Agus Salim Menteri Paling Miskin dan Hidup di Kontrakan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
H Agus Salim dan Zainatun Nahar
H Agus Salim dan Zainatun Nahar
grosir-buah-surabaya

Dari gang ke gang sampai akhir hayatnya dunia mengenalnya sebagai "The Grand Old Man". Diplomat jenius yang menguasai 9 bahasa asing. Pria yang disegani lawan debatnya di Liga Bangsa Bangsa (sekarang Perserikatan Bangsa Bangsa). 

Dialah H Agus Salim. Tapi dibalik jas mentareng dan rokok kreteknya tersimpan kehidupan asli yang jauh dari kata mewah, bahkan bisa dibilang sangat melarat untuk ukuran seorang pejabat Negara. 

Di balik keteguhan Agus Salim ada seorang wanita hebat bernama Zainatun Nahar. Zainatun Nahar bukan sosok isteri pejabat yang sibuk arisan atau pamer kemewahan. Zainatun adalah wanita yang rela hidup nomaden. 

Selama mendampingi suaminya mereka tidak pernah memiliki rumah pribadi, mereka selalu berpindah dari kontrakan sempit ke kontrakan lain di gang-gang becek Jakarta (Tanah Abang, Jatinegara, Karet). 

Gaji Agus Salim sebagai pejabat sering kali habis untuk perjuangan dan sedekah. Saking sulitnya ekonomi mereka, Zainatun sering memutar otak agar anak-anaknya bisa makan. 

Pernah suatu hari tidak ada uang belanja, tapi Zainatun tidak mengeluh. Ia mengolah apa yang ada. Ia tetap tersenyum menyambut suaminya pulang meski di meja makan hanya ada nasi dan kecap. 

Kisah paling legendaris terjadi saat mereka mengontrak di gang sempit di Tanah Abang, Jakarta. Saat itu hujan deras dan rumah mereka bocor parah, air masuk ke ruang tamu. Kebetulan ada tamu penting (Tokoh Pergerakan) yang datang berkunjung. 

Apakah Agus Salim malu? Tidak, ia justru mengajak istrinya bernyanyi sambil menaruh ember-ember di bawah bocoran air. Dengan jenaka, Agus Salim berkata kepada tamunya, "Maaf, nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur bendungan. Sebentar lagi kita akan punya kolam renang di dalam rumah". 

Mereka tertawa bersama. Zainatun tidak merasa hina, ia justru bangga. Bahwa kemiskinan harta tidak bisa merampas kebahagiaan dan harga diri keluarga mereka. 

Sebenarnya mudah saja bagi Agus Salim untuk menerima "hadiah" rumah atau uang dari kawan-kawannya, tapi ia dan Zainatun sepakat menolaknya. 

Mereka memegang prinsip "Leiden is Lijdn" : memimpin itu menderita. Mereka tidak mau hidup enak dari fasilitas Negara, sementara rakyatnya masih sengsara. 

Hingga Agus Salim wafat pada 4 November 1954, ia tetap tidak punya rumah sendiri. Ia mewariskan nama besar tapi tidak harta benda. Zainatun melepas kepergian suaminya dgn tegar. 

Ia tahu suaminya adalah mutiara yg tak perlu dibungkus kotak emas untuk bersinar. (*)