Kisah H Nurhin dan Modal Rp 10 Miliar dari Abah Guru Sekumpul

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
H Nurhin
H Nurhin
grosir-buah-surabaya

Nama H Nurhin tidak asing bagi orang Kalimantan Selatan. H Nurhin dikenal sebagai sosok pengusaha sukses dan juga dermawan. 

Sampai ke titik ini, perjalanan hidup H Nurhin tidak mudah. H Nurhin hidup dari keluarga yang lumayan susah, sampai tidak sanggup menyelesaikan sekolah di Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam. Saat di Ponpes Darussalam, H Nurhin cuma punya 2 sarung dan 4 baju.

Waktu mengenyam pendidikan di Madrasah di Nahdlatussalam Anjir Serapat, Kalimantan Selatan, H Nurhin membuat layangan dan dijual agar bisa beli baju dan kebutuhan sekolah lainnya.

Dulu H Nurhin bercita-cita ingin menjadi guru. Namun ketika sekolah di Pendidikan Guru Agam (PGA) Banjarmasin, H Nurhin tidak sanggup melanjutkan pendidikannya hingga selesai. Akhirnya di umur 19 tahun, H Nurhin ikut kakaknya berjualan pakaian di pasar malam.

H Nurhin juga pernah merantau ke Balikpapan untuk menjual pakaian yang dibawanya dari Banjarmasin. Setelah pulang ke Banjarmasin, H Nurhin mulai sering pulang pergi ke Tanah Abang, Jakarta, untuk mengambil barang-barang yang akan dijualnya lagi di Banjarmasin.

Namun tidak lama, H Nurhin mengalami musibah kebakaran. Barang jualannya habis semua terbakar. Modal belum kembali, hutang di Tanah Abang masih ada Rp 60 juta.

Namun, hal itu dianggap sebagai musibah. Bagi H Nurhin, dimana pun dia berada, dia tidak pernah meninggalkan sholat. Apabila sampai waktunya, dia bergegas sholat.

Sehingga para penjual di Tanah Abang yang melihat kepribadiannya, sangat amat percaya kepada H Nurhin. H Nurhin kembali menyuruh untuk tetap melanjutkan berjualan pakaian walaupun hutang belum lunas.

Setelah bangkit kembali berjualan pakaian dan hutang Rp 60 juta lunas, H Nurhin memutuskan untuk berhenti berjualan.

Setelah itu, H Nurhin memulai pekerjaan menjahit. Pada zaman itu, kain sasirangan hanya untuk hiasan atau sebagai adat tradisi penolak bala.

H Nurhin mencoba mengusulkan kepada Gubernur Kalimantan Selatan dan meminta izin, apakah boleh kain sasirangan dijadikan baju atau dijahit menjadi pakaian pria dan wanita, agar kain sasirangan menjadi sesuatu oleh-oleh Kalimantan Selatan yang bisa dibawa orang luar.

Gubernur Kalimantan Selatan mengizinkan. Bahkan menjadi pakaian dihari tertentu untuk para Mentri dan anggota kepemerintahan lainnya.

Dari sinilah usaha H Nurhin mulai ada kemajuan. H Nurhin terus mengembangkan usaha konveksinya dengan mempekerjakan 1000 ibu rumah tangga, hingga terus bertambah ke bisnis properti seperti perumahan.

Waktu mondok di Darussalam Martapura, H Nurhin menyewa rumah berdiam dengan 5 orang lainnya dipinggir sungai. Waktu itun Abah Guru Sekumpul selalu menaruh perahu di depan rumah sewaan H Nurhin. Kadang kala Abah Guru naik, minta dibuatkan teh.

Dulu Abah Guru Sekumpul masih belum masyhur dan masih dikenal dengan Guru Ijai. Yang masyhur adalah pamannya, yaitu Guru Semman Mulia.

Abah Guru Sekumpul suka memancing dan menembak burung. Dan berangkat sering menggunakan perahu.

Kata H Nurhin, dulu waktu masih berjualan pakaian, dia sudah jarang ke pengajian Abah Guru. Tapi setelah bisnis di kain sasirangan, H Nurhin bisa meluangkan waktu seminggu sekali hadir.

Ketika Abah Guru Sekumpul sudah mulai sakit-sakitan, H Nurhin sering dipanggil Abah Guru untuk menemani cuci darah. Kapanpun Abah Guru memanggil, H Nurhin selalu usahakan datang.

Karena usaha sudah mulai jalan dengan baik dan ada anak buah yang bisa menjaga tanpa harus H Nurhin langsung yang turun, sehingga H Nurhin bisa meluangkan waktunya untuk Abah Guru.

Di tahun 1998 di rumah Abah Guru Sekumpul, Abah Guru Sekumpul tahu kalau H Nurhin ingin membeli tanah yang mahal. 

Abah Guru berkata, “Beli aja tanah yang kamu mau itu”.

Tapi kata H Nurhin, “Dananya belum ada dan tidak cukup”.

Kemudian Abah Guru Sekumpul masuk ke dalam kamar dan keluar membawa uang lebih Rp 10 miliar. H Nurhin pun terkejut melihat uang di hadapan sebanyak itu dan bertanya untuk apa.

Kata Abah Guru, “Ini uang belikan tanah yang kamu mau dan dibangunkan apapun yang kamu inginkan”.

Tapi H Nurhin menolak, karena uangnya banyak dan takut tidak bisa mengembalikan.

Abah Guru meyakinkan, “Apabila kamu ditakdirkan rugi, maka rugi. Tapi apabila kamu ditakdirkan berhasil, maka berhasil. Jika kamu rugi, uang ini terhitung dari detik ini juga aku berikan menjadi hak milik kamu. Tapi apabila kamu berhasil dan untung, maka keuntungannya bagi denganku. Dan jika kamu sanggup mengembalikan modalnya, kembalikan”.

Akhirnya uang itu dipakai untuk membeli tanah dan dibangunkan 20 ruko 3 tingkat. Waktu itu belum ada ruko yang 3 tingkat, yang ada hanya toko sepetak.

Karena uangnya dari Abah Guru Sekumpul yang pasti berkah luar biasa, 20 ruko itu cepat habis terjualnya, sehingga H Nurhin bisa mengembalikan uang Rp 10 miliar lebih itu dan memberikan keuntungan kepada Abah Guru Sekumpul.

Sejak saat itu, uang hasil dari Abah Guru Sekumpul selalu diputar untuk menambah bisnis properti hingga menjadi sukses sampai sekarang.

Kata H Nurhin menasehati anak istrinya, “Bahwa harta kita semua ini adalah milik Abah Guru, bukan harta kita”.

H Nurhin sangat mentakzimkan semua harta yang dimiliki bukan miliknya, tapi milik Abah Guru Sekumpul.

Banyak orang yang bekerja ikut H Nurhin mengatakan kalau waktu sholat tiba, para karyawan disuruh berhenti dulu dan segera kerjakan sholat.

H Nurhin dekat dengan hampir semua ulama di Kalimantan Selatan. Bukan hanya dekat, tapi H Nurhin selalu membantu para guru-guru di saat kesusahan. Bahkan di setiap sakitnya Guru Sekumpul. dan wafatnya Guru Sekumpul, H Nurhin selalu ada siap siaga dengan dana dan tenaganya. (*)

*) Source : Raji Erma Bahiyyah