Tragedi Maguindanao, 58 Orang Dibantai dan Dikubur Massal Beserta Mobilnya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Makam para korban dalam Tragedi Maguindanao tahun 2009
Makam para korban dalam Tragedi Maguindanao tahun 2009
grosir-buah-surabaya

Tragedi Maguindanao tahun 2009, saat dinasti politik mengubah bukit sunyi jadi ladang pembantaian paling gila di Asia Tenggara.

Tahun 2009. Provinsi Maguindanao di Filipina, praktis jadi kerajaan pribadi klan Ampatuan. Milisi bersenjata lengkap di tangan, polisi lokal tunduk, dan (katanya) punya bekingan presiden. Klan itu merasa terusik waktu Esmael “Toto” Mangudadatu seorang politisi lokal, nekat maju jadi penantang.

Karena takut dibunuh waktu mengantarkan berkas pendaftaran, Toto bikin keputusan yang gila : mengirim istrinya yang sedang hamil, adik-adiknya, dan puluhan wartawan untuk mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) di sana.

Ya, secara logikanya Toto sih masuk akal : ada banyak perempuan dan 32 wartawan media. Mana ada orang yang tega dan segila itu berani macam-macam di siang bolong. Tapi Klan Ampatuan emang gila.

Pagi 23 November 2009, enam mobil rombongan dicegat sekitar 100 orang bersenjata berat. Pimpinannya bukan preman suruhan, melainkan Andal Ampatuan Jr., putra mahkota sang penguasa wilayah itu sendiri.

Rombongan pengantar berkas pendaftaran akhirnya digiring naik ke perbukitan di Sitio Masalay. Ngerinya, beberapa mobil warga sipil yang apes cuma lewat di belakang konvoi ikut diseret karena pelaku menolak menyisakan saksi hidup.

Tanpa ampun, para korban ini diberondong senapan serbu dari jarak dekat. Perempuan, jurnalis, dan warga sipil yang tak bersalah, dihabisi di tempat.

Kegilaan ini belum selesai. Ekskavator kuning milik Pemerintah langsung bekerja mendorong jasad-jasad itu ke liang raksasa. Mobil-mobil korban dihancurkan dan ditimbun tanah untuk menghapus jejak kejahatan.

Rencana kuburan massal ini gagal tuntas cuma karena satu hal : helikopter patroli militer melintas di atas bukit. Saat aparat tiba, tanahnya masih basah. Roda mobil yang remuk dan bagian tubuh korban masih menyembul dari balik timbunan tanah segar.

Total 58 orang tewas, 32 di antaranya pekerja pers.

Peristiwa ini dicatat dunia sebagai hari paling mematikan bagi jurnalis sepanjang sejarah modern.

Butuh waktu sepuluh tahun persidangan berdarah dan pembunuhan saksi sampai pimpinan klan Ampatuan akhirnya divonis penjara seumur hidup. (*)