Dwi Kuntari Bawa Jamu Deka Indonesia ke Pasar Internasional

avatar Mula Eka P.
  • URL berhasil dicopy
Dwi Kuntari
Dwi Kuntari
grosir-buah-surabaya

Dwi Kuntari asal Muntilan, Kabupaten Magelang ini memilih berhenti menjadi Bidan demi fokus mengembangkan Jamu Deka. Keputusan itu membawanya mengenalkan jamu Indonesia hingga Singapura dan Malaysia.

Sejak kecil, Dwi Kuntari terbiasa lihat neneknya racik jeruk nipis dan kecap manis sebagai obat rumahan. Pengalaman itu tumbuhkan rasa penasaran ke dunia jamu hingga akhirnya jadi passion yang terus ia tekuni.

Setelah lulus di kebidanan, Dwi Kuntari sempat bekerja sebagai bidan dan tenaga kesehatan. Namun di sela pekerjaannya, ia tetap meracik jamu hingga dikenal sebagai "Bidan Jamu". Akhirnya, ia putuskan tinggalkan profesinya demi fokus bangun Jamu Deka.

Saat mendirikan Jamu Deka di tahun 2016, Dwi Kuntari hanya memiliki dua varian produk. la terus bereksperimen hingga kini hadirkan lebih dari 16 varian minuman herbal dengan sentuhan modern agar jamu lebih dekat dengan generasi muda.

Dwi Kuntari gabungkan bahan tradisional dengan wortel, tomat, nanas, lemon, hingga lidah buaya. la juga memberi nama produk yang lebih segar seperti Belovera dan Gulas, sehingga jamu terasa lebih relevan bagi anak muda.

Dwi Kuntari mengikuti pelatihan ILO (International Labour Organization) yang mengubah usahanya. la membangun tim, memperbaiki manajemen, beralih ke kemasan kaca, dan menciptakan lapangan kerja baru dengan praktik bisnis ramah lingkungan.

Berkat inovasi dan konsistensi, Jamu Deka kini memiliki lebih dari 16 produk, melayani berbagai segmen pasar, serta berhasil menjangkau konsumen di Singapura dan Malaysia.

la juga menggandeng perajin jamu di Muntilan sebagai pemasok bahan baku dan racikan karena permintaan terus meningkat. la ingin t. la ingin para perajin ikut bertumbuh bersama usahanya.

Akhirnya Dwi Kuntari menjual jamu, membangun kebun herbal, produksi kompos, dan pembibitan tanaman. selain itu Dwi juga menyediakan wisata edukasi yang menarik bagi pengunjung.

"I used to do everything myself. The training changed my mindset. I realized that to grow, we need a team,” ujar Dwi Kuntari. (*)