Kisah Nabi Tidak Marah Saat Seorang Lelaki Mencuri dari Zakat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi
grosir-buah-surabaya

Pada suatu hari di Madinah, matahari sedang tinggi-tingginya. Penduduk berkumpul di dekat tempat penyimpanan zakat. Di sana terdapat gandum, kurma, dan sedekah dari kaum Muslimin yang ditujukan untuk fakir miskin.

Di antara kerumunan, seorang gadis kecil bernama Safiyyah, berusia sekitar 9 tahun, duduk di dekat bayangan pohon kurma. Ia menunggu ibunya yang sedang membantu membagikan zakat.

Safiyyah adalah anak yang lembut, suka memperhatikan orang, dan hatinya sangat mudah tersentuh. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat dadanya berdebar.

Seorang lelaki miskin tampak gelisah, matanya merah, bajunya lusuh, dan tubuhnya kurus. Dengan tangan bergetar, ia mengambil beberapa genggam kurma dari tumpukan zakat—diam-diam, sambil melihat sekeliling. Safiyyah terkejut. Ia tahu itu salah, tapi ia juga melihat rasa takut di wajah lelaki itu.

Beberapa sahabat melihat kejadian itu dan langsung menghampirinya. Mereka menangkap tangan lelaki itu dan membawanya dengan tegang ke hadapan Rasulullah Muhammad SAW.

Gadis kecil itu mengikuti dari belakang, penuh rasa penasaran dan gemetar. --- Saat sampai di hadapan Nabi Muhammad SAW. Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, lelaki ini mencuri dari zakat!”

Lelaki itu menunduk, tangan bergetar, air matanya pecah.

Sambungnya: “Demi Allah, aku dan keluargaku lapar… anak-anak menangis… aku tidak tahu harus bagaimana…”

Safiyyah melihat dari samping. Ia hanya melihat punggung Rasulullah Muhammad SAW — lembut, tenang, tidak bergerak sedikit pun dengan kemarahan.

Nabi Muhammad SAW bertanya dengan suara yang begitu lembut: “Benarkah engkau mengambilnya?”

Lelaki itu menangis, mengangguk, kemudian berkata: “Aku tidak berniat berbuat buruk… aku hanya seorang ayah yang tidak mampu.”

Para sahabat mengira Rasulullah Muhammad SAW akan menegurnya keras. Namun… Beliau tetap diam sejenak. Tenang. Penuh kasih. Lalu beliau berkata: “Ambillah. Itu hakmu. Zakat untuk orang-orang sepertimu.” Semua orang terdiam. Lelaki itu mendongak, terkejut, tak percaya.

Rasulullah Muhammad SAW melanjutkan: “Zakat tidak diberikan dengan memalukan, tidak pula diberikan dengan memarahi. Ia adalah penolong bagi yang membutuhkan.”

Lelaki itu jatuh bersujud sambil menangis. Safiyyah melihat adegan itu dengan mata berbinar. Ia ikut menangis—bukan karena sedih, tapi karena kagum. Ia melihat bagaimana Nabi Muhammad SAW menuntun hati, bukan hanya mengatur hukum.

Rasulullah Muhammad SAW kemudian menghampiri lelaki itu, menepuk pundaknya, dan berkata: “Jika engkau lapar lagi, datanglah… jangan mengambil diam-diam. Kemiskinanmu bukan aib.”

Lelaki itu mengangguk sambil menangis—kali ini karena bahagia. --- Setelah kejadian itu… Safiyyah mendekat kepada ibunya dan berkata: “Ibu… mengapa Rasulullah tidak marah? Padahal dia mencuri…”

Ibunya tersenyum dan menjawab : “Karena Rasulullah tahu bahwa tidak semua kesalahan berasal dari keburukan. Kadang kesalahan berasal dari perut yang lapar.”

Safiyyah menatap Rasulullah Muhammad SAW yang sedang membagikan zakat dengan senyum paling lembut. Dalam hati kecilnya ia berkata: “Andai semua manusia selembut itu… pasti tidak ada yang kelaparan atau merasa sendiri.”

*) Source : Bukhari