Kisah Karomah KH Hamid Pasuruan
Kisah karomah KH Hamid dari Kabupaten Pasuruan dikenal luas para santri dan masyarakat. Bahkan para habaib juga mengakui karomah KH Hamid yang penuh kesejukan.
Sosok KH Hamid Pasuruan memberikan keteladanan yang luar biasa dalam menjaga amanah hidup dan menjaga spirit rohani yang selalu tersambung dengan yang ilahi.
Kisah karomah KH Hamid ini menjadi pelajaran hidup sangat berharga bagi santri dan masyarakat. Berikut ini beberapa kisah yang sangat menggugah hati kita semua terkait karomah KH Hamid Pasuruan.
Tahu Sebelum Dikasih Tahu
KH Hamid dianugrahi mengetahui apa yang ada di benak orang. Misykat misalnya, dia sering tertebak apa yang ada dibenaknya.
"Beliau tahu apa maunya orang," katanya.
"Saya kalau ada apa-apa belum bilang, beliau sudah menjawab".
Hal yang sama dialami Gus Shobich Ubay, Ahmad Afandi, Syamsul Huda, Gus Hadi Ahmad, dan lain-lain. Rata-rata mereka punya pengalaman, sebelum sempat mengadu, diberi jawaban terlebih dahulu.
Said Amdad Pasuruan, dulunya tidak percaya pada wali. Dia orang rasional. Mendengar kewalian KH Hamid yang tersohor kemana-mana, dia jadi penasaran. Suatu kali ia ingin mengetes.
"Saya ingin diberi makan KH hamid. Coba dia tahu apa tidak," katanya dalam hati ketika pulang dari Surabaya.
Setiba di Pasuruan, dia langsung ke pondok Salafiyah, pesantrennya Karomah Hamid.
Waktu itu pas mau jamaah Sholat Isya', usai Sholat Isya ia tidak langsung keluar, membaca wirid dulu. Sekitar pukul 20.30 WIB, jamaah sudah pulang semua. Lampu teras rumah KH Hamid pun sudah dipadamkan. Dia melangkah keluar. Dia melihat orang melambaikan tangan dari rumah KH Hamid. Dia pun menghampiri. Ternyata yang melambaikan tangan adalah tuan rumah alias KH Hamid.
"Makan disini ya" kata KH Hamid.
Di ruang tengah hidangan sudah ditata.
"Maaf ya, lauknya seadanya saja. Sampeyan tidak bilang dulu sih," kata KH Hamid dengan ramahnya. Said merasa disindir, sejak itu dia percaya KH hamid adalah seorang wali.
Kambing Mau Datang, KH Hamid Tahu
KH Hamid adalah seorang yang kasyaƄ. Berkat kasyaf-nya atau kemampuan clairvoyance ini, beliau bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Suatu kali Misykat diberi pisang oleh Kiai Hamid.
"Ini makan, kulitnya kasihkan kambing," katanya.
Padahal tidak ada kambing, ya kulitnya dia buang. Habis Ashar dia dipanggil.
"Mana kulit pisangnya?" tanyanya.
"Saya buang, Yai" jawabnya.
"Lho, disuruh kasihkan kambing kambing tapi kok di buang" kata KH Hamid.
Ternyata tidak lama kemudian ada orang mengantar kambing.
Pada kali yang lain Misykat disuruh menyediakan lauk daging ayam.
"Bilang sama Nyai, Yai ingin makan ayam," katanya.
"Tidak ada daging ayam besok aja kita motong," kata Nyai.
Lepas maghrib misykat dipanggil lagi.
"Lihat di atas meja itu kan daging ayam" kata beliau.
Ternyata betul diatas meja ada daging ayam yang baru saja diantar orang.
Tiba-tiba ada yang pulang.
Suatu malam beliau pergi ke Madura bersama keluarga dalam satu mobil. Beliau, Nyai Nafisah dan Gus Idris. Sampai di pelabuhan Tanjung Perak, ternyata sudah 15 mobil yang antri. Sementara kapal yang hendak mengangkut mereka belum datang, Kapal tersebut adalah kapal terakhir dalam jadwal hari itu. Padahal satu kapal hanya bisa memuat 15 mobil.
KH Hamid menyuruh kang Said, sopir, tetap disitu. Eh, tahu-tahu mobil di depannya memutar balik, mungkin tak sabar menunggu atau apa.
Masih cerita Gus Idris, Mahfuzh Hafizh Surabaya mau pergi haji. Oleh KH Hamid ia dibekali 3 biji kurma. Disuruh menanam di Makkah. Sebelum berangkat, temannya di Jakarta yang juga mau berangkat ke Makkah, memaksa minta satu biji kurma tadi. Terpaksa diberikan. Di Makkah, Mahfuzh mendapat musibah. Ayah dan adiknya meninggal dunia. Sedangkan dari rombongan temannya dari Jakarta tadi, ada seorang yang wafat di tanah suci.
Santri Punya Hutang Jatuh Tempo Buktikan Karomah KH Hamid Pasuruan
Asmawi gundah gulana. la harus membayar hutang yang jatuh tempo. Jumlahnya Rp 300.000. Jumlah itu sangat besar untuk ukuran waktu itu. Hutang itu buat pembangunan masjid.
Asmawi sempat menangis saking sedihnya. Darimana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu?
Pikirannya jadi buntu. Dia melapor ke KH Hamid.
"Laopo nangis sik onok Yai, (mengapa menangis masih ada Kiai)" beliau menghibur.
Lalu KH Hamid menyuruh menggoyang-goyangkan pohon kelengkeng di depan rumah beliau. Daun-daun yang berguguran disuruh ambil, diserahkan kepada KH Hamid. KH Hamid meletakan tangannya dibelakang tubuh, terus memasukannya ke saku. Begitu dikeluarkan ternyata daun-daun di tangannya berubah menjadi uang kertas.
KH Hamid menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng satunya lagi. Daunnya diambil, terus tangan beliau dibawa kebelakang tubuh (punggung) lalu dimasukkkan ke saku dan daun-daunnya sudah menjadi uang kertas. Setelah dihitung, ternyata jumlahnya Rp 225.000. Alhamdulilah masih kurang Rp 75.000.
Tiba-tiba ada tamu datang memberi Kia Hamid Rp 75.000, jadi pas.
Kisah-kisah ini bersumber dari buku Biografi KH Abdul Hamid Pasuruan.
*) Sumber: Kisah Kramat Wali Wali Allah
Editor : Bambang Harianto