Kisah Hidup Kiai Hamid Pasuruan yang Jarang Dibicarakan
Rumah tangganya pernah diuji bertahun-tahun, dua anaknya meninggal dunia. namun, kesabaran kiai hamid pasuruan justru mengajarkan arti keluarga.
Di balik sosok KH Abdul Hamid dari Pasuruan yang dikenal luas sebagai seorang ulama besar, ada kisah kehidupan keluarga yang mungkin jarang dibicarakan. Kisah tentang kesabaran seorang suami, seorang ayah, dan seorang kepala keluarga.
Saat baru menikah, kehidupan KH Hamid jauh dari kemewahan. Untuk menghidupi keluarganya, beliau setiap hari mengayuh sepeda sejauh 30 kilometer pulang-pergi untuk bekerja sebagai blantik sepeda. Namun, perjuangan mencari nafkah itu bukan satu-satunya ujian yang harus beliau hadapi.
Menurut KH Hasan Abdillah, adik dari istrinya, selama dua tahun pertama pernikahan, Nyai Nafisah belum bisa hidup rukun dengan Kiai Hamid. Bahkan, dalam kehidupan rumah tangga mereka, Kiai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun. Namun, tidak pernah terdengar keluhan dari lisannya.
Ujian keluarga mereka juga datang melalui kehilangan. Dua anak mereka, Anas dan Zainab, meninggal dunia ketika masih bayi. Namun, ketika melihat istrinya begitu terpukul, KH Hamid tidak memarahinya karena kesedihan itu. Beliau justru mengajaknya pergi, berusaha menghibur hati istrinya yang sedang berduka.
Kesabaran itu juga terlihat ketika mendidik anak-anaknya. KH Idris, putranya, menuturkan bahwa dirinya tidak pernah dipukul oleh sang ayah. Bahkan ketika hendak marah kepada anaknya, Kiai Hamid sering kali menangis terlebih dahulu.
"Angel dukane, gampang nyepurane." Sulit marahnya, mudah memaafkannya.
Mungkin karena itulah, KH Hamid pernah berkata, "Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak utowo keluarga, ndak endang munggah derajate."
Orang tua, kalau tidak pernah diuji oleh anak atau keluarganya, tidak lekas naik derajatnya. Bagi beliau, ujian keluarga bukan selalu alasan untuk membalas dengan kemarahan. Kadang, ia adalah jalan untuk belajar sabar.
KH Hamid mengajarkan bahwa keluarga bahagia bukan keluarga yang tidak pernah memiliki masalah. Tetapi keluarga yang memiliki seseorang yang mau memilih sabar ketika ada alasan untuk marah, memilih memaafkan ketika ada kesempatan untuk membalas, dan memilih memberi teladan daripada hanya banyak menasihati.
Mungkin itulah sebabnya, kelembutan hati KH Hamid tidak hanya dirasakan keluarganya. Bahkan ketika seorang pencuri tertangkap di rumahnya, beliau melarang santri memukulinya dan membiarkannya pulang dengan aman. (*)
Editor : S. Anwar