Daan Mogot, Mayor berusia 17 Tahun yang Gugur Demi Merah Putih

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Daan Mogot
Daan Mogot
grosir-buah-surabaya

Daan Mogot, Mayor berusia 17 tahun yang gugur demi Merah Putih. Namun, ironisnya, hanya sedikit yang mengetahui siapa sebenarnya sosok di balik nama jalan sepanjang sekitar 27,5 kilometer tersebut.

Namanya Mayor Elias Daniel "Daan" Mogot, salah satu pahlawan termuda dalam sejarah

Daan Mogot lahir di Manado pada 28 Desember 1928. Sejak kecil, ia dikenal cerdas, disiplin, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, Indonesia justru sedang berada dalam masa penjajahan yang penuh penderitaan.

Di usia sekitar 14 tahun, ia bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Kemampuan Daan berkembang sangat cepat. Ia dikenal sebagai pemuda yang berani, cakap memimpin, dan memiliki kemampuan militer di atas rata-rata. Bahkan, ia pernah dipercaya menjadi pelatih PETA di Bali.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Daan bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Negara yang baru lahir membutuhkan banyak pemimpin muda untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya kekuasaan asing. Kepercayaan besar pun diberikan kepadanya. 

Dalam usia sekitar 16 tahun, dengan pangkat Mayor, Daan bersama rekan-rekannya mendirikan sekaligus memimpin Akademi Militer Tangerang. Disana ia mendidik puluhan taruna muda agar siap mempertahankan republik yang baru saja lahir.

Namun, takdir mempertemukannya dengan sebuah peristiwa yang kemudian tercatat sebagai salah satu tragedi paling menyedihkan dalam sejarah awal Republik Indonesia. Tanggal 25 Januari 1946, Daan Mogot memimpin sekitar 70 taruna Akademi Militer Tangerang menuju Desa Lengkong, Tangerang. Misi mereka bukan menyerang, melainkan melakukan perundingan damai untuk melucuti persenjataan pasukan Jepang yang masih berada di bawah komando Kapten Abe.

Harapan mereka sederhana. Jika senjata Jepang dapat diserahkan secara damai, pertumpahan darah bisa dihindari. Namun sejarah berkata lain.

Di tengah proses penyerahan senjata, tiba-tiba terjadi letusan tembakan. Situasi langsung berubah menjadi medan pertempuran yang sangat tidak seimbang.

Para taruna Indonesia yang sebagian besar masih sangat muda harus menghadapi tentara Jepang yang lebih berpengalaman dan memiliki persenjataan lengkap.

Di tengah hujan peluru, Daan Mogot tidak memilih menyelamatkan diri. Ia tetap berada di garis depan memimpin anak buahnya.

Sebuah peluru menghantam pahanya. Tak lama kemudian, peluru lain menembus dadanya. Meski terluka parah, ia masih berusaha merebut senjata musuh dan terus memberi semangat kepada para Taruna agar tidak menyerah.

Tubuhnya akhirnya roboh di medan Lengkong.

Hari itu, Daan Mogot gugur bersama puluhan taruna muda lainnya. Mereka bahkan belum sempat menikmati arti kemerdekaan yang baru beberapa bulan diproklamasikan. Usianya baru 17 tahun.

Jenazah Daan Mogot kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang. 

Untuk mengenang pengorbanan para taruna tersebut, Pemerintah membangun Monumen Palagan Lengkong di Tangerang Selatan, sebagai pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan darah para pemuda.

Sebagai bentuk penghormatan, nama Daan Mogot diabadikan menjadi salah satu jalan utama yang menghubungkan Jakarta Barat hingga Kota Tangerang. Setiap hari, jutaan orang melintasinya, meski mungkin tak pernah mengetahui bahwa nama itu adalah milik seorang remaja yang rela kehilangan masa depan agar bangsanya memiliki masa depan.

Kisah Daan Mogot mengajarkan bahwa kepahlawanan tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari besarnya keberanian, ketulusan, dan pengorbanan. Di usia ketika banyak orang masih mencari jati diri, ia justru telah memilih mempertaruhkan nyawanya demi merah putih.

Semoga setiap kali kita melihat papan bertuliskan Jalan Daan Mogot, tetapi juga mengenang seorang pemuda yang telah membuktikan bahwa cinta kepada tanah air terkadang harus dibayar dengan pengorbanan yang paling mahal. (*)