Gontor, Shaolin, dan Trimurti

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Trimurti Pendiri Gontor (KH. Imam Zarkasyi, KH. Zainuddin Fananie, KH. Ahmad Sahal)
Trimurti Pendiri Gontor (KH. Imam Zarkasyi, KH. Zainuddin Fananie, KH. Ahmad Sahal)
grosir-buah-surabaya

Kalau umat Islam ingat Pondok Gontor — kini memasuki delapan windu usianya — sebaiknya mereka berterima kasih kepada Departemen Agama, serta "mensyukuri" bahwa dusun lokal pesantren masyhur itu dulu merupakan ng-gon ko-tor.

Nggon itu tempat. Nggon kotor itu tempat maksiat kronis, malima, judi, zinah, maling, dan sebagainya, yang pada zaman modern ini menjadi pemandangan jamak.

Kekotoran kehidupan masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, itu merupakan setting kultural yang memompa "dendam yang baik" sehingga pendirian dan penumbuhan Pesantren Gontor dimotori dengan cita-cita yang seluhur-luhurnya serta dengan "stamina sejarah" yang setinggi-tingginya. 

Sang Trimurti — demikian K.H. Sahal, K.H. Zaenudin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi, the founding fathers pesantren ini menyebut diri mereka — boleh dibilang dengan tekun dan sabar menyelenggarakan suatu transformasi sejarah mina-dlulumati-ila-nnur, dari kegelapan menuju cahaya.

Dari segi fisik saja, jika Anda melihatnya dari atas dengan helikopter, Pesantren Gontor adalah mercu suar yang terang benderang di tengah rerimbun dusun-dusun yang di balik gerumbul-gerumbulnya — dulu — Anda boleh mengintip kemaksiatan. 

Bangunan-bangunan modern, cahaya memancar sebelum ada proyek Listrik Masuk Desa, tampak berkeliaran santri-santri aneh yang berbahasa Inggris dan Arab setiap saat — juga tatkala mengigau atau menjadi tiffosi sepakbola, berkumandang tilawah Quran dan puisi Abu Nawas yang nakal, gegap gempita tepuk tangan ribuan santri mendengar para orator remaja, atau terompet melengking-lengking dan bel-bel berdentang menandai pergantian aktivitas-aktivitas 18 jam nonstop.

Sebuah camp yang ketat, padepokan "Shaolin" dengan "disiplin" gila yang menggelinding total sistemik. Pada awal dan akhir semesteran, sang kiai berpidato 56 jam nonstop hanya dengan diselingi salat dan makan. Disusul tengko, teng komando: saat para pemuka santri di kamar-kamar pemondokan memaparkan juklak dan juknis secara lisan. Tak ada peraturan tertulis. Peraturan harus diproses menjadi bagian kualitas kesadaran, pikiran, dan naluri.

Ini pesantren tak NU tak Muhammadiyah. Para santri digodog dalam atmosfer untuk tumbuh menjadi "perekat umat". Untuk tidak menawar-nawar akidah tapi toleran dalam khilafiah hukum dan aliran. Santri tidak mencium tangan siapa pun, iklim budaya mereka egaliter dan universal. 

Penghormatan tidak pada atasan — dalam konteks hierarki feodalisme — melainkan kepada kesalehan, ilmu, dan perjanjian fungsi. Dalam permainan sepakbola melawan para ustadz, bola tidak harus disodorkan ke kaki ustadz seperti harus membidik bola tenis agar tahu dan mendatangi tempat pak bupati berdiri. Kalau ada oknum guru yang suka ngecing, "boleh"-lah sedikit "balas dendam" di lapangan dengan melakukan sliding tackle yang agak nakal.

Di tengah itu semua, para santri punya hak suara untuk menggagas siapa yang terbaik menjadi kiai, direktur akademis, penyelia muhadarah (latihan lomba ekspresi), atau Qismul Amn, Departemen Keamanan. Para Trimurti almarhum, terutama si bungsu Imam Zarkasyi, yang buku tentangnya sedang dipersiapkan, adalah "oknum-oknum" yang tidak terutama mengader "oknum penerus," melainkan mewariskan sistem.

Tidak berarti bahwa pesantren tak butuh figur kiai. Juga pergeseran dari kepemimpinan personal ke kepemimpinan sistemik atau impersonal bukankah bukti modernitas satu-satunya yang benar dan menjamin. Masyarakat pesantren yang termodern pun tetap lapar simbol dan kharisma. Sistem yang termodern pun tetap lapar simbol dan kharisma. 

Sistem "demokrasi kerakyatan" terapan Gontor itu justru menjaga agar figur dan kharisma kiai yang berperan, tetap atau bisa tampil obyektif dan rasional tanpa kehilangan "magi"-nya.

Pesantren Pabelan, Jawa Tengah, pada tahap sekarang gagal melakukan transformasi semacam itu, sehingga sang kiai, yang semula "berkeliaran" di luar pondok, sekarang kembali jadi "oknum", menjadi nukleus pesantren. Barangkali karena Gontor, bapaknya Pabelan, memang sudah lebih tua, sehingga tajribah, atau eksperimen kepemimpinan impersonalnya tidak prematur.

Kadar gairah pematangan Gontor itu, saya maklumi, bisa sedemikian kental tak hanya karena ng-Gon ko-tor, tetapi juga karena Kiai Zarkasyi pada waktu itu "kalah perang" di Departemen Agama. Tanding konsep melawan Drs. Sigit tentang orientasi kurikulum sekolah-sekolah Islam. Konsep Sigit yang gol, dan diterapkan sampai hari ini.

Kiai Zarkasyi tidak cenderung mencetak "intelektual Islam", melainkan mendidik kader ulama yang berpengetahuan umum. Umum dalam arti ilmu-ilmu aktual dunia modern. Bagi Zarkasyi, belajar fisika, biologi, atau astronomi bukanlah "non-Islam", sepanjang si pelajar menyikapi secara Islam. Di Gontor berlaku 100% pelajaran Islam, 100% pelajaran umum. Islam dan umum tidak karena materinya, tapi karena perlakuan terhadap materi itu. 

Karena itu, seorang mikrobiolog adalah juga seorang ulul-albab atau ulama sepanjang ia meletakkan penghayatan dan pemfungsian ilmunya dalam kerangka tauhid. Setiap pemanfaatan ilmu, metode, dan teknologi untuk kesejahteraan murni manusia adalah tauhid atau penyatuan dengan kehendak Allah.

Namun gagasan Zarkasyi tak laku. Anak-anak sekolah Islam dipusatkan pada pelajaran tarikh Islam, akidah, cara berwudu, memperdebatkan bagaimana salat di pesawat Columbia.... Segmen-segmen itu saja yang dianggap Islam.

Maka, si bungsu Trimurti pulang kampung, bikin camp. "Kami tidak memberimu ilmu, melainkan membekali kalian alat-alat untuk mencari ilmu" — demikian selalu ditekankannya. Ia tidak memberi "baju", melainkan inisiatif untuk mengubah "kapas" menjadi apa saja. Ia "membuka", bukan "menutup" — termasuk keterbukaan transformasi dalam mekanisme kehidupan pesantren mereka sendiri. (*)

4 Agustus 1990

*) Source : Emha Ainun Nadjib