KH Romly Tamim Pengarang Doa Saaltuka yang Diamalkan Jutaan Orang
Hampir di setiap istighotsah Nahdlatul Ulama, jutaan jamaah melantunkan doa yang diawali dengan kalimat :
سَأَلْتُكَ يَا غَفَّارُ عَفْوًا وَتَوْبَةٌ وَبِالْقَهْرِ يَا قَهَّارُ خُذْ مَنْ تَحَيَّلَا
Banyak yang mengamalkannya. Banyak yang menangis ketika membacanya. Namun tidak banyak yang mengetahui, penyusun rangkaian Istighotsah Sa'altuka itu adalah seorang ulama besar dan juga Mursyid Thoriqoh asal Rejoso, Jombang : KH Romly Tamim
Perjalanan Ilmu
KH Romly Tamim lahir di lingkungan pesantren Rejoso, Peterongan, Kabupaten Jombang. Sejak kecil, KH Romly Tamim tumbuh dalam keluarga ulama dan ditempa dengan pendidikan agama yang kuat.
KH Romly Tamim kemudian memperdalam ilmu kepada banyak masyayikh, di antaranya berguru kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari di Pondok Pesantren Tebuireng, serta beberapa ulama besar lainnya.
Selain mendalami fikih dan hadits, KH Romly Tamim juga menekuni ilmu tasawuf hingga menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang sangat dihormati.
Salah satu warisan terbesar KH Romly Tamim adalah rangkaian doa Istighotsah Sa'altuka. Doa ini disusun sebagai munajat seorang hamba yang penuh harap kepada Allah.
Bukan sekadar bacaan.
Tetapi latihan menghadirkan rasa fakir di hadapan Allah. Karena itulah hingga hari ini, Istighotsah Sa'altuka terus dibaca dalam majelis-majelis NU, pesantren, dan berbagai majelis dzikir di seluruh Indonesia. Warisan beliau tidak berupa bangunan megah. Tetapi doa yang terus mengalir dari lisan jutaan umat.
Di Pesantren Darul Ulum Rejoso, KH Romly Tamim dikenal sangat disiplin, sederhana, dan istiqamah.
KH Romly Tamim lebih banyak mendidik melalui contoh daripada banyak berbicara. Bagi beliau, ilmu harus melahirkan adab. Zikir harus melahirkan akhlak. Dan seorang santri harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat.
Salah satu pesan yang diwariskan melalui perjuangan beliau adalah bahwa :
"Jangan pernah meninggalkan doa dan dzikir. Sebab di situlah letak kekuatan seorang mukmin ketika semua ikhtiar telah dilakukan."
Warisan terbesar seorang ulama bukan hanya kitab yang ditulis. Tetapi hati-hati yang hidup karena mengingat Allah.
Hari ini, mungkin banyak orang mengenal Istighotsah Sa'altuka, tetapi belum mengenal penyusunnya.
KH Romly Tamim mengajarkan bahwa kekuatan umat bukan hanya dibangun dengan ilmu, tetapi juga dengan doa, zikir, dan tawadhu'.
Mungkin kita tidak mampu menjadi ulama sebesar beliau. Tetapi kita bisa mulai dengan menjaga wirid, memperbanyak doa, dan mencintai majelis ilmu. (*)
Editor : S. Anwar