berikut pernyataan resmi PATRAPADI.
Surat Pernyataan Tentang Foto Penangkapan Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro No. 08/B.1-PatraPadi/VII/2026.
Bismillahirrahmanirrahim,
Mencermati dengan seksama adanya peredaran foto di berbagai platform media sosial, yang dideskripsikan sebagai foto penangkapan Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro, Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pemerintah Kolonial Belanda mengijinkan teknologi fotografi masuk ke Hindia Belanda (Nusantara/Indonesia) pada tahun 1840. Sumber: Brian, C., Arnold, A History of Photography in Indonesia, From the Colonial Era to the Digital Age, Amsterdam University Press 2022, Routledge.
2. Penangkapan BPH Diponegoro, terjadi pada tanggal 28 Maret 1830 di Karesidenan Kedu, Magelang, Jawa Tengah. Sumber: "Verslag van het voorgevallene met den Pangeran Dipo-Nogoro kort vöör, bij en na zijne overkomst" (Opgemaakt te Magelang, den 1sten April 1830). "Laporan mengenal peristiwa yang terjadi dengan Pangeran Dipo-Nagoro sesaat sebelum, selama, dan setelah kedatangannya" (Dibuat di Magelang, Tanggal 1 April 1830).
Dengan demikian, saat terjadi penangkapan BPH Diponegoro, teknologi fotografi belum ada, sehingga kecil kemungkinan terjadi pendokumentasian peristiwa melalui foto.
3. Menurut cerita tutur Troh Diponegoro: ketika Belahda menangkap BPH Diponegoro, sempat terjadi keributan. Beliau sendiri kaget dan marah atas terjadinya pengkhianatan perundingan oleh Belanda.
4. Rasa marah BPH Diponegoro, diekspresikan melalui cengkeraman tangan yang membekas pada kursi yang didudukinya. Sementara itu, melihat pimpinannya ditangkap, beberapa Basah (panglima perang) dan pengikut BPH Diponegoro meresponnya dengan mencabut keris dari warangkanya.
Bukti kursi dengan bekas cengkeraman tangan BPH Diponegoro, dapat disaksikan di Museum Kamar Pengabdian Pangeran Diponegoro, eks Kantor Karesidenan Kedu, Magelang, Jawa Tengah
5. Dalam foto penangkapan BPH Diponegoro, terdapat beberapa kejanggalan, diantaranya :
Tidak terlihatnya figur Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock. Sebagai Komandan Tertinggi Tentara Kerajaan Belanda untuk Hindia Belanda, yang sekaligus sebagai inisiator penangkapan BPH Diponegoro, akan menjadi sebuah keanehan atas tidak hadirnya de Kock dalam foto.
Ekspresi BPH Diponegoro mengesankan seorang tawanan yang putus asa, duduk dengan posisi sopan, serta seolah-olah lebih rendah di hadapan para perwira Belanda.
Hal ini berbeda dengan adanya bukti yang menunjukkan kemarahan beliau, yakni adanya bekas cengkeraman tangan di kursi.
Menunjuk hal-hal tersebut di atas, Patra Padi menyatakan bahwa :
Foto penangkapan BPH Diponegoro yang saat ini sedang beredar luas di media sosial, patut diduga kuat merupakan hasil rekayasa yang melibatkan teknologi artificial Intelligence (Al). (*)
Editor : Bambang Harianto