Bahaya Semprot Parfum di Leher
Kenapa banyak orang menyemprot parfum di leher? Karena katanya wanginya lebih tahan lama. Tapi ternyata… dari sudut pandang dermatologi dan toksikologi, ini bukan tempat yang paling aman. Ada beberapa hal yang jarang dibahas soal ini. Dan alasannya ternyata cukup menarik. Mari kita bahas :
Kulit leher itu beda dengan kulit tubuh lain. Analoginya gini: Bayangkan kulit seperti tembok rumah. Ada tembok yang tebal, ada yang tipis. Nah, kulit leher itu seperti tembok yang lebih tipis.
Lapisan pelindungnya (stratum corneum) lebih tipis, dan pembuluh darahnya lebih banyak. Artinya? Zat dari luar lebih mudah masuk ke jaringan kulit.
Selain itu, leher juga termasuk area yang sering kena sinar matahari (ultraviolet/UV). Padahal beberapa komponen parfum bisa bereaksi dengan UV. Misalnya senyawa furocoumarins yang ada di aroma citrus atau bergamot. Kalau kena UV, bisa terjadi: stres oksidatif peradangan kulit hiperpigmentasi Kondisi ini dikenal sebagai Berloque dermatitis.
Sekarang kita bahas cara kerja parfum. Banyak orang mengira parfum bekerja dengan cara diserap tubuh. Padahal sebenarnya tidak. Parfum bekerja seperti uap kopi panas.
Saat disemprot: pelarut (biasanya alkohol) menguap molekul aroma naik ke udara hidung kita menangkap aromanya Jadi sebenarnya yang kita cium adalah molekul yang menguap, bukan yang diserap kulit.
Tapi tetap saja ada sebagian kecil zat parfum yang bisa masuk ke kulit. Apalagi kalau disemprot di area kulit tipis seperti leher. Masalah lain yang sering muncul adalah:
Allergic Contact Dermatitis Parfum adalah salah satu alergen kontak paling sering, setelah nikel. Beberapa pemicunya misalnya isoeugenol, cinnamal, cinnamyl, alcohol, hydroxycitronellal.
Ada juga isu yang sering dibahas dalam penelitian: Beberapa bahan parfum sintetis seperti phthalates, polycyclic musks, sedang diteliti sebagai endocrine disrupting chemicals (EDCs). Artinya zat ini bisa mengganggu sistem hormon. Beberapa studi epidemiologi mengaitkan paparan phthalates dengan: penurunan kualitas sperma gangguan ovulasi Walau efeknya biasanya terjadi pada paparan kronis dan tinggi.
EDCs bekerja seperti penipu di sistem hormon tubuh. Bayangkan hormon seperti kunci dan reseptor seperti gembok. Nah zat ini bisa meniru hormon memblok reseptor hormon mengganggu produksi hormone. Akibatnya sistem hormonal bisa kacau sinyalnya.
Jadi kalau mau pakai parfum, dimana tempat yang lebih aman? Gunakan di area yang kulitnya lebih tebal, tidak terlalu kena matahari. Contohnya pergelangan tangan bagian dalam, lipatan siku, belakang lutut, pakaian dekat leher (bukan kulitnya).
Kesimpulannya :
Menyemprot parfum di leher memang membuat aroma lebih “keluar”. Tapi dari sudut pandang kesehatan kulit, ada beberapa risiko yang perlu dipertimbangkan, yaitu fototoksisitas, dermatitis kontak, penyerapan bahan kimia, potensi gangguan hormone.
Jadi bukan berarti tidak boleh, tapi pakai dengan lebih bijak. Karena wangi itu penting, tapi kulit dan kesehatan juga penting. (*)
*) Tubagus Siswadi W
Editor : S. Anwar