Kisah Abah Guru Sekumpul, Ulama Khos Muda Dipanggil Raja Jin Demi Muktamar NU

Reporter : Redaksi
Abah Guru Sekumpul dan Gus Dur

Abah Guru Sekumpul dan Ulama Khos. Ulama Khos pengertiannya adalah ulama level tertinggi atau jika dalam dunia otomotif dikenal dengan istilah top tier. Tandanya mereka masyhur dan meng-handle jamaah yang sangat besar.

Abah Guru Sekumpul melarang umat Islam Aswaja, untuk su'udzon dengan istilah ulama khos.

Baca juga: Ijazah Abah Guru Sekumpul Penarik Rezeki

"Ulama khos itu disuruh gurunya begitu," kata Abah Guru.

Yang dimaksud guru yakni Rasulullah sendiri yang mengajari baik datang melalui mimpi atau terjaga. Abah Guru sendiri ternyata ulama khos yang paling muda di zaman itu. Yakni setelah sekitar tahun 70-an diakui sebagai syekh sufi, oleh KH Abdul Hamid Pasuruan. Dan Abah, di usia 42 tahun sekitar tahun 1984 termasuk 41 ulama khos yang disuruh tirakat oleh KHR As'ad Syamsul Arifin untuk mengamankan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).

Menjelang Pemilu tahun 1982, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) paling keras mengusung wacana agar NU kembali ke khittah 1926. Dua tahun berikutnya, wacana itu kemudian benar-benar disepakati pada Muktamar NU di Kabupaten Situbondo tahun 1984.

Kembalinya NU pada rel 1926, tidak terlibat dalam politik praktis, tentu saja tidak diinginkan sekaligus tidak disukai sebagian orang. Sehingga, banyak gangguan yang dilancarkan, termasuk dari kalangan para dukun yang mengirim pasukan gaib untuk membubarkan Muktamar itu.

"Jin terkuat Majapahit disuruh mengganggu. Ternyata santri jin para ulama besar tidak bisa mengatasi," ujar Abah Guru terekam.

Kerajaan Jin dari Hadramau atau Yaman pun tak mampu melawan Jin Majapahit. KH M As’ad Situbondo selaku tuan rumah tak ingin muktamar itu diganggu-ganggu. Maka beliau kemudian menghubungi KH M Zaini bin Abdul Ghani sebagaimana cerita Abah Guru, agar mengontak Raja Jin Islam di Abu Dhabi. Sehingga, gangguan gaib dari para jin jahat itu dihadang dari bangsa jin sendiri.

Baca juga: Alasan Guru Sekumpul Menjadikan Nike Ardilla Sebagai Anak Angkat

"Ternyata raja jin tertua di dunia ada di Abu Dhabi," ujar Abah Guru Sekumpul.

Dirinya yang diminta memanggil. Dan akhirnya keok raja jin Majapahit. Keterlibatan Abah Guru dengan Nahdlatul Ulama makin intens pada muktamar NU 1994 (lihat tulisan Hairus Salim: Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah pertemuan).

Beliau diundang oleh KH Abdurrahman Wahid untuk datang pada Muktamar NU tersebut. Namun karena aral melintang (kesehatan) beliau tidak jadi datang. Kendati Abah Guru tidak bisa berhadir, nama beliau (KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani) tercantum sebagai salah satu dari 9 mustasyar (penasehat) PBNU periode 1994-1999.

Dewan penasehat adalah strata tertinggi dalam struktur kepengurusan NU Lebih jauh, NU bukanlah organisasi yang baru dikenal Abah Guru, sebab para guru beliau di Ponpes Darussalam adalah pendiri sekaligus pengurus NU di masanya. Sebut saja, KH Abdul Qadir Hasan atau yang dikenal dengan julukan Guru Tuha. Beliau adalah pendiri sekaligus pemimpin pertama NU di Martapura. Kemudian KH Husin Ali (anak dari Syekh Ali Al Banjari) ditunjuk sebagai katibnya (sekretaris).

Baca juga: Kisah Surutnya Banjir Ketika Abah Guru Sekumpul Hadir di Haulnya Datu Kalampayan

Tidak hanya Guru Tuha dan KH Husin Ali yang mengurus NU, sejumlah nama ulama besar lainnya juga berkecimpung di dalamnya. Sebut saja, KH Salim Maâ'ruf, KH Seman Mulya, KH Salman Jalil, dan didukung para ulama yang menjadi pengajar di Ponpes Darussalam. Bahkan, orang yang menyuruh Guru Tuha menemui Syekh Hasyim Asyâ'ari (menurut penuturan KH Syaifuddin Zuhri, Banjar Indah) adalah guru ulama Banjar saat itu.

Beliau adalah Syekh Kasyful Anwar Al Banjari Pimpinan ketiga Ponpes Darussalam.’ Syekh Kasyful Anwar Al Banjari dengan Syekh Hasyim Asy’ari satu “alumni” yakni sempat menimba ilmu pada ulama di tanah haram. Salah satunya pada Syekh Bakri Satha (pengarang Iâ’anatut Tholibin).

Sementara itu menurut Muhibbin Abah Guru Sekumpul yakni Ahmad Yayak mempertanyakan. Bahwa siapa orangnya di zaman orde baru yang punya akses ke Raja Jin Majapahit. Adakah yang tahu di zaman itu. (*)

Editor : Zainuddin Qodir

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru