Kisah Tina Sianturi : Dari Jalanan ke Bangku Sekolah

Reporter : Mula Eka P.
Tina Sianturi dan Aiptu Sabar

Lima bulan yang lalu, sosok kecil bernama Tina Sianturi menggetarkan hati masyarakat Medan. Gadis berusia 12 tahun itu ditemukan menangis meraung-raung di samping jenazah ayahnya, Amin Robert Sianturi, seorang pengemis yang meninggal di Rumah Sakit (RS) Pirngadi Kota Medan.

Tangisan pilu seorang anak yang kehilangan satu-satunya keluarga di dunia ini menjadi pemandangan yang tak mudah dilupakan. Namun takdir berkata lain. Aiptu Sabar Sianturi, seorang Polisi yang memiliki hati mulia, tidak membiarkan Tina terombang-ambing sendirian di jalanan keras Kota Medan.

Baca juga: Pelajar SMKN 1 Poncowati Hilang Misterius

Dengan penuh kasih sayang, Aiptu Sabar Sianturi mengangkat Tina dari kehidupan jalanan yang kejam dan memberikan kesempatan kedua untuk merasakan kehidupan yang lebih baik.

Kini, Tina Sianturi bukan lagi anak jalanan yang menangis di samping jenazah ayahnya. Ia telah bertransformasi menjadi seorang siswi Sekolah Dasar (SD) yang ceria dan bersemangat.

Berkat kebaikan hati Aiptu Sabar, dan dedikasi panti tempatnya diasuh, Tina kini bersekolah di salah satu SD Negeri dan langsung ditempatkan di kelas 3 berdasarkan usia dan kemampuannya.

"Tina sudah langsung jadi kelas 3 di salah satu SD Negeri berdasar umur dan kemampuannya. Dia itu pintar!" ungkap Aiptu Sabar dengan bangga.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun Tina sempat tidak bersekolah, kecerdasan alaminya tidak pernah padam.

Seperti permata yang tertutup debu, bakat dan potensi Tina hanya menunggu waktu yang tepat untuk bersinar.

Sebuah foto sederhana namun penuh makna kemudian dibagikan oleh Aiptu Sabar. Dalam foto ini, Tina tampak mengenakan seragam SD yang rapi, dengan senyuman yang memancarkan kebahagiaan. Kontras yang luar biasa dengan kondisinya 5 bulan yang lalu.

Baca juga: Bocah di Surabaya Hilang Usai Kecebur ke Selokan

Foto ini bukan sekadar dokumentasi, tetapi simbol kemenangan. Kemenangan atas kemiskinan, kemenangan atas ketidakpastian, dan yang terpenting, kemenangan atas keputusasaan. 

Tina kini memiliki sesuatu yang sangat berharga: harapan untuk masa depan yang lebih cerah.

Kisah Tina Sianturi mengajarkan kita bahwa tidak ada yang mustahil ketika ada niat baik dan kepedulian. Seorang anak yang sempat kehilangan segalanya kini memiliki kesempatan untuk mengejar impian melalui pendidikan.

Kebaikan Aiptu Sabar Sianturi, panti asuhan dan Paposma Kota Medan--Organisasi Berbasis Marga Sianturi yang menerima Tina menjadi bagian dirinya-- tidak hanya mengubah hidup seorang anak, tetapi juga menginspirasi kita semua.

Bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang atau kondisi ekonomi, berhak mendapatkan pendidikan dan kesempatan untuk berkembang.

Baca juga: Informasi Orang Hilang dari Desa Kebun Agung

Tina yang kini bersekolah dengan bangga adalah bukti nyata bahwa pendidikan adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan. Setiap lembar buku yang dibacanya, setiap pelajaran yang dipelajarinya, adalah langkah menuju masa depan yang lebih baik.

Melihat Tina yang kini bersekolah dengan seragam SD yang rapi, kita tidak bisa tidak merasa optimis. Anak yang 5 bulan lalu menangis di jalanan kini memiliki impian dan cita-cita. 

Siapa tahu, suatu hari nanti Tina akan menjadi dokter, guru, menteri sosial atau bahkan pemimpin yang bisa mengubah nasib anak-anak lain yang mengalami nasib serupa.

Kisah Tina Sianturi mengingatkan kita bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada harapan. Dan di balik setiap harapan, ada potensi untuk menciptakan perubahan yang luar biasa. (Alfonso Sianturi )

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru