Dante Saksono Harbuwono, Ahli Diabetes Molekuler Pertama Indonesia
Mengelola sistem kesehatan nasional di negara kepulauan berpenduduk ratusan juta jiwa membutuhkan kombinasi antara kepemimpinan taktis dan basis keilmuan yang kuat. Sosok Prof. Dr. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., hadir memenuhi kriteria tersebut.
Dikenal luas sebagai dokter spesialis, peneliti senior, dan akademisi ulung, ia dipercaya mengemban amanah besar di jajaran birokrasi sebagai Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia sejak dilantik pada 23 Desember 2020.
Sebelum masuk ke dalam jajaran pemerintahan, Prof. Dante merupakan pilar penting di lingkungan rumpun ilmu kesehatan Universitas Indonesia. Ia tercatat pernah mengemban berbagai posisi strategis, mulai dari Anggota Tim Dokter Kepresidenan RI, Ketua Divisi Metabolik Endokrin di FKUI-RSCM, Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), hingga Ketua Klaster Metabolic, Vascular, and Aging Research Center di IMERI FKUI.
Latar Belakang: Mengikuti Restu Orang Tua hingga Jatuh Cinta pada Kedokteran
Lahir pada 23 Maret 1973, Dante merupakan putra dari pasangan Drs. R. Suprapto dan Sunarsih. Masa remajanya dihabiskan di daerah satelit ibu kota, di mana ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah atas di Sekolah Dasar (SD) Negeri Tangerang II, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Tangerang II, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Tangerang.
Menariknya, dunia kedokteran bukanlah pilihan pertama Dante saat lulus SMA. Ia awalnya memiliki ketertarikan kuat di bidang teknologi dan bermimpi untuk mengambil Jurusan Informatika di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, demi memenuhi harapan dan restu orang tuanya, ia akhirnya memantapkan diri mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1991.
Meski sempat merasa kurang tertarik di awal-awal masa perkuliahan, seiring berjalannya waktu dan interaksinya yang mendalam dengan dunia klinis, Dante justru makin mencintai dunia medis hingga menjadikannya sebagai jalan pengabdian hidup.
Pendidikan Spesialisasi: Menjadi Pionir Ahli Diabetes Molekuler RI
Setelah lulus sebagai dokter umum, Dante mendapatkan proyek tugas daerah yang disokong oleh Yayasan Habibie. Langkah ini memantapkan jalannya untuk mengambil program pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan resmi menyelesaikannya pada tahun 2004. Selepas itu, ia langsung bergabung dalam Divisi Metabolik Endokrin, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Komitmennya pada pengembangan riset medis membawanya melanglang buana ke luar negeri:
Studi S3 di Jepang (2005–2008): Dante dikirim ke Universitas Yamanashi, Jepang, untuk menempuh gelar Ph.D. Ia berhasil merampungkan program doktor tersebut hanya dalam waktu tiga tahun, sekaligus menobatkan dirinya sebagai ahli diabetes molekuler pertama di Indonesia.
Pendidikan Subspesialis: Sekembalinya ke tanah air, ia melanjutkan pendidikan lanjutan untuk meraih gelar konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes di FKUI.
Pengukuhan Guru Besar (2022): Atas dedikasi ilmiahnya yang tanpa henti, pada 22 Oktober 2022 ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kiprah dan Kehidupan Pribadi
Sebagai salah satu pakar endokrinologi terbaik yang dimiliki bangsa, Prof. Dante sangat aktif membagikan hasil riset dan pengetahuannya. Ia rutin diundang sebagai pembicara kunci dalam berbagai simposium kedokteran, baik di tingkat nasional maupun internasional, guna membahas tata laksana diabetes, obesitas, dan penyakit metabolik terupdate.
Di sela-sela kesibukannya yang padat antara rumah sakit, ruang kuliah, dan meja kementerian, Prof. Dante merupakan seorang kepala keluarga yang hangat. Ia menikah dengan Mutiara Yasmin pada 17 Mei 2003. Dari pernikahan yang harmonis tersebut, mereka dikaruniai dua orang buah hati, yaitu Nicolette Adhaneiss Xaviera Dante dan Naveen Xavier Dante.
Refleksi Masa Depan Kesehatan
Keberadaan Prof. Dante Saksono Harbuwono di jajaran pimpinan Kementerian Kesehatan memberikan angin segar bagi penguatan sistem kesehatan berbasis data dan riset (evidence-based policy). Rekam jejaknya sebagai ilmuwan perintis dan dokter kepresidenan menjadi jaminan mutu dalam merumuskan kebijakan preventif dan kuratif yang presisi untuk menghadapi tantangan penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes di Indonesia. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : Bambang Harianto