Tragedi Vaksin Maut Saat Penjajahan Jepang di Indonesia
Salah satu kejahatan perang Jepang yang mengerikan ialah tragedi vaksin maut Klender 1944. Tragedi ini disebut salah satu kejahatan medis sekaligus konspirasi terbesar yang dilakukan Jepang di Indonesia.
Banyak masyarakat Indonesia yang secara paksa untuk mengikuti Romusha. Tentu dari tenaga kerja paksa tersebut, kondisi kesehatan warga sangat buruk. Oleh karna itu, Militer Jepang melakukan vaksinasi untuk upaya pencegahan berbagai penyakit.
Pihak Jepang menyuruh Lembaga Eijikman untuk mengadakan vaksinasi tersebut. Ratusan hingga ribuan masyarakat dikumpulkan untuk disuntik vaksin kombinasi.
Masalahnya, setelah menerima suntikan tersebut, banyak yang meninggal dengan menyakitkan, kejang-kejang dan gangguan pernafasan. Diperkirakan ada 900 masyarakat meninggal dalam waktu singkat karna vaksin tersebut.
Setelah diusut, ternyata vaksin tersebut telah terkontaminasi kuman tetanus. Pihak Jepang lantas menyalahkan lembaga Eijkman. Nama Achmad Mochtar, Direktur Lembaga Eijkman, muncul oleh Pemerintah Jepang untuk dituduh bertanggung jawab atas vaksin tersebut.
Achmad Mochtar ditangkap, dipaksa, disiksa untuk bertanggung jawab pada insiden tersebut. Pada saat itu, Achmad Mochtar lebih memilih menandatangi pengakuan yang tidak pernah dilakukannya, untuk membebaskan 18 orang teman yang diancam hukuman mati juga.
Akhirnya Achmad Mochtar dihukum pancung untuk menyelamatkan teman-temannya. Salah satu konspirasi besar dari tragedi ini adalah kekejian Jepang yang menggunakan manusia sebagai kelinci percobaan.
Jepang lah yang bersalah atas vaksin "Tragedi Maut Klender 1944" ini yang memang uji coba keefektifan vaksin hasil eksperimen untuk kebutuhan tentara jepang. Diketahui walaupun sudah mengalami gejala tidak mengenakan, beberapa masyarakat tetap dipaksa tetap melanjutkan vaksinisasi. Peristiwa ini sering juga dikatikan dengan Unit 731, yaitu satuan rahasia penelitian senjata biologis dan kimia Jepang yang memang sering melakukan eksperimen medis ilegal pada manusia hidup, kepada tahanan warga sipil, tanpa anestesi.
Kegagalan vaksin yang membuat masyarakat meninggal secara menderita dan malah mengkambing hitamkan Indonesia, membuat Profesor dr Achmad Mochtar harus berkorban. Achmad Mochtar sering dikenang sebagai martir kedokteran Indonesia. (*)
Editor : S. Anwar