Saksi Hidup Dalam Tragedi Sambas 1999, Konflik antara Suku Madura vs Melayu
Kerusuhan Sambas di Kalimantan Barat pada tahun 1999 menjadi salah satu konflik suku paling mematikan dan kelam dalam sejarah Indonesia. Salah satu saksi hidup dalam tragedi Sambas diutarakan oleh Ce May dalam akun Instagramnya, @ maymay_liaw.
“Konten ini bukan untuk membuka kebencian lama, tapi menjadi pengingat pentingnya menjaga ucapan, menjaga perilaku dan menghormati perbedaan. Karena kadang, satu tindakan atau emosi yang tidak terkendali bukan cuma berdampak ke diri sendiri, tapi juga bisa menyeret dan memberi stigma kepada kaum kita di tengah kemajemukan Indonesia. Semoga tragedi Kerusuhan Sambas 1999 tidak pernah terulang lagi dan kita semua bisa hidup lebih rukun tanpa memandang suku maupun latar belakang,” katanya.
Berikut kisah Ce May sebagai saksi hidup dalam tragedi Sambas di tahun 1999.
Tionghoa Kalimantan Barat (Kalbar) tidak pernah mengalami tragedi Mei 1998. Tapi setahun setelahnya, kami menjadi saksi konflik berdarah yang jarang diceritakan.
Kerusuhan Sambas 1999 : Konflik suku antara Melayu vs Madura
Aku lahir dan besar di sebuah terpencil di Kabupaten Sambas bernama Jawai, dan ini ceritaku sebagai Tionghoa yang melewati salah satu konflik suku mematikan di Pulau Kalimantan. Yang lebih memilukan lagi, Kerusuhan Sambas 1999 itu bermula dari desaku sendiri: Jawai.
Jawai adalah salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Lokasinya terpisah dengan Kota Sambas, Tebas, dan Pemangkat oleh Sungai Sambas. Boleh dibilang cukup terisolir dari kota.
Saat itu, belum ada Jembatan Besar, jadi jika ingin ke kota kami harus menyebrang sungai dengan feri atau sampan. Sampai disini kebayangkan jika terjadi apa-apa, evakuasi bukan hal yang mudah.
Waktu itu, Ce May masih kecil, sekitar 9 tahun. Rumah orang tuaku berada di tengah kebun, tidak jauh dari beberapa keluarga Madura.
Sejak lama, ada stigma yang beredar tentang orang Madura, sering dicap negatif, seperti suka mencuri atau keras. Tapi selama yang aku tahu, kami tidak pernah ada masalah apa-apa dengan orang Madura tersebut.
Kami, Tionghoa dan Madura, sama-sama pendatang di Kabupaten Sambas, sama-sama minoritas di tempat yang sama. Selama turun-temurun, Tionghoa hidup berdampingan rukun dengan Melayu dan Dayak di Sambas.
Namun hubungan sebagian kelompok Madura dan Melayu cukup sering mengalami gesekan sosial sejak lama. Situasi ini jadi salah satu latar terjadinya Kerusuhan Sambas pada tahun 1999.
Sentimen yang terakumulasi selama bertahun-tahun membuat konflik kecil saat itu cepat membesar dan sulit dikendalikan.
Kronologi
Januari 1999, berawal dari kasus pencurian motor yang diduga melibatkan seorang oknum pemuda Madura. Namun entah bagaimana, kasus itu kemudian bereskalasi dan berkembang menjadi konflik besar antardesa di Kabupaten Sambas, hingga akhirnya memicu Kerusuhan Sambas 1999.
Banyak orang di desa tidak pernah menyangka tahun 1999 akan menjadi tahun paling mencekam yang pernah kami alami.
Dari tengah kebun, malam itu kami sekeluarga, nenek yang sudah sepuh, papa mama dan 8 anaknya termasuk aku mendengar dentuman berkali-kali. Di kejauhan terlihat asap mengepul ke langit.
Ada rumah yang dibakar malam itu. Tanda kerusuhan telah meletus.
Sejak saat itu, kampung berubah mencekam. Pembantaian mulai terjadi. Orang-orang mulai takut dan saling curiga. Sekolah bahkan diliburkan.
Sebagai anak kecil, aku belum paham apa itu konflik antarsuku. Aku hanya tahu ada orang yang dibantai dan rumahnya dibakar. Tapi anehnya, orang tua kami tetap bertahan di tengah kebun, dekat keluarga.
Madura yang saat itu jadi sasaran amuk massa. Mungkin karena papa mama merasa selama ini kami orang Tionghoa tidak pernah ikut macam-macam, jadi akan tetap aman di rumah.
Sampai suatu hari, Jin Pak-kerabat jauh papa, datang dengan wajah serius.
Kalian harus evakuasi. Perang suku sedang terjadi. Rumah kami tanpa listrik, malam hari lingkungan sekitar benar-benar gelap gulita. Jadi kerabat kami khawatir dengan keamanan kami. Ketika tinggal di rumah Jin Pak di pinggir jalan raya, kerusuhan semakin berkecamuk.
Waktu itu aku sedang sakit demam tinggi, muntah-muntah dan badan lemas.
Suatu hari, terdengar sorakan dari jalan. Saat itu aku keluar mengintip dari jendela karena terlalu penasaran. Tapi orang tua melarang dan menyuruhku masuk kamar.
Belakangan aku baru tahu dari cerita kerabat, ternyata saat itu, orang-orang lewat naik mobil pick up membawa kapal keliling kampung.
Situasi sudah semengerikan itu. Aparat bahkan tidak mampu mengendalikan keadaan lagi.
Setelah kerusuhan Sambas 1999 mulai mereda, kampung tetap terasa sangat mencekam. Sunyi... tapi bukan sunyi yang tenang.
Orang-orang Madura yang dulu tinggal dekat kami menghilang. Rumah-rumah mereka kosong. Dan yang paling diingat Ce May sampai sekarang.
Kami bahkan tidak berani bertanya ke mana mereka pergi.
Tragedi Sambas di tahun 1999, sebanyak 1.189 orang tewas, 168 terluka berat, 34 luka ringan, 3.833 rumah dibakar dan dirusak, serta 12 mobil dan 9 motor dibakar atau dirusak. Sebanyak 58.544 warga Madura mengungsi dari Kabupaten Sambas ke Pontianak.
Tugu Ketupat Berdarah di Dusun Parit Setia, Jawai, dibangun untuk mengenang pecahnya Kerusuhan Sambas 1999. Kenapa disebut Ketupat Berdarah?
Karena konflik itu pecah di masa perayaan Lebaran tahun 1999. Momen yang seharusnya dipenuhi silaturahmi dan kebahagiaan, namun berubah menjadi tragedi kelam yang meninggalkan banyak luka dan kehilangan.
Kerusuhan Sambas 1999 jarang diceritakan. Padahal tragedi itu meninggalkan trauma dan luka mendalam bagi banyak orang yang hidup di masa itu terutama masyarakat Jawai, tempat di mana konflik tersebut bermula.
Sebagai Tionghoa minoritas, tragedi ini juga menjadi pengingat untuk kami bahwa hidup berdampingan perlu saling menghormati, menjaga sikap dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar agar kerukunan tetap terjaga. (*)
Editor : Bambang Harianto