Sosok Mbah Fanani Sang Pertapa Dieng

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Mbah Fanani
Mbah Fanani
grosir-buah-surabaya

Mbah Fanani (memiliki nama asli Kiai Ahmad Fanani). Beliau memilih jalan hidup yang unik. Namanya sempat viral secara nasional lantaran aksi mistisnya yang menetap di dalam tenda plastik sederhana di pinggir jalan raya Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, selama berpuluh-puluh tahun tanpa mengucapkan sepatah kat pun.

Mbah Fanani lahir dari garis keturunan pemuka agama yang terpandang di wilayah Jawa Barat. Beliau berasal dari Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Masa lalunya tumbuh di lingkungan Pondok Pesantren Benda Kerep, sebuah institusi Islam tua yang terkenal sakral di Cirebon. Pihak keluarga juga mengonfirmasi bahwa beliau mewarisi darah pejuang kemerdekaan. Masa Muda Sebelum memutuskan untuk mengasingkan diri dari hiruk-piruk duniawi (uzlah), beliau adalah seorang kiai yang cerdas. Bahkan, beliau sempat memimpin dan mengasuh sebuah pesantren di kawasan Jatisari, Cirebon.

Sebelum akhirnya memilih dataran tinggi Dieng sebagai lokasi menetap yang lama, Mbah Fanani berpindah-pindah tempat untuk menjalankan laku prihatin. Awal Dekade 1970-an Beliau sempat terlihat mengasingkan diri di area Kesambi, Lempeng, Cilamaya, Kabupaten Karawang. 

Saat itu, masyarakat awam kerap memandang sebelah mata karena penampilannya yang sangat sederhana dan tidak terawat. Akhir Dekade 1970-an Beliau sempat singgah selama beberapa hari di Desa Rejemeti, Jagapura, Cirebon sebelum akhirnya berpindah lagi.

Era 2000 hingga 2017, Mbah Fanani mulai menetap di Jalan Raya Dieng. Di sinilah beliau mempraktikkan filosofi topo ngrame (bertapa di tengah keramaian masyarakat). Sebelum diberikan tenda plastik oleh warga setempat, kondisi Mbah Fanani saat pertama kali datang ke kawasan dataran tinggi Dieng Kulon sangat memprihatinkan karena beliau bertapa dalam kondisi luntang-lantung dan langsung bersentuhan dengan alam bebas.

Mbah Fanani hanya duduk diam di emperan toko atau di pinggir jalan raya depan rumah warga. Beliau tidak memiliki tempat berteduh sama sekali.

Hanya beralaskan sarung dan celana pendek, beliau terbukti sanggup bertahan menghadapi cuaca ekstrem Dieng yang membeku tanpa pernah berbicara.

Dunia maya sempat gempar pada April 2017 ketika Mbah Fanani mendadak dijemput oleh sekelompok orang menggunakan iring-iringan mobil. Beliau dipindahkan ke Petilasan Dampu Awang di wilayah Indramayu, Jawa Barat.Langkah ini diambil berdasarkan kesepakatan spiritual keluarga. Kendati demikian, setelah lewat satu bulan tinggal di Indramayu, Mbah Fanani memilih untuk kembali lagi ke tenda lamanya di kawasan Dieng guna meneruskan laku spiritualnya. (*)