Jalan Hidup Didi Kempot, dar Pengamen Jalanan hingga ke Studio Rekaman
Lahir di Solo, 1966. Ayahnya aktor ketoprak legendaris Srimulat, ibunya seorang pesindhen. Darah seni mengalir deras, tapi Didi Kempot memilih jalurnya sendiri. Didi Kempot jual sepeda pemberian ayahnya demi beli gitar, lalu turun ke jalanan.
1987, Didi Kempot merantau ke Jakarta bersama kawan-kawan sesama pengamen. Mereka menyebut diri Kelompok Pengamen Trotoar, disingkat Kempot. Nama itu yang kemudian ia bawa seumur hidup sebagai identitas dan kebanggaan
Berkali-kali demo kasetnya ditolak studio rekaman. Tapi ia tidak berhenti menitipkan lagu. 1989, Musica Studio's akhirnya membuka pintu. Lagu Cidro lahir dari penolakan nyata yang ia alami sendiri. Dan justru itulah yang membuatnya menyentuh jutaan orang.
Stasiun Balapan meledak. Suriname dan Eropa menyambut campursarinya. Lalu 2019, generasi milenial menemukannya kembali dan menyebutnya The Godfather of Broken Heart. Musik berbahasa Jawa itu tiba-tiba jadi bahasa semua orang.
April 2020, di tengah pandemi, Didi Kempot gelar konser amal dari rumahnya. Dalam dua jam pertama, donasi tembus Rp 4 miliar. Total Rp 7,6 miliar terkumpul untuk 33.850 keluarga terdampak. la buktikan musik bisa jadi alat kemanusiaan yang nyata.
5 Mei 2020, ia pergi. Tapi lebih dari 700 lagu tetap mengalun. Kini ada Didi Kempot Al untuk jaga warisannya. la pernah bilang : lara ati oleh, ning tetep kerja. (*)
Editor : Bambang Harianto