Hasan bin Ali dalam Pelukan Racun

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi
grosir-buah-surabaya

Tubuhnya gemetar hebat. Nafasnya tersengal. Racun yang merambat dalam tubuhnya terasa seperti api yang membakar dari ujung kaki sampai ke dada. Keringat dingin membasahi wajah "sang cucu" Hasan bin Ali itu. 

Di sekelilingnya, keluarga hanya bisa berdiri membisu. Tak ada yang sanggup berbuat apa-apa selain menangis pelan. 

Di sisi kepalanya duduk Husayn bin Ali. Kedua tangannya menggenggam tangan sang kakak yang mulai dingin. Jemarinya bergetar. Air mata menetes satu demi satu, jatuh ke kulit Hasan yang pucat. 

Hasan membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur. Bibirnya bergerak dengan susah payah. 

Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, “Adikku, aku pernah merasakan racun. Tiga kali sebelumnya.” 

Ia terdiam. Dadanya naik turun dengan susah. Nafasnya seperti hendak putus. Lalu dengan suara yang lebih lirih, hampir seperti hembusan terakhir, ia berbisik, “Tapi demi Allah, belum pernah seberat ini.” 

Mendengar itu, dada Husain seperti diremas. Ia menunduk, menangis tanpa suara. Lalu kepalanya terangkat, matanya memerah, suaranya pecah menahan marah. 

“Siapa yang melakukan ini padamu, wahai kakakku? Katakan! Demi Allah, aku akan membalasnya!” 

Ruangan seketika hening. Semua menatap Hasan. Mereka tahu, ia mengenal pelakunya. Ia tahu racun itu datang dari tangan yang paling dekat dengannya. Dari seseorang yang tinggal satu atap. Dari seseorang yang pernah ia percaya sepenuh hati. 

Namun Hasan hanya menatap adiknya dengan mata penuh kasih. Bibirnya yang pucat membentuk senyum kecil. Senyum seorang yang sedang menahan luka yang tak terlukiskan. Ia menggeleng pelan. Tidak. Ia tidak akan menyebut nama itu. 

Ia tahu siapa Husain. Ia tahu bila nama itu terucap, maka malam itu juga Madinah akan berlumuran darah. Dan sepanjang hidupnya, Hasan selalu memilih memadamkan api… bukan menyalakannya. Racun terus bekerja. 

Tubuhnya meringkuk menahan sakit. Sesekali tangannya menekan perutnya. Wajahnya menegang. Dari bibirnya keluar desahan lirih yang membuat hati siapa pun hancur mendengarnya. 

Melihat kakaknya seperti itu, Husain menggenggam tangannya lebih erat. Dengan suara bergetar ia mencoba menenangkan, meski air matanya tak berhenti. 

“Wahai Abu Muhammad, sabarlah. Kematian hanyalah perpindahan. Ruhmu akan bertemu ayah kita, Ali ibn Abi Talib. Engkau akan bertemu ibu kita, Fatimah al-Zahra. Engkau akan bertemu kakek kita, sang Baginda Rosulullah Muhammad.” 

Belum sempat kalimat itu selesai, tiba-tiba wajah Hasan berubah. Raut sakit yang sejak tadi menyiksanya perlahan menghilang. Matanya yang sayu terbuka lebar. Pandangannya menatap ke satu titik di sudut ruanga seolah melihat sesuatu yang tak terlihat oleh siapa pun. 

Semua terdiam. Tak ada suara selain isak tangis yang tertahan. Hasan menatap Husain. Ada cahaya aneh di matanya. Suaranya sangat pelan, tapi jelas. 

“Adikku, sekarang aku sedang menghadapi sesuatu yang belum pernah kuhadapi sebelumnya.” 

Tubuh Husain gemetar. Ia mendekatkan telinganya ke bibir sang kakak. Hasan berbisik. Suara itu hampir lenyap bersama nafas terakhirnya. 

“Aku sedang melihat makhluk Allah… yang belum pernah kulihat.” 

Setelah itu, ia menatap langit-langit rumah. Bibirnya bergerak lirih menyebut nama kakeknya.

Air mata mengalir dari sudut matanya. Lalu tangannya yang ada di genggaman Husain perlahan terlepas. Dan malam di Madinah menjadi saksi : satu cahaya dari rumah Ahlul Bayt telah padam. 

*) Kisah Sayyidina Hasan bin Ali: Dalam Pelukan Racun Menyentuh kisah Sayyidina Hasan bin Ali saat menghadapi racun mematikan. Temukan kisah penuh inspirasi dan pengorbanan.