Opening Ceremony Piala Dunia U-17 2023

Mengapa Orang Tua Mulai Meninggalkan Sd Negeri Untuk Anaknya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Siswa di SDN Nailan
Siswa di SDN Nailan
grosir-buah-surabaya

Kasus Sekolah Dasar (SD) Negeri Nailan di Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, yang selama dua tahun berturut-turut tidak memperoleh murid baru, memunculkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar nasib satu sekolah. Mengapa sekolah negeri yang dahulu menjadi pilihan utama masyarakat kini mulai kehilangan peminat? Apakah kualitas sekolah negeri benar-benar menurun, atau justru telah terjadi perubahan cara pandang orang tua terhadap pendidikan anak?

Publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan jawaban yang menarik. Melalui analisis berbasis Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, BPS menemukan bahwa sekolah negeri memang masih mendominasi dengan 75,9% siswa, sedangkan 24,1�rsekolah di swasta. 

Meski demikian, arah perubahannya sangat jelas: minat terhadap sekolah swasta terus meningkat. Sejak 2014 jumlah SD Negeri justru terus menurun, sedangkan jumlah SD Swasta meningkat sekitar 37%. Lebih mencolok lagi, jumlah siswa SD Negeri turun sekitar 15%, sementara jumlah siswa SD Swasta meningkat hampir 50% dibandingkan tahun dasar 2013 [1].

BPS menjelaskan bahwa fenomena tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain persepsi terhadap kualitas layanan, fasilitas yang lebih baik, kurikulum yang lebih fleksibel, lingkungan belajar yang lebih kondusif, serta penurunan angka kelahiran yang menyebabkan persaingan antarsekolah semakin ketat. Analisis regresi logistik bahkan menunjukkan bahwa keluarga dari kelompok ekonomi atas memiliki peluang sekitar empat kali lebih besar memilih sekolah swasta dibandingkan kelompok miskin (Odds Ratio ≈ 4,0) [1].

Analisis tersebut sangat kuat dari sisi statistik. Akan tetapi, ada satu variabel yang tampaknya belum memperoleh perhatian yang memadai, yaitu orientasi keagamaan keluarga.

Di banyak daerah di Indonesia, keputusan orang tua memilih sekolah dasar bukan semata-mata persoalan kualitas akademik atau kemampuan ekonomi. Pilihan terhadap MIN, MI, atau SD Islam sering kali merupakan pilihan terhadap sistem nilai yang ingin diwariskan kepada anak. Orang tua berharap anak tumbuh dalam lingkungan yang membiasakan salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, mempelajari akhlak, memiliki teman sebaya dengan nilai yang sama, dan hidup dalam budaya sekolah yang religius. Keputusan seperti ini tidak selalu dapat dijelaskan oleh variabel pendapatan atau tingkat pendidikan orang tua.

Kasus SD Negeri Nailan memperlihatkan fenomena tersebut secara nyata. Kepala Desa Nailan menyatakan bahwa masyarakat lebih memilih MIN (Madrasah Ibtidiyah Negeri) karena dianggap memiliki pendidikan agama yang lebih kuat. Penjelasan ini menunjukkan bahwa preferensi masyarakat lebih dipengaruhi oleh orientasi nilai daripada sekadar status sekolah negeri atau swasta.

Fenomena ini sebenarnya sangat masuk akal jika dilihat dari perspektif psikologi perkembangan.

Jean Piaget menjelaskan bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahap concrete operational, ketika kemampuan berpikir logis mulai berkembang dan aturan-aturan sosial mulai dipahami secara sistematis [4]. 

Erik Erikson menyebut fase ini sebagai tahap industry versus inferiority, yaitu masa ketika anak membangun rasa percaya diri, kedisiplinan, dan identitas melalui pengalaman di sekolah [5]. 

Lawrence Kohlberg juga menjelaskan bahwa pada usia sekolah dasar perkembangan moral anak mulai memasuki tahap konvensional, ketika nilai, aturan, dan otoritas mulai diinternalisasi menjadi bagian dari kepribadian [6].

Ketiga teori tersebut memberikan pesan yang sama: Sekolah Dasar adalah fase pembentukan fondasi karakter manusia.

Konsekuensinya, pilihan sekolah dasar menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar memilih tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Orang tua sedang menentukan lingkungan yang akan membentuk kebiasaan, moral, cara berpikir, bahkan identitas anaknya.

Inilah sebabnya mengapa banyak keluarga rela membayar biaya pendidikan yang jauh lebih tinggi untuk memasukkan anak ke sekolah berbasis agama. Mereka tidak sedang membeli layanan akademik semata, tetapi sedang berinvestasi pada pembentukan karakter.

Penelitian-penelitian sebelumnya juga mendukung pandangan tersebut. OECD menunjukkan bahwa orang tua dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung lebih aktif memilih sekolah yang dianggap sesuai dengan aspirasi pendidikan anak karena memiliki akses informasi dan sumber daya yang lebih baik [2]. 

UNESCO juga menegaskan bahwa pendidikan orang tua, terutama ibu, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pendidikan dan capaian belajar anak [3]. Temuan-temuan ini dikutip pula dalam publikasi BPS sebagai landasan teoritis analisis mereka. 

Menariknya, BPS juga mengingatkan bahwa dominasi sekolah swasta di beberapa provinsi tidak otomatis berarti kualitas akademiknya lebih tinggi. Ada penelitian yang menemukan lulusan sekolah swasta memiliki kinerja lebih baik di pasar kerja, tetapi ada pula penelitian yang menunjukkan siswa sekolah negeri memperoleh hasil ujian nasional lebih tinggi. Artinya, keputusan orang tua merupakan hasil interaksi berbagai faktor: reputasi sekolah, akses, lingkungan belajar, kondisi sosial ekonomi, dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada anak. 

Karena itu, jika pemerintah ingin memahami mengapa sebagian SD Negeri kehilangan murid, pendekatan ekonomi saja tidak lagi cukup. Variabel seperti pendapatan, pendidikan orang tua, atau lokasi tempat tinggal memang penting, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan perilaku masyarakat Indonesia.

Pendekatan yang lebih komprehensif perlu memasukkan dimensi budaya dan psikologis, seperti orientasi keagamaan keluarga, persepsi terhadap pendidikan karakter, citra sekolah, pengaruh tokoh agama, rekomendasi alumni, hingga kepercayaan masyarakat terhadap lingkungan belajar. Variabel-variabel tersebut kemungkinan besar memiliki daya jelaskan yang sangat kuat, terutama pada jenjang pendidikan dasar.

Barangkali inilah pelajaran terbesar dari kasus SD Negeri Nailan. Persaingan sekolah pada abad ke-21 bukan lagi sekadar persaingan gedung yang lebih megah atau fasilitas yang lebih lengkap. Persaingan sesungguhnya adalah persaingan membangun kepercayaan. Orang tua memilih sekolah yang mereka yakini mampu membentuk manusia yang mereka cita-citakan.

Selama kebijakan pendidikan masih memandang keputusan orang tua semata-mata sebagai persoalan ekonomi, kita hanya akan memahami sebagian dari cerita. Sebaliknya, ketika orientasi nilai, pembentukan karakter, dan psikologi perkembangan anak ikut dimasukkan ke dalam analisis, kita akan melihat gambaran yang jauh lebih utuh: pada jenjang sekolah dasar, orang tua sesungguhnya tidak sedang memilih sekolah, melainkan sedang memilih masa depan karakter anaknya.

REFERENSI

[1] Badan Pusat Statistik. Cerita Data Statistik untuk Indonesia: Memilih Masa Depan – Faktor Penentu Preferensi Sekolah Negeri vs Swasta, Volume 2 Nomor 7, 2025. ([Badan Pusat Statistik Indonesia][1])

[2] OECD. Education at a Glance (2022).

[3] UNESCO. Global Education Monitoring Report (2020).

[4] Piaget, J. (1964). Development and Learning.

[5] Erikson, E. H. (1963). Childhood and Society.

[6] Kohlberg, L. (1981). Essays on Moral Development.

*) Penulis : Syahiduz Zaman (Dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)