KH Muhammad Dahlan, Menteri Agama Kepercayaan Pak Harto

Reporter : Redaksi
KH Muhammad Dahlan

Di balik tradisi megah kompetisi melantunkan ayat suci Al-Qur'an atau Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang rutin digelar di Indonesia hari ini, ada nama besar seorang ulama karismatik yang menjadi motor utamanya. Ia adalah K.H. Muhammad Dahlan.

Lahir di Desa Mandaranrejo, Pasuruan, Jawa Timur, pada 2 Juni 1909 (bertepatan dengan 14 Jumadil Ula 1327 H), putra ketiga dari pasangan Abdul Hamid dan Chamsiyah ini tumbuh di lingkungan pesisir pantai yang kental dengan napas islami. Kelak, ia tumbuh menjadi salah satu ulama fikih paling moderat di tanah air sekaligus menteri yang meletakkan fondasi toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Baca juga: UIII dan Menteri Agama Perkuat Peran Indonesia sebagai Pusat Toleransi

Menimba Ilmu di Makkah hingga Membesarkan NU

Masa muda KH Muhammad Dahlan dihabiskan dengan mengembara mencari ilmu. Bersama kakak sulungnya, ia berlayar ke kota suci Makkah dan dengan tekun mengikuti kelompok-kelompok pengajian di sekitar halaman Masjidil Haram. Di sanalah cakrawala keilmuannya terbuka lebar, tidak hanya mendalami ilmu agama tetapi juga berinteraksi dengan dunia luar secara umum. Pengalaman internasional inilah yang menjadi bekal berharganya dalam membangun bangsa.

Kembali ke tanah air, Kiai Dahlan langsung terjun ke gelanggang pergerakan pada tahun 1930. Ia merupakan tokoh kunci yang merintis terbentuknya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) cabang Bangil dan sekaligus didaulat menjadi ketuanya. Lima tahun berselang, reputasinya yang kian moncer membawanya terpilih menjadi Ketua NU cabang Pasuruan.

Menteri Agama Pembawa Pesan Damai dan Toleransi

Memasuki era pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto memberikan amanah besar kepada Kiai Dahlan untuk menjabat sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Pembangunan I (1967–1971). Di kursi menteri inilah, ia diuji oleh berbagai dinamika sosial-keagamaan yang rentan gesekan.

Merespons potensi konflik horizontal kala itu, Kiai Dahlan memelopori Musyawarah Antarumat Beragama yang monumental pada 30 November 1967. Dalam pertemuan yang ia pimpin tersebut, ia mengajukan pokok-pokok rencana persetujuan yang sangat progresif.

Kiai Dahlan menegaskan bahwa propaganda atau dakwah agama tidak boleh dilakukan dengan tujuan menaikkan jumlah pengikut atau memindahkan iman orang lain, melainkan harus dilaksanakan untuk memperdalam pemahaman dan pengamalan agama masing-masing pemeluknya. Formula ini terbukti ampuh meredam riak-riak intoleransi di masa-masa awal transisi politik negara.

Membidani MTQ Nasional, PTIQ, dan Masjid Istiqlal

Jejak emas pengabdian Kiai Dahlan di Kementerian Agama sangat masif. Bersama pakar hukum Islam Prof. KH. Ibrahim Hosen, ia memprakarsai penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional untuk pertama kalinya yang digelar di Ujungpandang (Makassar).

Tak berhenti di situ, KH Muhammad Dahlan ingin agar kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur'an dilembagakan secara akademis. Maka, pada 23 Januari 1970, bersama KH. Zaini Miftah, KH. Ali Masyhar, dan tokoh pemikir Prof. Dr. HA Mukti Ali, ia membentuk Yayasan Ihya Ulumuddin dan mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ)—sebuah institusi tinggi pertama di dunia yang secara khusus mengajarkan seni baca dan menghafal Al-Qur'an. Di saat yang sama, ia juga terus mengawal dan melanjutkan proyek raksasa pembangunan Masjid Istiqlal di Jakarta.

Sebagai seorang ulama, kedalaman ilmu fikih KH Muhammad Dahlan sangat menonjol karena ditunjang oleh koleksi kitab-kitab klasik yang sangat melimpah. Menariknya, ia dikenal sebagai sosok yang sangat moderat. Kiai Dahlan tidak kaku atau fanatik buta pada mazhab tertentu dalam menetapkan hukum; ia selalu terbuka menerima perbedaan pendapat para imam mazhab selama argumen yang diajukan dinilai kuat dan maslahat bagi umat.

Wafat Bersama Dalail Khairat

Ada satu kebiasaan spiritual yang tidak pernah ditinggalkan oleh KH Muhammad Dahlan sejak masih menetap di Pasuruan hingga pindah ke ibu kota, yaitu membaca Kitab Dalail Khairat (kitab selawat kepada Nabi Muhammad SAW). Ritual ini rutin ia amalkan selepas salat Subuh hingga menjelang Dhuha, atau sesudah salat Maghrib hingga waktu Isya tiba.

Hingga pada 1 Februari 1977, tak lama setelah menuntaskan bacaan kitab selawat yang rutin dibacanya setiap hari, KH Muhammad Dahlan mengembuskan napas terakhirnya dan kembali ke Rahmatullah.

Sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan negara atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam menjaga kerukunan umat serta membangun peradaban Islam di tanah air, jenazahnya dimakamkan dengan upacara resmi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Warisannya berupa gema lantunan ayat suci di panggung MTQ akan selalu hidup di hati umat Islam Indonesia. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru