Abuya Syari Penjaga Pusaka Golok Ciomas
Berdasarkan catatan silsilah, Abuya Syar'i lahir pada 8 Oktober 1870. Hingga saat ini, beliau diyakini telah berusia lebih dari 150 tahun, menjadikannya salah satu ulama tertua yang masih hidup di Indonesia.
Di balik kemasyhurannya, sosok ulama karismatik Abuya Syar'i Ciomas (KH Ratu Bagus Syah Ahmad Syar'i Mertakusuma) bertindak sebagai figur ulama sepuh yang dihormati sebagai pengayom spiritual utama dari tradisi adiluhung ini.
Golok Ciomas, Pusaka Sakral dan Peran Spiritual Abuya Syar'i.
Tradisi pembuatan Golok Ciomas bukanlah sekadar aktivitas menempa besi biasa, melainkan sebuah artefak kebudayaan bernilai spiritual tinggi yang telah eksis sejak abad ke-16 pada masa Kesultanan Banten.
Asal-Usul dan Kedahsyatan Tradisi Golok Ciomas.
Sejarah mencatat bahwa Golok Ciomas awalnya merupakan simbol perlawanan rakyat terhadap kolonialisme sekaligus alat pertahanan diri para jawara dan bangsawan Banten. Berdasarkan catatan ada dua benda keramat pusaka paling tua yang melandasi tradisi ini:
1. Godam Ki Cengkuk (Si Denok)
Palu godam sakral peninggalan leluhur yang digunakan untuk menempa besi.
2. Si Rebo Golok induk legendaris.
Kedua pusaka suci ini disimpan dengan sangat rapat dan hanya dikeluarkan satu tahun sekali untuk dibersihkan di hadapan publik pada Ritual Maulid (12 Mulud) di bulan Rabiul Awal.
Ritual Penempaan yang Ketat dan Nilai Sakral.
Berdasarkan jurnal ilmiah kebudayaan, Golok Ciomas asli tidak diproduksi secara massal atau komersial sembarangan.
Para pande golok (empu) harus melewati rangkaian laku tirakat yang sangat ketat, meliputi :
Melakukan puasa khusus sebelum menyentuh besi baja.
Melantunkan bacaan dzikir dan wirid tanpa putus selama proses pembakaran besi.
Menghitung hari baik berdasarkan kalender Islam untuk menentukan waktu penempaan.
Menggunakan bahan besi kuno aji peninggalan zaman dahulu yang dicari dari hasil penggalian tanah berabad-abad.
Menurut cerita masyarakat Ciomas Peran Abuya Syar'i Pemberi Napas Spiritual.
Di sinilah letak peran krusial Abuya Syar'i Ciomas. Sebagai ulama "Paku Bumi" tertua di wilayah tersebut, beliau bertindak sebagai pilar batin. Sebelum atau sesudah besi-besi pilihan tersebut ditempa oleh para empu menggunakan replika berkah dari Godam Si Denok, bilah-bilah golok tersebut dibawa ke hadapan Abuya Syar'i untuk didoakan secara khusus.
Doa, tiupan, dan restu spiritual dari lisan Abuya Syar'i diyakini mentransfer energi positif ke dalam bilah logam tersebut. Karomah batin beliau dipercaya membuat Golok Ciomas memancarkan filosofi "Kekuatan Genggaman"—sebuah konsep holistik yang menyatukan kekuatan fisik, kejernihan pikiran, dan ketakwaan spiritual.
Golok Ciomas sejatinya adalah Simbol Perdamaian. Karomah doa yang tertanam di dalamnya membawa beberapa dampak nyata yang diyakini secara luas. Wallahu a'lam bishawab. (*)
Editor : S. Anwar