Radius Prawiro dari Jualan Rokok di Jalanan hingga Jadi Menteri

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Radius Prawiro
Radius Prawiro
grosir-buah-surabaya

Bagi sebagian orang, nasib masa depan mungkin tampak sudah digariskan oleh keadaan. Namun, kisah hidup Radius Prawiro membuktikan sebaliknya. Siapa yang menyangka jika seorang menteri yang puluhan tahun mengatur miliaran dolar kas negara Indonesia, dulunya adalah seorang bocah penjual rokok di jalanan?

Dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1928 dari keluarga sederhana, Radius merasakan kerasnya hidup sejak dini. Saat menduduki bangku SMP pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, ia harus turun ke jalan untuk menjajakan rokok demi menyambung hidup dan membantu keluarga.

Namun, keterbatasan ekonomi tidak mengubur mimpinya. Berbekal otak yang encer dan tekad baja, Radius berhasil menyelesaikan sekolahnya dan terbang ke Belanda untuk menimba ilmu di Nederlandsche Economische Hogeschool, Rotterdam. Selepas dari Eropa, ia menyempurnakan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Kombinasi antara jiwa patriotik—yang sempat membawanya menjadi perwira militer di masa kemerdekaan—dan keahlian ekonominya membuat karier Radius melesat bak meteor. Presiden Soeharto mempercayainya untuk memegang posisi-posisi paling krusial di Republik ini.

Sepanjang era Orde Baru, ia pernah menduduki jabatan sebagai:

Gubernur Bank Indonesia (1966–1973)

Ketua Dewan Gubernur Bank Dunia (IBRD)

Menteri Perdagangan

Menteri Keuangan

Menko Ekuin (1988–1993)

Saat menjabat sebagai Menteri Keuangan, Radius melahirkan berbagai terobosan besar untuk menyelamatkan dan menstabilkan moneter Indonesia. Ia mereformasi sistem pajak, menghapus sisa anggaran yang tidak efisien, hingga meluncurkan program kerakyatan yang melegenda seperti Kupedes (Kredit Usaha Pedesaan) dan Simpedes (Simpanan Pedesaan) untuk menghidupkan ekonomi wong cilik.

Di balik nama besarnya, Radius tetaplah manusia biasa yang bersahaja. Ia adalah pencinta fotografi, penyuka motor gede yang terpaksa berhenti demi protokoler keamanan negara, dan seorang suami yang gemar berkebun bersama istrinya di masa tua.

Radius Prawiro berpulang pada tahun 2005 karena penyakit jantung, namun warisan ekonominya tetap hidup. Kisah hidup sang begawan ekonomi ini menjadi bukti nyata: tidak peduli seberapa rendah tempatmu memulai, kerja keras dan pendidikan bisa membawamu ke puncak tertinggi untuk mengabdi pada negara. (*)